Rabu, 14 Oktober 2015

Cerpen

Mimpi Yang Merindu

Di saat gelap menyelimuti, terasa tubuh mulai letih. Tangan, kaki, maupun pikiran terasa pegal dan ingin untuk beristirahat. Begitu pun dengan tubuhku ini. Ia merasa lelah. Setiap bagian telah lelah hingga terasa sakit apabila dicoba untuk menggerakkannya. Bahkan, karena nyeri tubuhku sulit untuk aku perintahkan agar tertidur. Bukankah tidur merupakan istirahat yang paling efektif? Ya. Tentu saja. Tetapi, kenapa aku masih terjaga?

"Aku harus tidur!"
Itulah tiga kata yang aku ucapkan setiap kali lelah dan gelap menghampiriku.
"Aku harus tidur." Kataku pada tanganku.
Ku letakkan kedua tanganku di samping tubuhku dengan senyaman mungkin. 
"Aku harus tidur." Kataku lagi. Dan kali ini, aku tujukan kepada kakiku.
Kakiku pun menurut dan mengambil posisi yang menurutnya nyaman.
"Aku harus tidur." Kataku lagi. Dan kali ini, aku tujukan kepada kedua mataku.
Di antara kesemua anggota tubuhku, dialah yang paling sukar untuk disuruh memejamkan mata. Setiap kali dipejamkan, tidak lama setelah itu ia akan kembali terbuka lagi. Aku tahu betul kenapa dia begitu. Itu karena dia selalu ingin melihat. Segalanya. Ia memang selalu ingin tahu.
Lalu, yang terakhir.
"Aku harus tidur." Kataku pada pikiranku.
Aku, selain memiliki masalah dengan beberapa bagian tubuhku yang sukar untuk di ajak tidur, aku juga kesulitan untuk meminta pikiranku untuk berhenti berpikir dan memberi kesempatan otakku untuk beristirahat. Aku benar-benar lelah dan ingin otakku untuk berhenti bekerja. Kalau pikiranku dan otakku terus bekerja, bagaimana caraku bisa tidur? Tentu saja, jalan satu-satunya supaya aku bisa tidur adalah dengan mengosongkan pikiranku agar aku bisa tidur dengan nyenyak.

Setelah beberapa waktu lamanya, aku mengulang-ngulang kalimat 'Aku harus tidur di pikiranku, akhirnya aku bisa juga untuk tidur. Aku tidur. Ini meyenangkan. Aku senang akhirnya aku bisa tidur. Aku senang karena aku berhasil menyakinkan tubuhku dan tentu saja pikiranku, juga. Dan kini, aku akan bisa memasuki 'Dunia Lain' yang benar-benar menakjubkan. Benar-benar membahagiakan. Selalu menjadi apa yang di mau. Dan, dunia yang penuh dengan sejuta harapan. Mungkin, lebih banyak dari sejuta karena penduduk Indonesia ada begitu banyak. Dan 'Dunia Lain' itu adalah Dunia Mimpi.
^^^
...
Bermimpilah maka kau akan...
Orang yang tidak memiliki mimpi, ia seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup.
Kejarlah mimpimu walau...
Bermimpilah setinggi langit.
...

 Ada begitu banyak kata-kata bijak yang 'menyarankan', mungkin lebih tepatnya 'memerintah', kita untuk bermimpi. Bahkan ada yang mengatakan kalau kita harus bermimpi yang banyak. Akan tetapi, itu sulit. Dan sulit bagiku untuk memiliki banyak mimpi. Mimpi ini, bukan mimpi sembarang mimpi. Bukan mimpi dalam tidur. Mimpi ini hanya satu tetapi keinginanku ada banyak.

Mimpi ini aku dapatkan setelah aku membaca dan merenungkan kata-kata yang berisi soal mimpi. Mimpi ini tidak aku dapatkan dengan mudah, langsung, tetapi memerlukan waktu yang lama untuk diputuskan kalau ia adalah mimpiku. Mimpiku ini bukan mimpi yang aku dapatkan ketika aku tertidur. Melainkan mimpi yang aku peroleh ketika panas, peluh, dan lelah mengkroyok tubuhku. Benar-benar mimpiku yang ku dapat dengan susah payah. Selain itu, mimpiku ini tidak akan ada artinya lagi  jika aku tertidur karena jika hal itu terjadi maka aku akan berhenti memikirkannya. Tidak ada artinya lagi.

Mimpi. Mimpi. Mimpi. Itu yang selalu aku katakan pada diriku. Itu mimpiku. Mimpi yang berharga. Yang tidak akan hilang ataupun terlupa ketika aku membuka mata. Meski sempat terlupa namun selamanya akan tertanam dalam pikiran dan ragaku. Bagian-bagian tubuhku bekerja demi mimpiku itu. Kaki berjalan, untuk mendekatkan diriku padanya. Tangan membuat, dan pikiran yang sibuk merancang. Namun, kenapa terasa ada yang salah?

Bekerjalah dengan kerasa. Usaha yang rajin untuk mewujudkan mimpi.
Aku mengulang-ngulang kalimat itu dalam hati dan pikiranku.

