UNKNOWN
All bukan tipe orang yang suka jalan-jalan tapi ia suka berkumpul bersama teman-temannya. Sehingga ketika ia diajak untuk berwisata bersama ia tidak bisa untuk menolak. Ia senang kemana pun asalkan bersama teman-temannya. Karena jika pun pergi sendiri ia juga tidak akan diizinkan. Ia hanya boleh pergi jika ada temannya dan yang dikenal oleh orang tuanya.
Kemudian, minggu ini, mereka berencana untuk liburan ke Mojokerto. Mereka juga akan menginap selama beberapa hari. Mungkin sekitar 2-3 hari. Dan dalam waktu itu, sebisa mungkin mereka akan menjajaki semua tempat wisata yang ada di sana.
Hari pertama diisi dengan jalan-jalan singkat di daerah sekitar penginapan. Dan di hari pertama itu tidak ada yang cukup menarik bagi All. Akan tetapi pada hari kedua entah kenapa ia merasa berbeda. Ada sesuatu yang memanggilnya akan tetapi All tidak tahu itu apa. Ia bahkan baru pertama kalinya ke sana tetapi rasanya ia sudah mengenal tempat itu.
"All!" tegur Yuni karena All hanya bengong.
"Hemm... Apa?" tanya All heran.
"Kamu melamun. Awas jangan melamun, ini tempat keramat loh!" goda Yuni sambil terkekeh.
All hanya memandangnya heran. Dan segera menyusul Yani karena ke-empat temannya yang lain sudah pergi duluan.
Akan tetapi, kembali lagi All terhenti. Ia pun menoleh dan mencari sumber suara. Sedari tadi ia mendengar suara riuh di telinganya tetapi ia belum menemukan siapa pelakunya.
Siapa yang bicara? tanyanya. All mengedarkan pandangannya ke situs purbakala ini. Ia lupa apa namanya tapi tempatnya tidak terlalu serem juga. Malah amat terang. Berada di tengah-tengah pemukiman dan dataran luas.
Tidak menemukan apa-apa akhirnya All kembali melanjutkan langkah. Ia tidak ingin terpisah dari teman-temannya dan terus mengikutinya. Hingga kemudian terdengar ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa?" tanyanya yang sedang duduk-duduk di bawah pohon. Udara begitu terik hari itu jadi mereka memutuskan untuk duduk sebentar.
"Apa?" tanya Hisam balik.
"Kamu ngomong sesuatu?" tanya All.
Hisam yang ditanya pun bingung. Ia pikir All ingin mengajaknya bicara. "Tidak!" jawabnya heran.
"Oh, yasudah. Aku pikir kamu ngomong sesuatu!" All kembali melihat ke depan.
Hisam yang melihat tingkah All pun jadi semakin heran. Aku bahkan baru duduk, katanya dalam hati.
"Ayo balik! Laper!" ucap Hans menghampiri All dan Hisam. Di belakangnya ada Yuni, Vera, dan Rio.
"Yok, All. Kamu sepertinya sudah capek" sambung Vera.
All hanya mengangguk.
"Mau makan apa nih?" tanya Hisam sambil bangkit.
Dan setelah itu mereka pun pergi meninggalkan situs. Mereka sudah berkeliling 2 jam lebih setelah sebelumnya ke Vihara.
"Apa aja deh!" usul Yuni.
"Ayam kriuk yok!" Vera usul.
"Kok ayam terus sih!" sahut Rio. "Cari yang lain aja lah!"
"Kita lihat saja nanti, okey? Kalau ada yang lain ya alhamdulillah tapi kalau ga ada ya..." Hans menimpali.
"All, kamu mau apa?" tanya Yuni.
"Apa aja!" sahut All pendek. Ia mengekori mereka berdua.
"Yah. All terlalu menerima. Sekali-kali kek protes!" sahut Vera.
"Tentu saja. Itu lebih barik dari pada kamu! Tukang protes!" olok Hisam dan ia langsung kena timpuk Vera. Tapi ia beruntung. Sebelum Vera mengenainya ia sudah mengelak.
"Eh, awas ya!" kejar Vera.
"Meraka tuh, tak pernah bisa diam! Jadian beneran mampus deh!" gumam Yuni.
Yang lainnya pun tertawa mendengarnya. Sementara All hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Temannya yang dua itu memang begitu. Tanpa mereka suasana pasti sepi.
Kemudian tiba-tiba saja ada suara yang memanggil nama All.
"Apa?" sahut All dan otomatis ia terheran-heran karena ia tak menemukan siapapun di belakangnya. Ia kira ada temannya di belakang tapi ternyata tiada siapapun.
"Siapa ya?" tanyanya sendiri. All pun memutuskan untuk berbalik dan pergi.
Akan tetapi sebelum kakinya melangkah tiba-tiba saja ia disergap oleh aneka rasa dan bayangan di pikirannya. Tubuh All membeku di tempat seiring bayangan-bayangan asing bermunculan di kepalanya. Gambar asing seperti kehidupan zaman dulu. Disusul juga dengan bayangan gadis muda cantik yang berpakaian indah, anggun, diikuti oleh dayang-dayang di belakangnya.
Teman-teman All yang menyari All tertinggal pun memanggilnya untuk segera menyusul. Akan tetapi melihat keanehan pada All membuat mereka keheranan hingga akhirnya Hans memutuskan untuk kembali.
"All, ayo!" ajaknya sambil menepuk bahu. Dan seketika itu juga tubuh All jatuh ke tanah.
"All?" ucap Hans terkejut.
"All!"
"All!" panggil temannya yang lain terkejut.
"All, ada apa? Bangun!" Hans dengan panik mencoba membangunkan All. Ia menepuk-nepuk pipi All hingga teman-temannya yang lain datang dan mengkerumuni.
"All..." ucap mereka panik.
Sementara kelima teman All mencoba membangunkannya, gambar-gambar yang bermunculan di kepala All jadi semakin banyak dan berkelanjutan.
"All.."