Jumat, 18 September 2020

Sepupu dan Komikku

Sepupu dan Komikku

Kenapa bulu kuduk berdiri? Tak terdengar setitik suara pun. Yang terdengar hayna rengekan pedal yang mengeluh kena injakan kaki. Terlihat jauh disana ada banyak orang sedang berlomba dengan burung-burung untuk mencari rizki. Ada sekelompok ibu-bu yang bersemangat untuk menanam pagi. Bahkan ada juga bapak-bapak yang disibukkan oleh burung-urung, yang mencuri biji-iji padi.

Surya masih bersembunyi dibalik gunung seakan enggan untuk keluar. Angin berdesis. Rara mencoba menggenggam lengan kirinya dengan tangan kanannya karena angin berkroyokan masuk melewati celah-celah baju.

“Uh, dinginnya!” gumammnya. Dan beberapa kali bergantian dengan tangan kanannya.

Rara merasa dingin, adem-panas-adem-panas. Aduh, kenapa ini? Tangan berkeringat, sebentar-sebentar mengusap tangannya. Kenapa jadi berkeringat begini padahal baru beberapa menit lalu mandi dan matahari tak telrihat sinarnya. Kenapa jadi deg-deg-an, ada perasaan takut dan senang. Tengok kanan, tengok kiri.

Didapatinya ada seorang duduk di atas motr. Masih lengkap dengan helm dan jaket serta sarung tangan. Tepat di depan toko. Daritadi dia asyik terus mandangi Rara.

“Aduh, jadi salah tingkah nih! Kenapa juga orang itu?! Ha!” batiin Rara. Lalu menganyuh pedal sepedanya lebih cepat. Tapi Rara merasa kalau orang itu masih memperhatikannya.

“Aaaaa...” gumamya. Lebih cepat lagi mengayuh sepeda. Untung madrasah suda dekat. Lebih baik daripada yang tadi, hati terasa lebih tenang.

Srek. Srek. Srek. Suara tukang kebun sedang mengerjakan tuasnya. Rar menyusuri halaman sekolah dengan menyeret sepedanya. Berjalan dengan santai menuju kelas.

Sesampainya di emperan kelas,

“Hei, tumben berangkat pagi?” sapa Ana. Menghentikan langkah Rara.

“Ih, kau ini!” menggedor kaca di depannya. “Hampir saja jantungku copot!” mencoba menenangkan diri.

“Eh, awas kacanya pecah!” teriak Ana.

“Ih...” menggedor lagi. Dengan spontan Ana menghindar.

“Yah, nggak kena deh!” ejek Ana dari dalam.

“Ih..” gemes kepada Ana. Lalu Rara berjalan cepat masuk ke kelasnya. “Ih, mau aku pites kamu?” Rara gemes. Tertawa bersama ejenak

“Kok berangkat pagi-pagi sekali?” tanya Ana setelah duduk.

“Kepagian ya? Apa sebaiknya aku pulang lagi?” mulai bersandar.

“Kalau kau mau ya boleh-boleh aja!”

“Kalau kau mau mengantar ya ngga masalah. Ayo!” menyeret tangan Ana.

“Ah, engga-ngga. Cuma bercanda kok!” Ana tertawa.

“Aku juga!” Rara tertawa.

“Aku kira beneran!”

“IH, ya nggalah! Aku ngga mau balik lagi. Serem deh ketemu orang itu!” bergidik.

“Orang siapa?” Ana tak mengerti.

“Aku juga ngga tahu. Dia memperhatikan ku dengan memakai helm jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Otomatis aku juga tidak tahu siapa dia. Tapi sepetinya aku kenal deh!” duga Rara.

 

Tak terasa sudah banyak orang yang datang. dari jauh terdengar suara yang memanggil-manggil nama Rara.

“Rara! Rara! Rara!” suaranya semakin mendekat.

“Rara!” gemes kepada Rara. Sampa-samapai menarik-narik baju Rara.

“Iza, kenapa? Jangan tarik-tarik bajuku?” mencoba melepas pegangan Iza,

“Ra, yang kamu tunggu-tunggu sudah datang loh!” masih tetap menarik-narik bau Rara.

“Hei, apanya yang ditunggu-tunggu?” Ana mencolek Iza.

“Komik kesukaanmu, Ra!” kata Iza semangat.

“Benarkah?” Rara memastikan. Terukr senyum diwajahnya.

“Ya elah, komik!” seru Ana.

“Iya. Kalau ngga percaya coba ke toko buku sekarang. Tapi semoga masih ada ya!”

“Kau tahu darimana Za?” masih belum yakin. Tapi dia sudah nggak sabar kelihatnnya.

“Dari temenku. Cepet nanti keburu habis loh!” za sudah mau pergi. “Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya. Bye!” Iza pergi. Tapi masih sempat-sempatnya mencubit pipi Rara.

“Ih, aku jadi ngga sabar.” Senangnya hati Rara.

“Hei, sabar saja! Masih nanti sore tuh! Simpan semangatmu untuk nanti!” saran Ana.

“Ih, senangnyaku!” menarik baju Ana sambil loncat-loncat saking gembiranya. “Aku ngga sabar menunggu nanti sore.” Masih terus saja lompat-lompat.

“Ngga malu ya dilihat anak-anak lain?” Rara tertawa gembira. “Ih!” teriaknya gemes.

“Hei, lepaskan bajuku!” marahi Ana. Tapi Rara malah cengar-cengir.

Kringggg.

Suara bel panjang berbunyi sudah waktunyantuk pulang. rara yang sudah ngga sabar dari pagi begitu gurunya keluar langsung ikut keluar. Mengambil sepedanya dan siap untuk pergi.

Dibawah terik matahari sore Rara dengan penuh semangat mengayuh sepedanya menuju ke toko buku. Dengan hati berbinar-binar dia menuju ke sebuah toko. Akhirnya sampailah ia di toko itu. Dengan perasaan gembira serta diiringi senyum, Rara memarkir sepedanya.

Dengan penuh keyakina dia mengarahkan langkah kaki ke lantai toko itu. Hati berbunga-bunga sudah tak sabar untuk menunggu beberapa menit lagi. Dengan keyakinan yang mantap dia memegang gagang pintu dan membukanya. Dariluar tooko, terlihat Rara bersemangat menuju tempat buku komik.

Beberapa saat elah berlalu Rara keluar dari toko. Menutup pintu dengan pelan. Menghela nafas sejenak. Wajahnya telrihat masam. Wajah cerianya tadi telah ditelan oleh toko itu. Apa gerangan yang terjadi padanya? Rara telrihat tak bertenaga, kenapa dia berubah secepat itu?