Aku ingin mewujudkan mimpiku. Aku ingin menunjukkan mimpiku pada orang lain supaya tidak dianggap hanya omong kosong. Aku ingin mimpiku itu menatapku dengan bangga. Kata-kata bijak itu ternyata tidak cukup membantuku. Aku telah meminta tubuhku untuk bekerja dan berusaha dengan keras tetapi kenapa masih tidak  bisa? Kenapa mimpi itu masih menjadi mimpi? Kapan mimpi itu akan menjadi nyata? Kenapa tidak ada kata-kata yang bijak atau kata-kata lain yang bisa membantu mimpiku untuk menjadi nyata supaya ia bisa menyapaku dengan bangga? Dan, satu pertanyaan lagi. Kenapa tidak ada cara yang bisa merubah mimpi untuk menjadi nyata?

Aku bertanya soal 'cara' bukan 'penyemangat' untuk bermimpi. Kenapa pula orang-orang itu hanya menyuruh untuk bermimpi tetapi tidak dengan menunjukkan cara untuk menuju kepada mimpi tersebut? Aku tersesat karena tidak tahu arah untuk menuju ke mimpi. Itu yang sering aku ucapkan karena aku sering bertemu dengannya. Aku tersesat di jalan yang tidak ku kenal karena aku tidak tahu dimana aku berada, tidak tahu arah, berhenti di persimpangan jalan karena tidak tahu jalan mana yang akan menuju kepada mimpiku. Kenapa? Sekali lagi. Kenapa?

Aku kesal karena selalu tersesat. Kasihan aku. Tetapi, mimpi merasa sedih karena rindu kenyataan. Ia menangis. Ia sungguh-sungguh merindukan kenyataan. Menyedihkan sekali mimpi. Ia merindukan kenyataan tetapi kenyataan tidak pernah menghampirinya. Bahkan kenyataan tidak pernah menyapanya, hanya menatapnya dari kejauhan. Memberitahu petunjuk untuk menuju padanya pun tidak. Benar-benar keterlaluan kenyataan itu. Mimpi merasa sedih tetapi ia masih akan terus berusaha. Kasihan mimpi. Ia sungguh-sungguh merindukan kenyataan dan ingin untuk bertemu dengannnya tetapi belum tentu kenyataan mau untuk bertemu dengannya.

