Keyakinan
Seperti biasa, Si gadis duduk dibangku pemain menunggu
latihan usai. Ia baru saja kembali dari membeli minuman dan menyiapkan
peralatan untuk besok. Sekarang ia tinggal duduk manis sambil menunggu latihan
selesai. Setelah itu, ia akan membagikan minuman pada semuanya.
Si gadis menulis sesuatu di buku diarinya. Tiba-tiba darah
segar mengalir tanpa ia sadari hingga jatuh menetes ke buku diarinya. Si gadis
terkejut melihatnya. Ia langsung menutupi hidungnya dengan telapak tangan
kirinya. Bolpoint-nya, ia lepaskan dan mengambil tisu dari dalam tasnya. Dengan
segera ia mengelap darah dari hidungnya. Namun, darahnya tak kunjung berhenti.
Si cowok yang berada di tengah lapangan tanpa sengaja
melihat ke arah Si gadis. Ia menghentikan langkahnya untuk mengejar bola. Ia
sejenak terpaku melihat Si gadis yang terlihat agak aneh. Ada sesuatu yang
mengganjal pikirannya.
"Latihan cukup untuk hari ini! Simpan tenaga untuk
besok!" kata Si cowok tanpa menoleh ke arah teman-temannya.
Ia melangkah ke arah Si gadis tanpa mempedulikan
teman-temannya yang berjatuhan ke lantai. Latihan cukup melelahkan dihari
terakhir kiranya.
Si gadis segera menyelesaikannya begitu terdengar suara
gesekan sepatu dengan lantai. Ia segera menyembunyikan tisu yang telah ia
gunakan untuk mengelap darahnya dan menutup buku diarinya.
"Umm.. sudah selesai?" sapa Si gadis diiringi
senyum.
Si cowok tak membalas dan duduk disamping Si gadis. Si gadis
mengambil sebotol minuman dari kantung plastik dan diberikannya pada Si cowok.
"Aku akan memberikannya pada yang lain!" kata Si
gadis.
Sebelum beranjak, Si gadis tersenyum sekilas pada Si cowok.
Tapi, senyum itu terlihat tak seperti biasanya. Mata sipitnya tak terlihat
bersinar lagi. Bibirnya terlihat bergetar. Apa mungkin kau kelelahan? tanya Si
cowok pada diri sendiri. Pandangannya tak lepas dari Si gadis.
+++
Pertandingan akan di mulai pada jam 9 pagi. Sejak jam 5 Si
gadis sudah bangun dan bersiap-siap mau berangkat. Semua keperluan tim basket
sudah ia siapkan dan ia letakkan di tempat penyimpanan khusus tim basket untuk
menghindari apabila terjadi ketinggalan atau kelupaan. Ia akan berangkat ke
sekolah dulu untuk mengambilnya sebelum ke tempat pertandingan.
Ia menuruni tangga satu persatu dari atas sampai bawah. Ia
tak sempat untuk sarapan terlebih dahulu. Ia harus sampai di sekolah lebih dulu
sebelum semuanya.
"Tak sempat, Bi! Nanti aku akan cari disana saja,
sarapannya!" kata Si gadis ketika disuruh sarapan oleh Si bibi.
Ketika Si gadis akan membuka pintu, kepalanya terasa berat.
Darah mengalir lagi dari hidungnya. Bumi bergoyang. Seketika pijakannya goyah.
Si gadis jatuh tergeletak di lantai.
+++
Di tempat lain, sebentar lagi pertandingan akan dimulai.
Semua gelisah, sang manajer tak kunjung datang. Terlebih Si cowok. Ia duduk
tenang di bangku pemain, tapi pikirannya menglana kemana-mana. Terlihat santai.
Tapi ia gelisah. Si gadis tak kunjung datang. Berkali-kali ia mencoba
menghubungi Si gadis tapi tak ada jawaban. Ponsel ia bolak-balik di telapak
tangannya.
"Biyan, kau sudah menghubunginya?" tanya Melky. Ia
nampak bingung.
"Sudah!" jawab Si cowok datar. Pikirannya tak
tenang.
"Mungkin sebentar lagi, Bintang datang!" kak Roi
menenangkan.
"Semoga saja!" sahut Joe berharap.