“Aaaa!” teriaknya teahan. Malu didengar orang. Nanti dikiranya yang bukan-bukan. Hatinya mendongkol, ingin cepat-cepat menegur Iza. “Awas nanti!” geramnya pada diri sendiri.

Rara mengayuh sepedanya lebih lcepat. Sudah gak sabar, dan hatinya geregetan.

“Za, gak ada!” kata Rara keras. “Oh, katamu ada, aku sudah dari sana dan ternyata apa? Sudah habis?!” protesku.

“Hei, baru aku angkat sudah teriak-teriak!”

“Ih, jangan keras-keras Za! Aku mendengarnya, kau mau membuat telingaku sakit?” sudah sedikit tenang. Terdengar Iza menghela nafas.

“Kamu juga sih. Aku kan tadi bilang, ‘kalau masih ada’. Soalnya kata temanku itu tinggal satu. Mungkin buku itu sudah terbit darikemarin!” jelas Iza.

“Terus gimana dong?”

“Hihihi!” terdengar diseberang sana Iza merasa geli.

Iya aka ku coba untuk cari informasinya.” Iza mau membantu.

“Kalau begitu terima kasih ya! Iza baik deh!” sok manis.

“Yee, maunya. Ya sudah cepet matikan telponnya!” Iza mengakhiri.

“Ohya. Bye. Awas jangan lupa!” Rara mengingatkan.

“Iyaya. Pokoknya beres. Ya amp....” Dan telponnya sudah dimatikan.

Besoknya ketepatan dengan hari Jumat. Pulangnya tidak kesorean. Jam 2 sore Rara janjian dengan Iza mau ke toko buku yang telah dibicarakan oleh Iza tadi pagi. Hari ini Iza akan dtang ke rumah Rara.

Rara yang nggak sabar dari kemarin sudah menunggu Iza dari tadi. “Aduh, Iza kok belum datang juga!” katanya pada diri sendiri. Ra berdiri di depan rumahnya. Di tengah jalan Rara melihat kanan dan kiri. Menunggu kedatangan Iza.

Beberapa saat kemudian, Rara dikejutkan oleh suara klakson sepeda motor.

“Hei, lama banget sih!” seru Rara setelah dilihatnya Iza.

“Em, ya gak lah!” menghentikan motornya. “Malahan belum ada jam 2.” Kata Iza setelah melihat jam tangan ungu yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

“YA sudah. Ayo cepat kesana! Nanti keburu habis lagi!” Rara naik.

“Ngga sabaran banget sih!” Iza mulai menjalankan motornya menyurusi jalanan beraslpa. Dalam hati Rara sudah geregetan ingin baca buku itu. Sudah 6 bulan lamanya dia menunggu terbitnya buku itu. Uang sakunya sengaja ia kumpulkan untuk persiapan membeli buku itu.

Di tengah jalan Rara bertanya.

“Ngomong-ngomong kita mau ke toko buku mana Za?” Rara ingin tahu.

“Ke toko Bang Jon!” sahut Iza.

“Toko bang Jon itu dimana?”

“Sudahlah jangan tanya lagi nanti juga tahu. Pokoknya ada deh kamu tinggal beli aja!”

“Ya udah kalau gitu!” Rara tersenyum.

Tak terasa sudah sampai di tujuan. Dengan segera Rara dan Iza masuk ke toko itu. Ternyata sulit juga mencari tempat buku-buku. Mereka kebingungan mencari tempatnya.

“Za kamu yakin ini tempatnya?” tanya Rara memastikan, “jann-jangan salah lagi!” duga Rara.

“Ngga kok, bener ini. Kata temanku tempatnya mirip supermarket. Kamu tadi juga melihatnya kan? Ada papan namanya?” Rara mengangguk.

“Coba tanya karyawannya saja, ya?” usul Iza.

“Iya. Iya.” Rara langsung setuju.

Kebetulan ada seorang karyawan yang melintas di depan mereka membawa sesuatu. Dengan segera Rara menghentikannya.

“Permisi, Maz. Tempat buku dimana ya?” tanya Rara tanpa ragu.

“O, disana. Lurus saja!” jawabanya dengan ramah. Rara mengikuti petunjuk kakak itu dengan matanya.

“Terima kasih, Mas!” ucap Iza. Kakak itu lalu pergi tapi Rara tepat diam saja. “Hei, terima kasihnya telat!” kata Iza pada Rara.

“Ohya?” dilihatnya kaa tadi sudah tidak ada.

“Sudah pergi, Non!” sahut Iza.

“YA udah kalau gitu!” Rara menuju tempat yang telah diberitahu kakak tadi. Iza mengekor di belakangnya.

“Ra, pelan-pelan!”

“Ngga mau. Waktu ku udah banyak kebuang. Aku dari tadi merasa nggaenak. Kalau kehabisan lagi gimana?” Rara terus berjalan.

Sampai di bagian buku, Rara masih harus mencari bagian buku komik. Iza muter-muter mengikutinya. Akhirnya Rara melihat ulisan di atas rak seukuran bahu yang menunjukkan buku komik. Dengan segera Rara menuju kesana.

Tapi disana ada seseorang. Berdiri diam tak bergerak. Orang itu sepertinya bingnug mau ngambil yang mana. Dia mengambil dan mengamati buku itu bergantian. Dari dekat terlihat jelas kalau dia seorang cowok, tinggi, mengenakan kaos biru ditambah jaket yang tak dikancingkan. Rara merasa sepertinya pernah melihat cowok itu.

“Ah, gak penting!” batinnya.

Lalu Rara memfokuskan perhatiannya pada tumpukan komik yang ada di hadapannya. Lama memilah-milah tapi tak kunjung menemukan buku yang dicari. Rara terkejjut, buku komik yang sedang ia cari-cari ternyata ada di tangan cowok itu. Rara geregetan ingin merampas tapi ragu.

Rara mencoba cari cara lain selagi orang itu sibuk dengan pilihannya. Cowok itu pun dari tadijuga memperhatikan Rara dan Iza yang sedang sibuk dengan buku-buku di hadapan mereka. Dia mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan Rara dan Iza. Akhirnya Rara mendapatkan ide.

Saat mau menjalankan idenya, tiba-tiba.

“Ra, mau ngapain?” bisik Iza. Yang otomatis menghentikan rencananya.

“Ish, diam!” tukas Rara. Cowok itu melihat kedua gadis sedang bisik-bisik, dikiranya mereka mau ke tempatnya. Jadilah ia putuskan untuk pergi.