#al_kyu

Rabu, 16 September 2015

Bintang Episode 4


Keyakinan

Seperti biasa, Si gadis duduk dibangku pemain menunggu latihan usai. Ia baru saja kembali dari membeli minuman dan menyiapkan peralatan untuk besok. Sekarang ia tinggal duduk manis sambil menunggu latihan selesai. Setelah itu, ia akan membagikan minuman pada semuanya.
Si gadis menulis sesuatu di buku diarinya. Tiba-tiba darah segar mengalir tanpa ia sadari hingga jatuh menetes ke buku diarinya. Si gadis terkejut melihatnya. Ia langsung menutupi hidungnya dengan telapak tangan kirinya. Bolpoint-nya, ia lepaskan dan mengambil tisu dari dalam tasnya. Dengan segera ia mengelap darah dari hidungnya. Namun, darahnya tak kunjung berhenti.
Si cowok yang berada di tengah lapangan tanpa sengaja melihat ke arah Si gadis. Ia menghentikan langkahnya untuk mengejar bola. Ia sejenak terpaku melihat Si gadis yang terlihat agak aneh. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Latihan cukup untuk hari ini! Simpan tenaga untuk besok!" kata Si cowok tanpa menoleh ke arah teman-temannya.
Ia melangkah ke arah Si gadis tanpa mempedulikan teman-temannya yang berjatuhan ke lantai. Latihan cukup melelahkan dihari terakhir kiranya.
Si gadis segera menyelesaikannya begitu terdengar suara gesekan sepatu dengan lantai. Ia segera menyembunyikan tisu yang telah ia gunakan untuk mengelap darahnya dan menutup buku diarinya.
"Umm.. sudah selesai?" sapa Si gadis diiringi senyum.
Si cowok tak membalas dan duduk disamping Si gadis. Si gadis mengambil sebotol minuman dari kantung plastik dan diberikannya pada Si cowok.
"Aku akan memberikannya pada yang lain!" kata Si gadis.
Sebelum beranjak, Si gadis tersenyum sekilas pada Si cowok. Tapi, senyum itu terlihat tak seperti biasanya. Mata sipitnya tak terlihat bersinar lagi. Bibirnya terlihat bergetar. Apa mungkin kau kelelahan? tanya Si cowok pada diri sendiri. Pandangannya tak lepas dari Si gadis.
+++
Pertandingan akan di mulai pada jam 9 pagi. Sejak jam 5 Si gadis sudah bangun dan bersiap-siap mau berangkat. Semua keperluan tim basket sudah ia siapkan dan ia letakkan di tempat penyimpanan khusus tim basket untuk menghindari apabila terjadi ketinggalan atau kelupaan. Ia akan berangkat ke sekolah dulu untuk mengambilnya sebelum ke tempat pertandingan.
Ia menuruni tangga satu persatu dari atas sampai bawah. Ia tak sempat untuk sarapan terlebih dahulu. Ia harus sampai di sekolah lebih dulu sebelum semuanya.
"Tak sempat, Bi! Nanti aku akan cari disana saja, sarapannya!" kata Si gadis ketika disuruh sarapan oleh Si bibi.
Ketika Si gadis akan membuka pintu, kepalanya terasa berat. Darah mengalir lagi dari hidungnya. Bumi bergoyang. Seketika pijakannya goyah. Si gadis jatuh tergeletak di lantai.
+++
Di tempat lain, sebentar lagi pertandingan akan dimulai. Semua gelisah, sang manajer tak kunjung datang. Terlebih Si cowok. Ia duduk tenang di bangku pemain, tapi pikirannya menglana kemana-mana. Terlihat santai. Tapi ia gelisah. Si gadis tak kunjung datang. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Si gadis tapi tak ada jawaban. Ponsel ia bolak-balik di telapak tangannya.
"Biyan, kau sudah menghubunginya?" tanya Melky. Ia nampak bingung.
"Sudah!" jawab Si cowok datar. Pikirannya tak tenang.
"Mungkin sebentar lagi, Bintang datang!" kak Roi menenangkan.
"Semoga saja!" sahut Joe berharap.
Semua panik. Melky dan Joe bolak-balik kayak setrika. Sedang kak Roi, kadang berdiri, lalu duduk. Soni mencoba bersikap tenang seperti Si cowok.
Si cowok memanggil-manggil nama Si gadis dipikirannya. Ia memejamkan matanya dan membayangkan wajah Si gadis. Dimana kau sekarang? kata Si cowok lirih.
"Teman-teman!"
Sebuah suara mengejutkan. Mereka senang mendengar suara itu. Sontak semua berbalik dan pandangan tertuju pada siapa yang datang.
Si cowok membuka mata dan melihat siapa yang datang. Bukan seseorang yang ia harapkan. Kemana Si gadis sebenarnya? Semangatnya luruh seketika.
"Sandra!" kata Soni terkejut.
+++
Waktu adalah uang bagi sebagian orang. Tapi, yang lain mengatakan kalau waktu adalah pedang. Yang siap siaga, melukai siapa saja yang mengkhianatinya. Namun, agaknya kini waktulah yang telah mengkhianati Si gadis. Waktu tak mau mendukungnya. Waktu tak mengizinkannya datang ke pertandingan. Dan waktu membiarkannya terbaring di tempat tidur seharian.
Waktu juga tak mengizinkan dokter untuk datang memeriksanya. Dokter pergi keluar kota, sehingga tak bisa datang untuk memeriksanya. Sedang, waktu terus berjalan meninggalkan Si gadis. Waktu terus berjalan tanpa henti, tanpa peduli, dan meninggalkan Si gadis yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
Kringg.
Telepon rumah berdering. Si bibi jalan tergopoh-gopoh menghampiri telepon yang terus meraung.
"Halo.." kata Si bibi setelah meletakkan gagang telepon di telinganya.
"Iya, Dok. Non Bintang belum sadar sejak pagi. Cepat datang, Dok!" kata Si bibi terdengar panik.
Hatinya sedikit lega menerima telepon itu. Si bibi segera meletakkan gagang teleponnya kembali setelah orang yang diseberang telah mengakhiri pembicaraannya. Si bibi segera beranjak dari tempatnya menuju ke kamar Si gadis.