Semua panik. Melky dan Joe bolak-balik kayak setrika. Sedang
kak Roi, kadang berdiri, lalu duduk. Soni mencoba bersikap tenang seperti Si
cowok.
Si cowok memanggil-manggil nama Si gadis dipikirannya. Ia
memejamkan matanya dan membayangkan wajah Si gadis. Dimana kau sekarang? kata
Si cowok lirih.
"Teman-teman!"
Sebuah suara mengejutkan. Mereka senang mendengar suara itu.
Sontak semua berbalik dan pandangan tertuju pada siapa yang datang.
Si cowok membuka mata dan melihat siapa yang datang. Bukan
seseorang yang ia harapkan. Kemana Si gadis sebenarnya? Semangatnya luruh
seketika.
"Sandra!" kata Soni terkejut.
+++
Waktu adalah uang bagi sebagian orang. Tapi, yang lain
mengatakan kalau waktu adalah pedang. Yang siap siaga, melukai siapa saja yang
mengkhianatinya. Namun, agaknya kini waktulah yang telah mengkhianati Si gadis.
Waktu tak mau mendukungnya. Waktu tak mengizinkannya datang ke pertandingan.
Dan waktu membiarkannya terbaring di tempat tidur seharian.
Waktu juga tak mengizinkan dokter untuk datang memeriksanya.
Dokter pergi keluar kota, sehingga tak bisa datang untuk memeriksanya. Sedang,
waktu terus berjalan meninggalkan Si gadis. Waktu terus berjalan tanpa henti,
tanpa peduli, dan meninggalkan Si gadis yang tengah terbaring tak sadarkan
diri.
Kringg.
Telepon rumah berdering. Si bibi jalan tergopoh-gopoh
menghampiri telepon yang terus meraung.
"Halo.." kata Si bibi setelah meletakkan gagang
telepon di telinganya.
"Iya, Dok. Non Bintang belum sadar sejak pagi. Cepat
datang, Dok!" kata Si bibi terdengar panik.
Hatinya sedikit lega menerima telepon itu. Si bibi segera
meletakkan gagang teleponnya kembali setelah orang yang diseberang telah
mengakhiri pembicaraannya. Si bibi segera beranjak dari tempatnya menuju ke
kamar Si gadis.
+++
Peluh merembes keluar melalui pori-pori kulit Si gadis.
Binar mata Si gadis tak terlihat lagi. Bibirnya yang selalu mengulam senyum
kini terkatup rapat. Senyumnya musnah karena ketidak berdayaannya.
Tak ada badai dan tak ada hujan. Mata Si gadis tiba-tiba
terbuka lebar. Ia langsung terbangun dari tidurnya. Ingatan akan
tanggungjawabnya menghampiri. Sontak ia berdiri. Pijakannya terasa goyah tapi
ia berusaha untuk berdiri dengan tegap. Ia berjalan merapat ke meja belajarnya
dan meraih tasnya yang berada diatas meja. Meski tubuh terasa berat, ia tetap
memaksakan diri untuk berjalan, walau pelan.
Pintu terbuka. Si bibi muncul dari balik pintu. Si bibi
terkejut mendapati Si gadis berjalan mendekati pintu. Segera Si bibi
menghampiri Si gadis dan memeganginya. Si bibi tak mengerti apa yang telah
terjadi. Kenapa Si gadis mau pergi disaat kondisinya seperti ini. Si bibi
mencoba mencegah tapi ia kalah dengan pendirian Si gadis. Si gadis terus
berjalan keluar. Ia mengatakan kalau ia baik-baik saja. Tapi ia terlihat jauh
dari apa yang disebut baik.
"Sebentar lagi dokter tiba. Jangan pergi dalam keadaan
begini!" cegah Si bibi. Suaranya terdengar khawatir.
"Aku sudah berjanji. Aku.. baik-baik saja!" kata
Si gadis menghibur begitu ia masuk ke taksi. Suaranya terdengar lesu.
Si bibi mengikuti mobil taksi yang ditumpangi Si gadis
dengan pandangannya. Serta diiringi oleh perasaan khawatir pada Si gadis. Si
bibi tahu pasti seperti apa Si gadis yang diasuhnya itu. Sejak kecil ia yang
merawatnya setelah kematian ibunya. Kalau sudah begitu, tak bisa untuk dirubah
lagi keputusannya itu. Si bibi hanya berharap tak terjadi apa-apa pada Si
gadis.