“Rara!” suara Iza keras karena kesal pada Rara, yang tidak mau cerita apa yang dipikirkannya.

Cowok itu pun mendengarnya sehingga sempat terhenti. “rra? Apa salah satu diantara mereka ada yang bernama Rara? Rara yang lain atau?” pikir cowok itu.

“Ih!” kesal Rara. Rencananya gagal sebelum dikerjakan.

“Kenapa sih Ra?” Iza ikutan kesal.

“Tuh, kan gara-gara kamu sih dia pergi!” Rara kecewa.

“Terus gimana dong? Memangnya apa sih rencanamu tadi?” Iza ingin tahu.

“Tadinya aku mau mempengaruhinya agar dia mau memberikan komik itu padaku.” Kata Rara kecewa. “Tapi aku tidak boleh berhenti sampai disini. Aku harus mendapatkanny! Sudah di depan mata lagi!” Rara bersemangat lagi.

“Itulah Rara!” Iza mendukungnya. Segera Rara mencari cowok itu.

Dari kejauhan terlihat cowok itu sedang membayar di kasir. Agar tidak kehilangan cowok itu, Rara berlari untuk menghentikannya. Namun ternyata cowok itu sudah selesai dan keluar dari toko. Rara meninggalkan Iza yang berada di belakangnya dan menghentikannya.

“Mas, tunggu!” Rara berhenti tepat di depan cowok itu hingga mengagetkannya. Dia terlihat bingung dengan kehadiran Rara yang tiba-tiba.

“Mas boleh gak komiknya aku beli? Plis, Mas! Tolong aku!” Rara mencoba membujuk. Memasang tampang memelas dan merayu.

Orang yang dipanggil ‘mas’ tadi heran.

“Apa? Komik? Bukannya masih ada di dalam?”

“Tapi yng sama dengan dengan yang mas bawa sudah gak ada.” Membuat cowok itu tembah heran.

“Ayolah Mas! Tolong, hanya tinggal ini saja mas yang ada!” memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Cowok itu malah tersenyum melihat gadis di depannya memohon-mohon.

“Maaf dik, aku tak bisa bantu. Soalnya buku ini mau aku berikan pada adikku!” jawabnya setelah senyum. Lalu pergi menuju motornya.

Masih dilihatnya cowok itu. Apalagi tas di bawanya dengan tatapan tak rela. Rara ingin sekali mengambil buku di tas itu. Lalu, “Loh, bukannya motor itu motor yang dulu?” mengingat-ingat. “Tapi pabrik tiakd buat Cuma satu kan?” tepisnya kemudian.

Dengan tangan hampa Rara menuju ke tempat Iza menunggu. Pupus sudah keinginannya sudah di depan mata disambar orang duluan. Betapa kesal dan kecewanya perasaan Rara.

“Ra, gimana? Dapat?” tanya Iza.

“Dapat apa? Aku sudah mohon-mohon tapi dia tidak kasihan padaku!” jawabnya lesu. Lalu akhirnya mereka pulang.

 

 

Rara tak haya larut dalam kekecewaan yang lalu biarlah berlalu. Kini dia bersemangat lagi, yang lalu dilepaskannya. Sekarang Rara harus bersabar lagi untuk menunggu terbitnya buku itu.

Dia berangkat ke sekolah dengan ceria. Semangat baru untuk hari baru.

Tak disangka, ternyata hari ini pulang lebih awal. Belum ada setetes keringat pun yang menetes sudah dipulangkan. Jadi Rara pulang lebih awal dan juga akan lama berada di rumah.

Ketika hampir tiba di rumah, Rara melihat oarng yang yang tak asing. Laju sepda Rara perlahan melambat. Orang itu mengenakan perlengkapan berkendara lengkap. Mulai dari helm, jaket, sarung tangan, bersepatu dan membawa tas. Dan dia melihat kehadiran Rara.

Rara menambah kecepatannya begitu melintas di depannya. “Sepertinya pernah lihat!” batin Rara. “Oh, yang waktu itu! Depan toko!” Rara menambah kecepatannya lagi.

Orang itu masih memperhatikan Rara. Saat ada orang melintas, segera di hentikannya.

“Maaf, Pak! Permisi. Saya mau tanya.” Katanya setelah membuka helm.

Setelah mendapatkan jawabannya dikenakannya lagi helm dan mulai mengendarai motornya. Cowok itu berhenti tepat di depan rumah Rara. Rara yang mengetahui kedatangannya langsung lari masuk rumah dan bergidik.

Di dalam rumah, ibu Rara mendengar kedatangan Rara dan menghampirinya.

“Ada apa sih? Pake lari-lari segala!” tanya ibunya lembut.

“Itu, Bu ada orang misterius. Takut aku!” bergidik.

“Ada-ada saja kamu, Ra!” ibunya menggeleng dan tersenyum. Rara lari menuju kamarnya.

Terdengar seseorang telah membunyikan bel. Dengan segera ibu Rara membukakan pintu. Dari dalam kamar Rara mendengar ibunya tertawa dengan seseorang. Rara merasa terusik dan memutuskan untuk keluar.

Rara berjalan dengan penaaran. Sampai segitunya ibunya tertawa.

Betapa terkejutnya Rara melihat seorang cowok tak asing sedang berbicara dengan ibunya.

“Iya, bener. Dia orang di toko itu! Orang yang telah mengambil buku komikku!” batin Rara.

Ibu Rara menyadari kehadiran Rara menyuruh Rara duduk di sampingnya. Rar amasih heran dengan inu semua. Cowok itu pun sepertinya tidak terkejut dengan kehadiran Rara. Malah tersenyum terus, tebar pesona. Lalu.

“Ra, kamu masih ingat gak dengan dia?” tanya ibunya. Menunjuk cowok itu.

“Siapa, Bu? Dia?!” masih bingung.

“Hei, Ra! Masa kamu lupa denganku?” kata cowok itu sok akrab.

“Mana mungkin kulupa! Kakak yang merebut bukuku kan?!” teriak Rara.

“Rara, apa maksudmu?” ibunya ganti tak mengerti. Cowok itu malah tertawa menambah jengkel hati Rara.

Lalu cowok itu mendekati Rara.

“Hei, mau apa?” teriaknya waspada.

Ibu Rara hanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya. Cowok itu duduk di samping Rara. Rara tak mau pergi karena yang seharusnya pergi itu cowok itu bukannya Rara. Di tersenyum melihat tingkah Rara lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

Mengelurkan sebuah kotak yang tidak terlalu tebal mirip sebuah buku. Dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna ungu lalu diberikan pada Rara.