+++
Peluh merembes keluar melalui pori-pori kulit Si gadis. Binar mata Si gadis tak terlihat lagi. Bibirnya yang selalu mengulam senyum kini terkatup rapat. Senyumnya musnah karena ketidak berdayaannya.
Tak ada badai dan tak ada hujan. Mata Si gadis tiba-tiba terbuka lebar. Ia langsung terbangun dari tidurnya. Ingatan akan tanggungjawabnya menghampiri. Sontak ia berdiri. Pijakannya terasa goyah tapi ia berusaha untuk berdiri dengan tegap. Ia berjalan merapat ke meja belajarnya dan meraih tasnya yang berada diatas meja. Meski tubuh terasa berat, ia tetap memaksakan diri untuk berjalan, walau pelan.
Pintu terbuka. Si bibi muncul dari balik pintu. Si bibi terkejut mendapati Si gadis berjalan mendekati pintu. Segera Si bibi menghampiri Si gadis dan memeganginya. Si bibi tak mengerti apa yang telah terjadi. Kenapa Si gadis mau pergi disaat kondisinya seperti ini. Si bibi mencoba mencegah tapi ia kalah dengan pendirian Si gadis. Si gadis terus berjalan keluar. Ia mengatakan kalau ia baik-baik saja. Tapi ia terlihat jauh dari apa yang disebut baik.
"Sebentar lagi dokter tiba. Jangan pergi dalam keadaan begini!" cegah Si bibi. Suaranya terdengar khawatir.
"Aku sudah berjanji. Aku.. baik-baik saja!" kata Si gadis menghibur begitu ia masuk ke taksi. Suaranya terdengar lesu.
Si bibi mengikuti mobil taksi yang ditumpangi Si gadis dengan pandangannya. Serta diiringi oleh perasaan khawatir pada Si gadis. Si bibi tahu pasti seperti apa Si gadis yang diasuhnya itu. Sejak kecil ia yang merawatnya setelah kematian ibunya. Kalau sudah begitu, tak bisa untuk dirubah lagi keputusannya itu. Si bibi hanya berharap tak terjadi apa-apa pada Si gadis.
+++
Si gadis berjalan menuju ke lapangan basket tempat diadakannya pertandingan. Begitu sampai di pintu masuk, pandangannya agak kabur. Ia merapat ke dinding disampingnya. Ia tersembunyi dari balik bayangan gelap bulan. Beberapa saat lamanya ia berada disitu.
Terdengar langkah ringan mendekat dari arah dalam. Terlalu jauh. Sehingga Si gadis tak bisa mengenali siapa yang berjalan mendekat. Terlebih lagi, cahaya yang kurang. Si gadis berdiri dengan tegap dan mulai melangkah lagi. Si gadis baru melangkah sekali tapi ia sudah menghentikan langkahnya. Seseorang yang diseberang juga demikian. Ia menghentikan langkahnya begitu agak dekat dengan Si gadis.
Apa yang ia yakini benar-benar telah terjadi. Si gadis telah menepati janjinya. Si cowok bahagia melihat Si gadis kini berdiri didepannya. Tak sia-sia ia menunggu selama itu. Seseorang yang ia tunggu kini telah datang.
Si gadis berdiri terpaku. Tepat didepannya, Si cowok menatapnya dengan teduh. Ia bahagia melihat tatapan itu. Sekilas ia melihat senyum Si cowok. Baru pertama kalinya ia melihat senyum Si cowok. Namun seolah itu bukan suatu hal besar yang pernah ia rasakan, yang membuat hatinya berbunga. Tapi malah terasa pahit, ia rasa. Ia telah gagal. Ia menjadikan seluruh tim hancur, tapi ia malah menerima hadiah senyum dari Si cowok. Si gadis menundukkan kepala. Rasanya tak karuan. Ia merasa tak berguna.
"Maaf... aku terlambat!" kata Si gadis lirih. Matanya berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Si cowok.
"Semua... sudah berakhir!" kata Si cowok datar. Ia melangkahkan kakinya hingga melewati Si gadis.
"Maaf, aku telah mengecewakanmu! Aku tak bisa memenuhi harapan kalian. Aku.. merusak semuanya. Aku..." tangis Si gadis tumpah. Air mata terus bercucuran. Si cowok menghentikan langkahnya.
Si gadis tetap bergeming. Air matanya terus menetes menuruni pipinya. Membasahi lesung pipinya. Bibirnya bergetar.
"Maafkan aku!" ulangnya lagi tanpa berbalik menghadap Si cowok. Ia masih menunduk.
Si cowok berbalik dan menghampirinya. Ia memutar tubuh Si gadis dan mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tersenyum lalu mengusap air mata Si gadis dengan kedua ujung jari telapak tangannya.
"Jangan bersedih! Semua berjalan lancar. Aku yakin kau akan datang. Kau pasti punya alasan untuk ini!" kata Si cowok terdengar menghibur.
Mata coklatnya menatap tajam mata Si gadis. Si gadis tetap meneteskan air matanya. Ia melepas pegangan Si cowok dari kepalanya. Pandangannya berpaling dari Si cowok. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia begitu disaat yang penting. Ia menyalahkan dirinya yang tak bisa melakukan tanggungjawabnya dengan baik. Ia merasa tak berguna bagi semuanya.
Seseorang menyaksikan itu dari dalam. Sandra masih disana. Ia menunggu Si cowok dan berharap ia bisa pulang bareng Si cowok. Tapi keinginannya telah kandas ketika Si gadis datang. Terlebih setelah melihat apa yang telah terjadi. Hatinya hancur. Ia tambah benci pada Si gadis yang merebut momennya. Mengambil kesempatannya.
Ia melihat kedekatan Si cowok pada Si gadis, ia jadi iri padanya. Si cowok telah melupakan keberadaannya. Mereka meninggalkannya seolah ia tak pernah ada. Beberapa waktu lamanya ia menunggu Si cowok tapi kini Si cowok pergi dengan orang lain. Si cowok tak mau melihatnya barang satu detik, ia telah salah menilainya.
"Tidak!" katanya.
Ia bersemangat kembali. Tak tahu apa yang tengah dipikirkannya kini.
+++

Bintang Episode 3


Sang Manager

Si gadis duduk dengan tenang. Pandangan matanya menari-nari, melejit lincah, mengikuti gerak lincah Si cowok. Ia tak pernah bosan melihat permainan basket. Terlebih lagi melihat permainan Si cowok. Sesekali ia teriak memberikan semangat pada Si cowok. Di sampingnya ada dua buah kantung plastik penuh berisi minuman. Ia mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu di halaman kosong dari bukunya.
"Fuh...." kak Roi menghempaskan tubuhnya di samping Si gadis. Nafasnya ngos-ngosan. Peluh menetes. Si gadis menoleh dan tersenyum padanya. Ia telah menutup buku diarinya.
Kak Roi memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain basket. Si cowok baru saja memasukkan bola ke keranjang. Kulitnya terlihat mengkilap karena keringat.
"Hah, selalu saja dia yang mencetak poin!" desah kak Roi. Ia mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah kena keringat.
Si gadis hanya tersenyum menanggapi. Ia tak melihat perubahan kak Roi yang kesal. Ia malah asyik memperhatikan Si cowok. Kak Roi terus ngeracau kesal karena merasa kalah dengan Si cowok. Si gadis tak menghiraukannya.
Kak Roi menoleh ke arah Si gadis. Wajahnya menatap lurus ke depan. Lesung pipinya terlihat jelas. Bibirnya terus menyulam senyum. Kak Roi kecewa, ternyata apa yang ia katakan tak ada satu pun yang didengarkan oleh Si gadis.
"Hah... Kau tak bosan apa, melihatnya terus?" kata kak Roi terdengar kesal.
Si gadis terkejut. Ia menunduk malu mendengar perkataan kak Roi.
"Kak Roi, apa-an sih?" kata Si gadis tetap menunduk.
Ia meraih kantung plastik di sampingnya setelah meletakkan buku diarinya di bangku tempatnya duduk.
"Mau tidak? Kalau tidak, akan aku bawa pergi!" Si gadis bangun sambil membawa kantung plastiknya.
"Hey, kau tak mau berbagi denganku?" kak Roi kesal.
"Habisnya, kak Roi, sih. Ambil sendiri!" Si gadis menyodorkan kantong plastiknya.
"Dua, ya?"
"Enak, aja! Ngrampok, apa minta sih?" Si gadis menarik kantungnya.
"Iya-iya. Gitu aja!" cengengesan. Gingsulnya terlihat. Ia mengambil sebotol.
Si gadis masih agak kesal karenanya. Ia meninggalkan kak Roi sendirian di bangku pemain. Ia menuju ke arah Si cowok dan pemain lain yang tengah beristirahat di tengah lapangan. Ada yang duduk diam, ada yang mengibas-ngibaskan pakaiannya, dan ada pula yang tiduran telentang. Mereka sudah lelah berlatih. Si gadis dengan langkah ringan menghampiri mereka.
"Ini minumannya! Kalian pasti lelah!" kata Si gadis sambil memberikan minuman pada semuanya. Semua menyambutnya dengan gembira.
"Wah... enak nih! Ada yang nyiapin minuman. Kalau begini terus, aku jadi betah berlama-lama latihan!" cerocos Melky, lalu tersenyum. Pandangan matanya mengarah ke tempat Si gadis dan Si cowok gantian.
"Hemm... kenapa tak jadi manajer kita aja? Kan seru tuh!" sahut Joe sebelum menengguk minumnya.
Si gadis tak menghiraukannya. Hingga sampailah ia pada Si cowok dan memberikan minuman padanya. Si gadis memberikannya sambil menyungging senyum dibibirnya. Si cowok tak mengatakan apa-apa pada Si gadis. Ia langsung menengguk minumnya. Sedang Si gadis, kembali duduk di bangku pemain. Kak Roi masih di situ.
"Bagaimana menurutmu, Biyan?" kata Joe.
"Iya, Biyan. Jadikan saja dia manajer kita, yang nyiapin semua keperluan kita! Lagipula kan, kita akan jauh lebih sibuk dari biasanya karena turnamen nanti!" tambah Melky.
"Ah, jangan! Nanti ngerepotin dia, lagi. Kasihan, dia!" sahut Soni. Lalu menengguk habis minumnya.
"Tapi, manajer itu penting! Kenapa tak coba kau pikirkan dulu, Biyan? Kau tak akan susah karena akan ada yang membantumu!" kata Joe menyakinkan.
Si cowok berdiri dan membawa botol minumannya yang sudah tak ada isinya lagi. Ia meninggalkan teman-temannya yag masih istirahat.
"Terserahlah!" kata Si cowok begitu agak jauh dari mereka. Mereka bisa mendengarnya dengan jelas meski Si cowok berkata dengan tidak jelas.
"Tanyakan padanya, mau apa tidak?" teriak Joe.
Si cowok tak menyahutnya. Ia meneruskan langkahnya. Di hatinya bersemi perasaan bahagia. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Ia tersenyum simpul seraya meletakkan tas di bahunya. Ia melangkah menuju ruang ganti di ikuti oleh yang lainnya.
+++
Hari cukup cerah tuk di lewati meski berawan merah. Simpang siur kendaraan lewat dijalan. Sementara itu, Si gadis dan Si cowok tengah berjalan bersama menyusuri jalan di trotoar. Di trotoar, sesak dipadati orang-orang yang baru pulang dari kerja sehingga Si gadis dan Si cowok harus mencari celah untuk melanjutkan langkah. Walau deru mesin kendaraan cukup mempekikkan telinga tetapi tak sedikit pun mengganggu kesibukan masing-masing orang yang berlalu lalang. Suara jerit burung pun tak kalah juga ikut menyumbang kebisingan kota. Sedangkan di langit, awan merah bergerombol berarakan menuju ke sang surya berada, semakin tak kelihatan. Si gadis tetap menyambut gelap dengan senyum manisnya.
Si cowok yang berjalan disampingnya diam membisu. Seolah keramaian itu tak berarti apapun, tak sedikitpun merisaukannya. Ia memiliki ketenangan tersendiri diantara keramaian kota. Ia teringat saran Joe untuk menjadikan Si gadis manajer tim basketnya. Ia pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan Joe. Dengan begitu akan ringan bebannya. Ditambah lagi, akan ada alasan untuknya bersama Si gadis terus.
Si cowok bingung mau mulai mengatakannya dari mana. Ia kesulitan untuk mengawali menyampaikan maksudnya pada Si gadis. Hingga sampai di depan gerbang rumah Si gadis, Si cowok belum juga bisa mengatakannya. Mereka menghentikan langkah tepat di depan gerbang rumahnya Si gadis.
Si gadis tersenyum pada Si cowok. Setelah itu ia membuka gerbang dan mulai melangkah masuk. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Si cowok yang memintanya untuk menjadi manajer tim basket.