“Ini, bukalah!” katanya diiringi senyum.

Rara masih kesal dengan dia dan memutuskan untuk membuka. Matanya langsung bersinar melihat isinya.

“Bukuku! In bukuku!” teriaknya dalam hati senang. Tersenyum manis akhirnya bukunya kembali ke genggamannya.

“Terima kasih kak!” ucapnya senang.

Cowok itu lalu mengacak-acak rambut Rara dan tersenyum.

“Lalu nama kakak siapa?” tanyanya.

“Yaelah. Belum tahu namaku?!” kecewa cowok itu. “Aduh gimana sih adikku ini!” merasa kesal.

“Rara, dia itu kakak sepupumu. Kak Udin.” Sambung ibunya.

“YA ampun! Kakak toh?” serunya keras.

“Cepat sekali melupakanku!” cemberutnya.

“Habisnya kakak sudah ebrubah. Dulu kan banyak kacangnya di pipi!”

“Hah, kacang? Aduh-” mengacak-acak rambut Rara lebih ganas.

Segera Rara merapikan rambutnya.

“Tapi sekarang lebih ganteng kan?” katanya lagi.

“Ganteng sih ganteng tapi kalau ngelihat orang seperti itu, yang ada malah lari semua!” selorohnya.

“Masa sih?”

“Oh iya. Kak udan Bu kemarin lihat aku kayak mau nelan aku hidup-hidup!” cerita Rara ke ibunya. Dengan sedikit melebih-lebihkan.

Udin dan ibunya hanya tertawa. Suasana jadi rame.

“Aduh, sepupu dan komikku!” batin Rara.

Jombang, 19 September 2020

Rabu, 07 Maret 2018

Cerpen

UNKNOWN

All bukan tipe orang yang suka jalan-jalan tapi ia suka berkumpul bersama teman-temannya. Sehingga ketika ia diajak untuk berwisata bersama ia tidak bisa untuk menolak. Ia senang kemana pun asalkan bersama teman-temannya. Karena jika pun pergi sendiri ia juga tidak akan diizinkan. Ia hanya boleh pergi jika ada temannya dan yang dikenal oleh orang tuanya.
Kemudian, minggu ini, mereka berencana untuk liburan ke Mojokerto. Mereka juga akan menginap selama beberapa hari. Mungkin sekitar 2-3 hari. Dan dalam waktu itu, sebisa mungkin mereka akan menjajaki semua tempat wisata yang ada di sana.
Hari pertama diisi dengan jalan-jalan singkat di daerah sekitar penginapan. Dan di hari pertama itu tidak ada yang cukup menarik bagi All. Akan tetapi pada hari kedua entah kenapa ia merasa berbeda. Ada sesuatu yang memanggilnya akan tetapi All tidak tahu itu apa. Ia bahkan baru pertama kalinya ke sana tetapi rasanya ia sudah mengenal tempat itu.
"All!" tegur Yuni karena All hanya bengong.
"Hemm... Apa?" tanya All heran.
"Kamu melamun. Awas jangan melamun, ini tempat keramat loh!" goda Yuni sambil terkekeh.
All hanya memandangnya heran. Dan segera menyusul Yani karena ke-empat temannya yang lain sudah pergi duluan.
Akan tetapi, kembali lagi All terhenti. Ia pun menoleh dan mencari sumber suara. Sedari tadi ia mendengar suara riuh di telinganya tetapi ia belum menemukan siapa pelakunya.
Siapa yang bicara? tanyanya. All mengedarkan pandangannya ke situs purbakala ini. Ia lupa apa namanya tapi tempatnya tidak terlalu serem juga. Malah amat terang. Berada di tengah-tengah pemukiman dan dataran luas.
Tidak menemukan apa-apa akhirnya All kembali melanjutkan langkah. Ia tidak ingin terpisah dari teman-temannya dan terus mengikutinya. Hingga kemudian terdengar ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa?" tanyanya yang sedang duduk-duduk di bawah pohon. Udara begitu terik hari itu jadi mereka memutuskan untuk duduk sebentar.
"Apa?" tanya Hisam balik.
"Kamu ngomong sesuatu?" tanya All.
Hisam yang ditanya pun bingung. Ia pikir All ingin mengajaknya bicara. "Tidak!" jawabnya heran.
"Oh, yasudah. Aku pikir kamu ngomong sesuatu!" All kembali melihat ke depan.
Hisam yang melihat tingkah All pun jadi semakin heran. Aku bahkan baru duduk, katanya dalam hati.
"Ayo balik! Laper!" ucap Hans menghampiri All dan Hisam. Di belakangnya ada Yuni, Vera, dan Rio.
"Yok, All. Kamu sepertinya sudah capek" sambung Vera.
All hanya mengangguk.
"Mau makan apa nih?" tanya Hisam sambil bangkit.
Dan setelah itu mereka pun pergi meninggalkan situs. Mereka sudah berkeliling 2 jam lebih setelah sebelumnya ke Vihara.
"Apa aja deh!" usul Yuni.
"Ayam kriuk yok!" Vera usul.
"Kok ayam terus sih!" sahut Rio. "Cari yang lain aja lah!"
"Kita lihat saja nanti, okey? Kalau ada yang lain ya alhamdulillah tapi kalau ga ada ya..." Hans menimpali.
"All, kamu mau apa?" tanya Yuni.
"Apa aja!" sahut All pendek. Ia mengekori mereka berdua.
"Yah. All terlalu menerima. Sekali-kali kek protes!" sahut Vera.
"Tentu saja. Itu lebih barik dari pada kamu! Tukang protes!" olok Hisam dan ia langsung kena timpuk Vera. Tapi ia beruntung. Sebelum Vera mengenainya ia sudah mengelak.
"Eh, awas ya!" kejar Vera.
"Meraka tuh, tak pernah bisa diam! Jadian beneran mampus deh!" gumam Yuni.
Yang lainnya pun tertawa mendengarnya. Sementara All hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Temannya yang dua itu memang begitu. Tanpa mereka suasana pasti sepi.
Kemudian tiba-tiba saja ada suara yang memanggil nama All.
"Apa?" sahut All dan otomatis ia terheran-heran karena ia tak menemukan siapapun di belakangnya. Ia kira ada temannya di belakang tapi ternyata tiada siapapun.
"Siapa ya?" tanyanya sendiri. All pun memutuskan untuk berbalik dan pergi.
Akan tetapi sebelum kakinya melangkah tiba-tiba saja ia disergap oleh aneka rasa dan bayangan di pikirannya. Tubuh All membeku di tempat seiring bayangan-bayangan asing bermunculan di kepalanya. Gambar asing seperti kehidupan zaman dulu. Disusul juga dengan bayangan gadis muda cantik yang berpakaian indah, anggun, diikuti oleh dayang-dayang di belakangnya.
Teman-teman All yang menyari All tertinggal pun memanggilnya untuk segera menyusul. Akan tetapi melihat keanehan pada All membuat mereka keheranan hingga akhirnya Hans memutuskan untuk kembali.
"All, ayo!" ajaknya sambil menepuk bahu. Dan seketika itu juga tubuh All jatuh ke tanah.
"All?" ucap Hans terkejut.
"All!"
"All!" panggil temannya yang lain terkejut.
"All, ada apa? Bangun!" Hans dengan panik mencoba membangunkan All. Ia menepuk-nepuk pipi All hingga teman-temannya yang lain datang dan mengkerumuni.
"All..." ucap mereka panik.
Sementara kelima teman All mencoba membangunkannya, gambar-gambar yang bermunculan di kepala All jadi semakin banyak dan berkelanjutan.
"All.."