Si gadis agak terkejut. Ia berbalik dan menatap Si cowok. Pandangan Si cowok tak tahu pergi kemana. Si gadis mendongkak untuk melihat wajah Si cowok. Tapi, ia malah melihat ke arah lain.
"Kau... mau kan, menjadi... manajer tim... basket?" ulang Si cowok tanpa melihat ke arah Si gadis.
Ia tak berani bertatapan mata dengan Si gadis. Lama ia tak mendengar jawaban Si gadis. Ia menundukkan pandangannya dan seketika tatapan matanya bertemu dengan mata Si gadis. Si gadis tersenyum. Binar matanya lebih terang dari bintang di langit, meluruhkan hati. Ia tak mau mengulang pertanyaannya lagi.
"Tentu saja aku mau! Jangan khawatir, aku pasti akan bekerja dengan baik. Takkan mengecewakan, aku janji!" Si gadis berkata dengan semangat. Senyumnya mengambang. Mata sipitnya semakin tak terlihat. Si cowok senyum sekilas tanpa sepengetahuan Si gadis. Ia yakin, Si gadis tak melihat senyumnya itu.
+++
Hari-hari menjadi manajer cukup menguras tenaga maupun waktu Si gadis. Walau begitu, ia tetap semangat untuk melakukannya. Sejak awal ia sudah tahu kalau pekerjaan ini akan begitu, jadi ia sudah siap dengan apa saja yang harus ia lakukan.
Di sekolah, sekali dua kali sehari ia menemui Si cowok dan tim-nya. Ia mencatat semua apa yang diperlukan tim dan menyiapkannya. Hari menuju pertandingan sudah dekat. Si gadis tak pernah absen untuk hadir saat latihan. Tak lupa, ia menyiapkan keperluan tim dan minumannya ketika latihan.
Si gadis tengah berbincang-bincang dengan semua tim basket. Namun, yang banyak bicara bukan ketuanya, tapi malah teman-temannya itu.
"Tak terasa kurang dua hari lagi kita akan bertanding. Siap nggak, ya?" kata Melky. Wajahnya terlihat tegang.
"Alah... gitu aja! Masak kau mau menyerah sebelum bertanding?" komen Soni sambil mengusap wajah Melky.
"Hey... kau ini!" sahut Melky kesal sambil menepis tangan Soni.
"Hey!" Joe melerai Melky dan Soni yang saling balas pukul.
"Besok adalah akhir dari latihan kita. Setelah itu kita akan memulai pertarungan perdana kita, jadi kita harus melakukan yang terbaik dan sekuat tenaga kita!" kata Joe sambil berdiri dan mengangkat kedua tangannya seperti sedang menyampaikan pidatonya.
Si gadis hanya tersenyum menyaksikan tingkah mereka. Sedang, Si cowok malah asyik memperhatikan awan yang bergerak pelan mengikuti angin yang membawanya. Keramaian teman-temannya seolah tak pernah ada, tak mengganggunya. Sementara itu terdengar suara pelajar-pelajar lain yang teriak-teriak memesan sesuatu pada pelayan kantin yang serabutan melayani pesanan.
Seseorang yang dipojok sedari tadi memperhatikan Si cowok dari tempatnya. Dimana pun berada ia selalu mengikuti Si cowok tanpa sepengetahuannya. Ia mencoba mendekat Si cowok, tapi selalu kedahuluan Si gadis. Selain itu, tak pernah sedetik pun Si cowok memperhatikannya. Mungkin ia tak melihatnya, katanya menenangkan diri sendiri.
"Biyaann..." teriak kak Roi dan Joe bebarengan sambil menyenggol Si cowok.
Si cowok agak terkejut dibuatnya. Ia langsung menoleh dan melihat ke teman-temannya bergantian. Matanya terhenti ketika melihat Si gadis. Lesung pipinya terlihat sebagian. Sedang yang sebagian lagi di tutupi oleh rambutnya yang sebagian di gerai. Mata sipitnya tetap terlihat berbinar selagi ia minum.
"Eh, lo malah nglamun!" kata Joe sambil menepuk bahunya. Sontak ia beralih pandang pada Joe.
Wajah Si cowok berubah, agak kesal ia. Mengganggu saja, katanya dalam hati. Ia mengambil gelas minumnya dan langsung meminumnya tanpa mengatakan apapun.
"Tapi, ada yang lebih penting nih!" kata Melky mulai serius. Semua jadi serius menanggapinya. Semua terdiam menunggu Melky melanjutkan perkataannya.
"Kita harus berterima kasih sebanyak-banyaknya pada manajer kita yang selalu setia merawat kita!" kata Melky keras seraya mendekap kedua tangannya di dada.
"Emang dia emak, lu!" sahut Soni. Ia refleks melempar pilus yang ada ditangannya. Melky cengengesan. Si gadis tersenyum menanggapi.
"Benar juga itu! Emang, Bintang berjasa banget di latihan!" sahut kak Roi sambil meletakkan lengannya dileher Si cowok, "benarkan, Biyan?" lanjut kak Roi tanpa memedulikan Si cowok yang hampir tersedak.
"Tidak, kok! Biasa saja!" sahut Si gadis agak malu. Ia merasa tersanjung dan malu. "Justru kalian yang lebih, dari pada aku! Tetap semangat, ya!" lanjut Si gadis.
"Kita semua dech! Kita semua yang terbaik. Dari pada di ributin!" kata Joe mencoba berlaku adil. Lalu meneguk habis minumnya. Yang lain tertawa dan menyetujuinya. Si cowok melepas tangan kak Roi dan berdiri. Semua terkejut dan menanyai Si cowok mau pergi kemana. Si gadis menggigit sedotannya.
"Nggak tahu!" sahut Si cowok singkat.
Semua kesal pada Si cowok. Hanya itu saja, pikir mereka. Diam sih diam, tapi itu keterlaluan, nggak jelas gitu, kata Joe kesal pada diri sendiri. Si gadis memperhatikan Si cowok yang hanya terlihat punggungnya. Pandangannya beralih pada gelas yang ada di depannya begitu tak terlihat lagi. Ia melepas gigitannya lalu tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu, ya!" kata Si gadis lalu berdiri.
Bumi bergetar. Tubuhnya seolah mau roboh. Segera ia mencari pegangan yang terjangkau oleh tangannya. Semua terkejut melihat Si gadis. Kaget dan panik. Si gadis jadi merasa tidak enak karena telah membuat khawatir.
"Nggak apa-apa. Aku hanya pusing sebentar!" kata Si gadis diiringi dengan senyum.
Semua nampak lega mendengarnya. Si gadis segera melangkahkan kakinya begitu kakinya telah berpijak dengan kuat.
Seseorang di pojok itu mengikuti langkah Si gadis dengan pandangannya, hingga tubuh Si gadis tak terlihat lagi. Ia kesal pada Si gadis yang bisa bersama mereka.
+++
 Back