Rabu, 31 Mei 2017

Bintang Episode 7



Tekad
Burung merpati bercengkrama riuh dengan anak-anaknya didahan pohon. Sedang, kelelawar dan burung-burung yang lain telah kembali dari perburuaannya. Orang-orang telah kembali dari kesibukannya. Sementara itu, Si gadis masih duduk termenung di taman kota.
Sudah beberapa jam ia duduk diam tak melakukan apapun, pikirannya mengambang. Tatapan kosong. Beberapa waktu lamanya ia diam membisu. Jika pun, pulang, tetap saja sendiri. Orang-orang silih berganti melewatinya. Mereka heran melihat Si gadis yang duduk melamun. Ia tak memiliki siapa pun lagi. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah ayahnya seorang. Tapi, sudah lama sekali Si gadis tak bertatap muka dengan ayahnya.
Seketika mata sipit Si gadis yang mulai meredup kembali bersinar. Pikirannya telah kembali. Ia masih memilikinya. Ia masih memiliki seseorang yang sangat dicintainya, mencintainya. Ia masih memiliki Si cowok. Walaupun Si cowok tak pernah mengatakan cinta atau sayang, tapi ia yakin kalau Si cowok menyayanginya. Ia tak merisaukan itu. Yang penting, ia masih memiliki seseorang yang penting baginya. Ia tahu kalau Si cowok setia padanya. Tak pernah Si cowok melukainya.
Segera Si gadis mengambil ponsel-nya dari dalam tas. Ia membuka kontak nama dan memencet tombol hijau setelah menemukan nama yang ia cari. Semangatnya telah kembali. Harapan dan impiannya kembali cerah. Ia tak peduli lagi dengan apa yang telah terjadi padanya hari ini. Yang penting, masih ada orang lain yang menjadikannya penting.
Setelah berbicara agak panjang di telepon, Si gadis tersenyum lebar. Ia telah kembali lagi seperti dulu. Segera ia beranjak dari tempatnya.
+++
Terkejut. Bingung juga. Tapi, senang. Itulah kiranya yang tengah dirasakan oleh Si cowok. Terkejut, tiba-tiba saja ponsel-nya berdering ketika ia beristirahat setelah selesai latihan. Ia sudah mau pulang, tapi Si gadis bilang akan datang. Ia jadi heran. Kenapa Si gadis tak datang ketika ia latihan dan, malah mau datang setelah latihan usai? Kenapa ia tak membawakan minum lagi seperti dulu? Tapi, ia senang mendengar Si gadis akan datang. Ia akan berlama-lama disana menunggu Si gadis.
"Biyan, kau tak pulang?" tanya Melky.
Melky, Soni, Joe, dan kak Roi menghampiri Si cowok yang tengah duduk nglesot di bawah ring. Mereka semua ikut nglesot. Si cowok tengah menengguk minumnya.
"Biyan, kau tak pulang?" ulang Melky.
"Nanti saja!" jawab Si cowok datar.
"Ya sudah! Duluan, ya!" Melky berdiri.
"Aku juga!" sambung Soni.
"Tunggu aku!" Joe bangkit dengan cepat dan mengejar Melky dan Soni.
Sedang kak Roi masih duduk berselonjor kaki. Nafasnya masih putus-putus. Si cowok diam tak berkomentar.
"Bintang kok tak pernah datang, ya? Aku jadi kangen!" kata kak Roi tiba-tiba.
Si cowok tersentak. Segera ia menyembunyikan perubahan wajahnya. Ia tak mengira kalau kak Roi akan berkata seperti itu. Ia menatap kosong ke tempat lain. Apa kak Roi tak tau kedekatannya dengan Si gadis? Apa ia tidak tahu kalau Si gadis sudah ada yang punya? Terlebih lagi ia berkata begitu di depannya, gerutu Si cowok.
"Ya sudah! Aku pulang dulu. Mungkin besok ia akan datang kayak dulu. Kan jadi rame!" lanjut kak Roi diiringi senyum. Ia menepuk bahu Si cowok lalu berdiri. "Oya, kau tak pulang besamaku?"
"Kau duluan!" kata Si cowok tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Kak Roi melangkahkan kakinya. Tiba-tiba kak Roi menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Oya, jangan diambil hati soal kangen tadi!" gingsulnya terlihat. Si cowok hanya menatapnya datar.
Kak Roi tersenyum. Lalu ia pergi meninggalkan Si cowok sendiri. Mereka tak tahu kalau mereka tidak hanya berdua. Seseorang tengah menunggu kepergian kak Roi. Setelah Si cowok sendirian, perlahan ia mendekati Si cowok.
"Kau tak pulang, Biyan?" tanya orang itu. Ia berdiri dibelakang Si cowok.
Suara itu tak begitu akrab di telinga Si cowok. Ia tahu pasti kalau itu bukan suara Si gadis. Ia menoleh sekilas. Sandra tersenyum kepadanya. Si cowok tak menanggapinya.
Si cowok mengambil tasnya dan menaruhnya lagi di bahunya. Ia berdiri.
"Kau belum pulang?" tanya Si cowok datar tanpa melihat ke arahnya.
"Iya. Ini sudah mau pulang! Kau juga mau pulang, kan?"
Sandra bersemangat. Si cowok tak menyahutnya. Ia menatap Si cowok. Tapi, entah apa yang tengah dilakukan Si cowok sehingga tak melihatnya.
Si cowok membuka ponselnya. Sebuah pesan baru belum dibuka. Si cowok menekan tombol dan membacanya. Setelah selesai membaca, segera Si cowok pergi meninggalkan Sandra. Sandra heran melihat Si cowok yang pergi begitu saja. Pikiran buruk ditepisnya. Segera ia mengikuti langkah Si cowok yang cepat. Ia sudah tertinggal jauh.
+++
Beberapa menit yang lalu Si gadis sudah sampai di halaman gedung olahraga. Ia telah mengirimkan pesan singkat pada Si cowok. Dengan langkah ringan Si gadis berjalan menuju ke pintu masuk. Baru menaiki satu anak tangga Si gadis melihat Si cowok berjalan ke arahnya. Tetap seperti dulu. Masih sama. Dengan tas yang sama. Seragam yang sama. Dengan langkah ringan berjalan menuju ke tempat Si gadis. Seketika Si gadis tersenyum.
Si cowok menghentikan langkahnya begitu Si gadis tepat di depannya. Terlihat lagi senyum manis itu. Masih sama seperti dulu. Binar matanya, malah semakin sipit, tak terlihat ketika ia tersenyum. Tapi lesung pipinya, masih sama seperti dulu, ditutupi oleh rambut yang dibiarkannya tergerai.
"Sudah selesai, kan?" kata Si gadis diiringi senyum.
Si cowok tak membalasnya. Ia langsung melangkahkan kakinya. Si gadis berbalik dan segera mengejar langkah Si cowok.
Dari arah dalam, Sandra melangkahkan kakinya dengan berat. Matanya nanar. Ia tak menyangka kalau ia akan melihatnya. Ia kira hubungan mereka telah berakhir. Terlebih lagi, sikap Si cowok yang selalu dingin. Ia pikir, Si gadis sudah pergi meninggalkan Si cowok karena lelah diperlakukan seperti itu.
Sandra menghapus air matanya. Ia bertekad untuk tak menyerah disini. Si cowok bersikap dingin bukan hanya pada satu orang, tapi ke semuanya, termasuk kepadanya juga. Pada Si gadis, juga sama. Ia akan berusaha untuk mendapatkan Si cowok. Kalau Si gadis bisa, kenapa ia tak bisa. Ia akan berusaha untuk melelehkan kristal es di hati Si cowok.
+++