Bintang Prolog



PROLOG

"Apa ini?" menunjukkan selembar kertas pada Si gadis. Matanya lurus bertatapan dengan Si gadis. Serasa ada yang menghujamkan panah membara dihatinya.
Si gadis terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Si cowok. Ia tak tahu apa yang di maksudnya. Ia melangkah mendekatinya dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Si cowok. Ia kesulitan untuk menjawab. Bibirnya terasa kaku.
"I... itu... bukan apa-apa!" kata Si gadis menyembunyikan kepanikannya.
Si cowok menatapnya tajam. Ia tenggelam dalam pandangan Si cowok. Setiap gerak-geriknya terlihat dengan jelas. Ia jadi salah tingkah.
“Itu salah. Jangan khawatir, aku baik-baik saja!” Si gadis mencoba menghibur dengan tetap menunjukkan senyumnya, yang terasa pahit. Kata-kata bergerumul di bibirnya hingga tak tertuliskan. Lidahnya tak bisa menangkapnya dan mengungkapkannya. Sehingga hanya kepanikan yang tercipta. Tapi matanya tak bisa berbohong. Matanya berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Si cowok lebih lama lagi. Ia mencoba mengalihkan pandangan matanya dari Si cowok. Ia bingung harus mengatakan apa.
Si gadis tahu kalau kata-kata takkan cukup untuk menenangkan Si cowok. Ia bingung harus berkata apa biar Si cowok percaya dan tak mengkhawatirkannya. Tapi, bukti sudah ada ditangannya. Si gadis memutar otak untuk mencari alasan yang lain. Ia tak bisa untuk terus bertatapan mata dengan Si cowok. Tapi, pandangan Si cowok terus-terusan mengejarnya. Pandangannya tak tentu arah selagi ia berpikir. Namun Si cowok memegang kepala Si gadis agar berhenti dan mau menatapnya. Otaknya terasa beku karena tatapan teduh Si cowok. Ia menahan air matanya yang akan jatuh.
Tapi, tak disangka, tiba-tiba Si cowok merengkuh tubuh Si gadis dan memeluknya erat. Si gadis terkejut, hampir sesak nafas ia. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia ingin melepaskan diri dan memberanikan diri menatap Si cowok untuk menjelaskan semuanya. Tapi apa daya. Ia tak mampu untuk memandu tubuhny yang masih terasa lemas. Si gadis ingin menenangkan Si cowok. Tapi, otak terasa tumpul. Lidah terasa kelu. Rangkaian kata-katanya luruh. Ia tak tau apa yang tengah dirasakan Si cowok kini. Untuk mengetahui apa yang tengah dirasakannya saja ia tak tahu apa. Ia  tak bisa merasakan perasaannya sendiri.
"Jangan tinggalkan aku!" kata Si cowok lirih.
Serasa jantung berhenti berdetak. Ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa ia salah dengar? Ia tak yakin dengan pendengarannya. Kali pertama Si cowok mengungkap perasaannya. Si gadis terenyuh. Matanya berkaca-kaca. Air memenuhi pelupuk matanya. Ia rela terhenti selamanya jika itu memang benar. Tak percaya kini salju telah luruh. Si gadis membalas pelukan Si cowok. Ia memeluknya erat, membalas kasih Si cowok. Tak ingin rasanya berakhir sampai disini. Ia tak ingin berakhir sampai disini. Ia tak ingin semuanya selesai setelah pelukan ini dilepaskan. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tak ingin waktu seegera berlalu.
"Aku... takkan kemana-mana. Aku... takkan pergi. Aku... disini, bersama...mu, selamanya!" kata Si gadis menghibur. Suaranya terdengar bergetar. Ia tak yakin dengan kata-katanya. Ia tersenyum kecut. Air matanya menetes tatkala Si gadis memejamkan matanya.
Si cowok diam membisu. Tak ingin ia melepas Si gadis. Tak ingin ia mengakhiri pelukannya. Ia ingin terus merasakan detak jantung Si gadis. Ia ingin terus mendengar desah nafas Si gadis. Ia tak siap untuk kehilangan Si gadis, untuk selamanya. Takkan pernah siap!
+++