Back

Bintang Episode 6



Kan terulang
Tak terasa waktu telah berlalu. Si gadis banyak mendengar cerita dari Kinar. Pembicaraan sudah sampai kemana-mana. Orangnya enak untuk diajak bicara. Dan tentunya ia lebih berpengalaman dari pada Si gadis. Jadi, Si gadis bisa bertanya banyak hal yang tak diketahuinya pada Kinar. Kinar juga banyak mengomentari lukisan Si gadis. Ia bisa berbicara begitu karena ia lulusan dari bidang itu. Ia memuji lukisan si gadis.
“Ah, ini hanya hobi. Yang penting, apa yang ku pikirkan bisa tertuangkan!” kata Si gadis menyanggah.
“Itu memang benar! Seni itu menyenangkan. Tak seorang pun bisa menyamainya. Karena setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Jadi, setiap apapun yang tercipta, ya itulah apa yang ada di pikiranmu dan kau juga bisa mengekspresikan diri dengannya. Tapi, yang lebih penting lagi adalah inspirasi. Setiap orang pasti memiliki inspirasinya masing-masing. Karena tanpa adanya inspirasi karya seni itu takkan mungkin bisa terbentuk. Dia inspirasimu, ya Bintang?” ia menatap mata Si gadis.
Si gadis tak pernah memikirkan tentang hal itu. Tapi, setiap kali melukis yang ada dipikirannya hanyalah permainan basket Si cowok. Si gadis yakin, kalau Si cowok adalah Bintang baginya. Tapi kalau inspirasi, mungkin saja.
“Kau kabur lagi?”
Terdengar suara tegas bertanya. Si gadis dan Kinar langsung menoleh ke sumber suara. Air muka Kinar yang semula ceria kini berubah. Sedang Si gadis agak terkejut melihat seseorang tengah berdiri didepan mereka. Tubuhnya tegap mirip atlet. Berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Rambut pendeknya tegak lurus mengikuti pola kapalanya. Sedangkan ia memakai jas putih.
“Yah, Dokter, kayak baru sekali, saja!” kata Kinar sambil memalingkan wajahnya. “Aku pasti kembali kok, Dok! Biarkan aku disini untuk beberapa saat lagi!” katanya terdengar memohon.
Si gadis terkejut campur bingung mendengar itu. Ia bergantian melihat ke dokter dan Kinar. Ia  tak menyangka, beberapa waktu lamanya ia bersama seorang pasien. Disangkanya, ia adalah seorang kerabat dari salah satu pasien yang datang menjenguk. Tapi ternyata ia sendirilah yang seharusnya dijenguk.
“Iya. Aku adalah salah satu pasien di rumah sakit ini!” kata Kinar begitu melihat perubahan diwajah si gadis.
“Kau terkejut, ya?” tambahnya. Ia terlihat kecewa.
“Ah, tidak kok. Hanya saja...!” Si gadis menyesal. Ia jadi salah tingkah. Ia takut menyinggung perasaan Kinar.
“Lupakan saja! Aku mengerti kok atas keterjutanmu!” tersenyum pada Si gadis. “Aku lupa bilang kalau aku ini adalah pasien Leukimia disini. Tadi itu, aku habis jalan-jalan. Soalnya, membosankan sekali dikamar terus!” katanya ringan. Seolah tak ada beban apapun. Diam-diam Si gadis mengagumi Kinar yang tetap terlihat ceria meskipun sedang sakit. Ia nampak tegar.
Si dokter memperhatikan Si gadis untuk beberapa waktu. Tak pernah ia melihat seorang gadis seperti itu sebelumnya. Mungkin bukannya tak pernah lihat, tapi karena ia sendiri yang tak mau melihat, memperhatikan, perempuan, sebelumnya. Tapi kini, seseorang yang baru dilihatnya telah menarik perhatiannya. Segera ia menepis pikirannya dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Kinar memergoki Si dokter tengah memperhatikan Si gadis. Ia tersenyum menggoda. Bergantian ia melihat Si gadis dan Si dokter. Sayang, Si dokter tak melihatnya. Tapi, Si gadis melihatnya. Si gadis heran melihat Kinar.
“Cepat kembali ke kamarmu! Kau terlambat minum obat!” kata Si dokter sambil melangkah pergi.
Si gadis bingung melihat Kinar yang masih tertawa tak jelas apa maksudnya. Sementara itu, Si dokter telah pergi meninggalkan mereka. Kinar tertawa lepas sehingga Si gadis lebih bingung dan heran. Setelah puas tertawa, ia mendekatkan wajahnya pada Si gadis. Si gadis terkejut. Ia mencoba menghindar tapi dicegah oleh Kinar. Kinar membisikkan sesuatu ke telinga Si gadis.
“Hati-hati! Si Vino taruh perhatian, lo!”
Kinar beranjak dari tempatnya diiringi senyum menggoda. Dengan semangat Kinar meninggalkan Si gadis. Senyum menggoda Kinar meninggalkan tanda tanya dibenak Si gadis.
+++
“Dok, bagaimana hasilnya?” tanya Si gadis pada dokter senior yang sudah menjadi dokter pribadi keluarganya.
Dokter itu tak segera menjawab pertanyaan Si gadis. Ia menatap sayu Si gadis. Perlahan ia mengulurkan sebuah amplop putih pada Si gadis. Si gadis segera membuka dan membaca isinya.
Bumi bergetar. Nafasnya sejenak terhenti. Tangannya bergetar. Matanya berkunang-kunang mengetahui apa yang tertuliskan disitu. Lidahnya kelu. Pikiran lenyap entah kemana. Seolah dunia seisinya terbalik. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
“Kita harus memulai pengobatan dari sekarang. Itu ada obatnya. Walau baru stadium dua, kita harus mulai pengobatan sejak dini. Ini memang agak terlambat mengetahuinya, tapi daripada tidak sama sekali. Dan masalah ini harus segera disampaikan pada orang tuamu!" jelas dokter.
Terasa lemas tak bertenaga Si gadis mendengar itu semua. Ia mencoba untuk tegar dan berusaha untuk menenanngkan diri. Penolakannya untuk dirawat cukup mengejutkan sang dokter. Si gadis tak percaya kalau dirinya tengah sakit. Ia merasa baik-baik saja. Meski kadang...
Si gadis memohon pada sang dokter agar tak mengatakan tentang penyakitnya pada ayahnya. Ia berjanji akan mengatakannya sendiri. Tapi ia sendiri tak yakin, apakah ia akan mengatakannya atau tidak. Sedang, ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Ruang dokter Azran baru saja tertutup. Si gadis bersandar di pintu. Peluh terus menetes. Apa yang baru saja ia alami, sungguh sulit untuk diterimanya. Ia teringat akan orang-orang yang dicintainya. Ia tahu, apa yang dideritanya kini ada obatnya, seperrti yang dikatakan dokter Azran padanya. Tapi, kalau gagal bagaimana? Sudah banyak orang yang mati karena penyakit ini meski mereka sudah di obati, tapi gagal.
Ayahnya, biar pun terlihat tak peduli padanya, Si gadis tahu kalau ayahnya sangat mencintainya lebih dari siapa pun. Dan ibunya, yang tak sempat melihatnya tumbuh dewasa, sudah pasti sangat menyayanginya. Tapi, bayangan akan kepergiannya sungguh tak sanggup ia pikul. Masa lalu kan terulang lagi. Ayahnya akan menangis lagi dipusara orang yang sangat dikasihinya, untuk yang kedua kalinya.
Si gadis segera menyeka airmatanya. Dengan langkah berat ia meninggalkan tempat itu. Pandangan matanya kosong sehingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berpakaian putih. Tubuhnya tegap dan berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Beberapa saat ia membuntuti Si gadis dengan pandangannya.
+++

Bintang Episode 5



Terbuka, tapi tak terlihat!
Awan hitam berarakan dari segala arah. Ketika angin berhenti membawanya, maka hujan akan turun. Hari cerah terusir karenanya. Sedang hari-hari cerah Si gadis perlahan-lahan menjauhinya. Tim basket tak mau lagi berteman dengannya. Dengan sendirinya, pekerjaannya sebagai manajer tim basket telah digeser oleh Sandra. Semua menyanjung Sandra. Semua mengatakan, Sandra adalah penyelamat tim basket. Reputasi Si gadis hilang dimata tim basket. Sandra semakin akrab dengan tim basket. Sedang Si gadis dijauhi semuanya.
Si cowok tak menyangka teman se-timnya begitu cepat mengganti tempat Si gadis dengan orang lain. Kenapa mereka tak mau mendengarkan alasan Si gadis dulu sebelum memutuskan. Tempatnya begitu cepat digantikan oleh kehadiran Sandra, yang tepat pada waktunya. Apakah seorang itu begitu berharganya daripada orang yang sudah lama hadirnya. Meski kehadiran mereka sangat berarti, tapi orang lamalah yang paling berarti daripada orang yang baru datang.
Sandra kini menjadi dekat dengan tim basket. Keinginannya untuk selalu bersama Si cowok agaknya telah tercapai. Dengan menjadi manajer tim basket, jalannya terbuka lebar untuk mendekati Si cowok. Namun usahanya untuk mendekati Si cowok agaknya harus penuh dengan perjuangan. Si cowok selalu bersikap dingin padanya. Setiap kali didekati, Si cowok selalu menjauh pergi. Sungguh mengesalkan. Tapi lama-kelamaan, menyakitkan. Kehadirannya tak disadari oleh Si cowok. Ia akan berusaha agar kehadirannya diakui oleh Si cowok.
Sementara itu, Si gadis semakin sadar kalau ia dijauhi oleh anggota tim basket. Karena setiap kali ia datang, semuanya pergi meninggalkannya. Terlebih lagi Si cowok yang tak pernah dilihatnya sejak saat itu. Apa dia kecewa padaku? tanyanya dalam hati. Semua yang dimilikinya perlahan-lahan pergi menjauhinya. Ia hanya menginginkan satu hal saja jika ia harus kehilangan semuanya. Ia hanya menginginkan satu dari Si cowok, yaitu kepercayaan Si cowok padanya. Tapi begitu sulit untuk bertemu dengannya. Apa ia juga akan sebegitu sulitnya untuk mendapatkan kepercayaan Si cowok?
+++
Hari ini, Si gadis tak masuk sekolah. Ia harus memenuhi panggilan dokter. Ia sudah berkali-kali disuruh untuk memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya. Ia merasa jengkel setiap kali diingatkan akan hal itu. Tapi, ia juga penasaran dengan keadaan dirinya akhir-akhir ini, yang tiba-tiba pingsan dan mimisan.
Si gadis duduk menunggu giliran untuk pengambilan darah. Sore nanti, tim basket ada latihan, ingatnya. Beberapa hari yang lalu ia masih bersama mereka tapi kini tempatnya telah digantikan oleh orang lain. Ia tak tahu akan datang atau tidak. Terserah nanti saja! katanya pada diri sendiri. Ia mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu.
"Bintang Puspita!" panggil seorang petugas lab.
Si gadis agak terkejut. Tapi ia tahu kalau gilirannya telah tiba. Ia memasukkan kembali buku diarinya dan mengikuti petugas lab.
Pengambilan darah sudah selesai. Si gadis sudah tak sabar untuk mengetahui hasil tes darahnya. Ia menanyakan kepada petugas, kapan hasilnya akan keluar.
"Dua sampai tiga jam, hasilnya bisa diambil!" jawab Si petugas.
Si gadis bangun dari pembaringannya. Bekas jarum suntik masih menyisakan rasa nyeri. Ia melirik pada jam tangannya. Sudah jam 11, gumamnya. Si gadis memutuskan untuk mengambil hasilnya hari ini juga. Ia mengatakan pada petugas mengenai maksudnya itu. Setelah itu, Si gadis melangkahkan kakinya menuju pintu.
Si gadis melangkah dengan santai melewati lorong-lorong yang cukup ramai, ia rasa. Ia tak menyangka ada banyak orang ditempat seperti ini. Ia memperhatikan sekitar sembari terus melanjutkan langkahnya. Suasananya cukup menarik. Ada seorang anak kecil berseragam biru di kejar seorang suster. Anak kecil itu tertawa riang di kejar susternya. Si gadis tersenyum pada Si anak ketika melewatinya. Cukup mengasyikkan untuk dilihat, tapi Si gadis tak terlalu suka dengan tempat ini. Baunya tak enak. Terlebih lagi, ini adalah tempat khusus bagi orang-orang yang bermasalah. Kebanyakan penghuninya memiliki masalah dengan kesehatannya. Dan Si gadis tak mempunyai masalah dengan itu. Ia tak mau berlama-lama berada ditempat ini. Begitu ia mendapatkan hasilnya, ia akan segera pergi dari tempat ini.