Bintang Episode 2


Novel Bintang Episode 2
Kemenangan Hati

"Kenapa kau berkata begitu kepadanya?" kata Si dokter lirih, seperti menggumam, sambil menutup pintu kamar Si gadis. Ia melihat sekilas pada Si cowok lalu duduk di sampingnya. Pandangannya melihat ke luar.
Si cowok tak mengatakan apapun untuk menanggapi pertanyaan Si dokter. Si dokter menengok ke arah Si cowok sekilas. Tatapannya terlihat kosong. Tak sedikit pun ia menunjukkan rasa hormatnya pada orang yang mengajaknya bicara. Apa ia tak menyadari adanya kehadiran orang lain? pikir Si dokter.
"Kenapa tak menuruti keinginannya? Barangkali saat ini adalah kesempatan....." kata Si dokter tertahan. Pandangannya tertuju pada segerombol awan berarak dilangit biru yang dipermainkan oleh angin. Sesekali terdengar suara riuh burung diatas pohon.
"Itulah.... yang..ku... takutkan!" kata Si cowok hampir tak kedengaran. Ia berkata tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Si dokter agak tersentak mendengar perkataan Si cowok. Ia memalingkan mukanya ke Si cowok. Beberapa waktu lamanya ia memperhatikan air muka Si cowok yang dilihatnya dari samping. Ia bisa mengerti kalau Si cowok tengah mengkhawatirkan Si gadis. Ia tersenyum tak tahu apa maksudnya seraya memalingkan pandangannya ke luar cendela. Terlihat dua ekor burung pipit yang datang dan hinggap di dahan pohon mangga.
"Aku jadi mengerti!" kata Si dokter kemudian. Si cowok tak mengerti ucapan Si dokter. Ia tak mau ambil pusing dengannya. Lalu, Si dokter melanjutkan. "Ternyata... apa yang dikatakannya memang terbukti benar. Setelah.... aku bertemu denganmu!" kata Si dokter tanpa melihat Si cowok. "Kau istimewa!" katanya datar. Pandangannya tak lepas dari dua ekor burung pipit yang tengah kejar-kejaran di dahan pohon.
Dua burung pipit itu terbang ke langit. Si cowok tersenyum kecut. Pandangan matanya menatap lurus ke depan, pada tempat burung pipit itu menghilang. Angannya terbawa burung yang terbang ke langit itu.
"Kau salah!" kata Si cowok. Terdengar beku ditelinga. "Tak sedikitpun aku..." katanya terhenti. Seketika pandangannya kosong. Ia teringat kembali saat dulu. Hatinya terasa tergores. Perih. Menyadari diri tak pernah memberi apa-apa pada Si gadis. Hanya keheningan dan sikap dingin yang ia berikan padanya. Si dokter terkejut mendengar pengakuan Si cowok.
"Aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata-kata menjadi karangan bunga, yang akan membuat wanita merasa tersanjung karenanya. Atau, pria yang suka ngobral kata cinta atau sayang. Romantis..." Si cowok menggumam. Terlihat oleh matanya bayangan Si gadis tersenyum manis padanya. Tapi terasa pahit karena hanya bayangan masa lalu saja.
Si dokter tersenyum simpul karenanya. Ia tak menyangka Si cowok akan langsung berterus terang padanya. Lalu ia asyik menyaksikan dua ekor burung merpati yang baru datang, yang melompat ke dahan-dahan dengan lincah.
"Dan aku, bukanlah pria yang baik seperti yang ia kira. Ia salah menilaiku!" Si cowok menambah. Tatapannya masih lurus ke depan tak jelas apa yang dilihat oleh matanya.
"Benarkah?" Si dokter menyanggah. "Bukanya kau adalah seorang pria sempurna? Pria yang menjadi dambaan setiap wanita? Banyak wanita yang mengelilingimu." Argumen Si dokter.
Ia berkata demikian karena apa yang telah dikatakan oleh Si gadis padanya. Tapi, setelah bertemu dengannya langsung, ia jadi tahu sendiri kalau apa yang dikatakan oleh Si gadis itu benar adanya. Sudah pasti kalau ia banyak disukai gadis-gadis karena ia nampak populer. Tapi, sepertinya ia memang tak pandai berkata-kata, nilainya. Lalu, apa yang di sukai Si gadis darinya? tanyanya.
"Aku tak percaya mendengarnya. Tapi, kau memiliki seseorang yang amat mencintaimu. Bagaimana bisa kau mendapatkan wanita seperti itu? Andai ada seseorang yang mencintaiku seperti itu, pasti hidupku akan terasa lebih berarti. Pasti menyenangkan ada seseorang yang membutuhkan!" ungkap Si dokter. Ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai. Ia belum pernah mengalami hal seperti itu. Kisah cintanya dulu kandas sebelum berlayar. Ia lebih memilih untuk fokus pada belajarnya dan mengabaikan cinta tulus seorang wanita padanya. Akhirnya, tanpa ia sadari, ia telah melukainya dan juga melukai dirinya sendiri. Hanya kesepian yang ia dapatkan. Kini penyesalan yang ia terima, karena wanita itu kini sudah pergi jauh darinya.
"Kenapa tak kau saja yang melakukannya?" kata Si cowok datar. Si dokter tak langsung menjawabnya. Si cowok menyesal telah mengatakan itu. Bagaimana kalau...
"Andai aku bisa!" Si dokter menyandarkan punggungnya ke kursi.
Si cowok menoleh sekilas ke arah Si dokter. Ia bisa melihat perubahan air muka Si dokter. Si dokter mendesah. Si cowok merasa tenang karenanya.
"Kau... diam-diam menyukainya! Kenapa kau tak mengambil kesempatan?" pancing Si cowok.
"Andai aku yang ada dihatinya, pasti sudah sejak dulu aku sudah melakukannya. Sayang sekali, hatinya telah tertutup!" akhiri Si dokter.
Entah mengapa Si cowok merasa lega setelah mendengar pengakuan Si dokter. Meski bukan langsung dari Si gadis, ia merasa bahagia. Ingin rasanya waktu kan terulang lagi, untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. Tapi, keinginan itu kini tinggal harapan yang entah akan kesampaian atau tidak. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu sang waktu datang menghampiri. Tapi, harus sesuai dengan apa yang diinginkannya, harapnya.
+++