Si gadis telah sampai dihalaman rumah sakit. Hari sudah siang, sekolah pasti sudah bubaran di hari Jum'at, sudah jam segini, pikir Si gadis. Dan Si cowok, mungkin ia sudah pulang dan ia tengah berlatih basket. Ia akan pergi ke sana dan membawakan mereka minuman. Dengan begitu waktu akan berlalu dengan cepat. Si gadis mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat ini menuju ke tempat Si cowok begitu teringat akan Sandra. Ia telah digantikan oleh Sandra. Jadi, keberadaannya disana tak diperlukan lagi. Terlebih lagi Sandra adalah penyelamat mereka, jadi ia tak perlu merisaukannya atau iri kepadanya. Kebutuhan tim pasti dipenuhi dengan baik oleh Sandra.
Si gadis memantapkan pilihannya untuk tetap disini. Ia akan menunggu sampai hasilnya keluar. Setelah ia tahu hasilnya, ia akan merasa lebih baik dari pada sebelumnya. Si gadis berharap, hasilnya tak akan membuatnya kecewa. Si gadis mencari tempat untuk duduk. Ia berjalan menuju ke taman.
Taman ternyata cukup ramai. Si gadis bingung mau duduk dimana. Semua tempat sudah ditempati orang. Si gadis mencari tempat yang lain untuknya duduk. Akhirnya ia melihat bangku kosong dibawah pohon rindang. Segera ia melangkah kesana.
+++
Si gadis menggoreskan pensil ke halaman kosong dibuku diarinya. Ia berkali-kali mengulanginya. Lama-kelamaan goresan-goresan itu membentuk suatu pola. Kemudian setelah dipertebal oleh Si gadis, maka nampaklah lukisan seorang pemain basket yang tengah mendrible bola dan  menghindari lawan. Si gadis mencoba menorehkan apa yang ada dipikirannya.
Dipikiran Si gadis, tergambar jelas bayangan Si cowok tengah bermain basket. Ia memejamkan matanya untuk membayangkan bagaimana Si cowok bermain dengan gesit menghindari lawan dengan membawa bola. Ia yakin, suatu hari Si cowok akan menjadi bintang basket terkenal dan terbaik. Si gadis tersenyum.
“Wah... pacarmu, ya?”             
Sebuah suara terdengar dan mengejutkan Si gadis. Sontak matanya terbuka dan mencari ke sumber suara. Orang itu merebut buku diari Si gadis untuk melihat lukisannya. Si gadis terkejut dan heran, siapa perempuan ini? tanyanya dalam hati.
“Wow... lukisanmu, bagus! Kau belajar darimana? Kau anak desain?” tanyanya. Sekilas ia melihat ke lukisan, lalu ia menatap Si gadis.
Si gadis tersenyum. Pipinya memerah. Si gadis memalingkan wajahnya.
“Hey, kau ini, malah tersenyum sendiri!” ia ikut tersenyum lalu duduk disamping Si gadis. Ia kembali memperhatikan lukisan Si gadis.
“Dia pasti tampan sekali, kan?” kata Si perempuan, “aku jadi ingin bertemu dengannya!” lanjutnya.
Si gadis agak tersentak mendengarnya. Dua kali ia dibuat terkejut dan heran karena tingkahnya. Ia jadi merasa... Sejenak ia memperhatikan wajah Si perempuan. Rambut disekitar wajahnya dibiarkannya terurai. Sedang bagian belakang diikat kuda. Ia berkata banyak pada Si gadis. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Kinar. Dia adalah tipikal orang yang mudah akrab, nilai Si gadis. Dan juga menyenangkan, tambahnya.
+++
Di tempat lain, sesuatu tengah merisaukan Si cowok. Ia mencoba untuk terus konsentrasi dengan latihannya. Sesekali ia mencuri pandang ke bangku pemain. Seseorang tengah duduk santai memperhatikannya. Rambutnya dibiarkannya tergerai. Ia tersenyum pada Si cowok. Tapi, tak semanis senyum seseorang yang ia harapkan. Si cowok memalingkan wajahnya dan berlari mengejar bola.
Sungguh menyakitkan terasa. Orang yang disuka tak pernah melihatnya. Biarpun menghadap, tapi orang lain yang ada di matanya. Kesal. Ingin marah, tapi pada siapa. Kecewa. Diri terasa hancur. Ia dibudaki oleh perasaannya. Si cowok tak mau mengertinya. Si cowok tak mau membuka hatinya yang telah ia ketuk beribu kali. Gunung es membekukan hatinya. Sandra menundukkan wajahnya. Air mata menetes menuruni pipinya yang putih.
+++