+++
Si gadis berjalan menuju ke lapangan basket tempat
diadakannya pertandingan. Begitu sampai di pintu masuk, pandangannya agak
kabur. Ia merapat ke dinding disampingnya. Ia tersembunyi dari balik bayangan
gelap bulan. Beberapa saat lamanya ia berada disitu.
Terdengar langkah ringan mendekat dari arah dalam. Terlalu
jauh. Sehingga Si gadis tak bisa mengenali siapa yang berjalan mendekat.
Terlebih lagi, cahaya yang kurang. Si gadis berdiri dengan tegap dan mulai
melangkah lagi. Si gadis baru melangkah sekali tapi ia sudah menghentikan
langkahnya. Seseorang yang diseberang juga demikian. Ia menghentikan langkahnya
begitu agak dekat dengan Si gadis.
Apa yang ia yakini benar-benar telah terjadi. Si gadis telah
menepati janjinya. Si cowok bahagia melihat Si gadis kini berdiri didepannya.
Tak sia-sia ia menunggu selama itu. Seseorang yang ia tunggu kini telah datang.
Si gadis berdiri terpaku. Tepat didepannya, Si cowok
menatapnya dengan teduh. Ia bahagia melihat tatapan itu. Sekilas ia melihat senyum
Si cowok. Baru pertama kalinya ia melihat senyum Si cowok. Namun seolah itu
bukan suatu hal besar yang pernah ia rasakan, yang membuat hatinya berbunga.
Tapi malah terasa pahit, ia rasa. Ia telah gagal. Ia menjadikan seluruh tim
hancur, tapi ia malah menerima hadiah senyum dari Si cowok. Si gadis
menundukkan kepala. Rasanya tak karuan. Ia merasa tak berguna.
"Maaf... aku terlambat!" kata Si gadis lirih.
Matanya berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Si cowok.
"Semua... sudah berakhir!" kata Si cowok datar. Ia
melangkahkan kakinya hingga melewati Si gadis.
"Maaf, aku telah mengecewakanmu! Aku tak bisa memenuhi
harapan kalian. Aku.. merusak semuanya. Aku..." tangis Si gadis tumpah.
Air mata terus bercucuran. Si cowok menghentikan langkahnya.
Si gadis tetap bergeming. Air matanya terus menetes menuruni
pipinya. Membasahi lesung pipinya. Bibirnya bergetar.
"Maafkan aku!" ulangnya lagi tanpa berbalik
menghadap Si cowok. Ia masih menunduk.
Si cowok berbalik dan menghampirinya. Ia memutar tubuh Si
gadis dan mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia
tersenyum lalu mengusap air mata Si gadis dengan kedua ujung jari telapak
tangannya.
"Jangan bersedih! Semua berjalan lancar. Aku yakin kau
akan datang. Kau pasti punya alasan untuk ini!" kata Si cowok terdengar
menghibur.
Mata coklatnya menatap tajam mata Si gadis. Si gadis tetap
meneteskan air matanya. Ia melepas pegangan Si cowok dari kepalanya.
Pandangannya berpaling dari Si cowok. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia
kecewa pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia begitu disaat yang penting. Ia
menyalahkan dirinya yang tak bisa melakukan tanggungjawabnya dengan baik. Ia
merasa tak berguna bagi semuanya.
Seseorang menyaksikan itu dari dalam. Sandra masih disana.
Ia menunggu Si cowok dan berharap ia bisa pulang bareng Si cowok. Tapi
keinginannya telah kandas ketika Si gadis datang. Terlebih setelah melihat apa
yang telah terjadi. Hatinya hancur. Ia tambah benci pada Si gadis yang merebut
momennya. Mengambil kesempatannya.
Ia melihat kedekatan Si cowok pada Si gadis, ia jadi iri
padanya. Si cowok telah melupakan keberadaannya. Mereka meninggalkannya seolah
ia tak pernah ada. Beberapa waktu lamanya ia menunggu Si cowok tapi kini Si
cowok pergi dengan orang lain. Si cowok tak mau melihatnya barang satu detik,
ia telah salah menilainya.
"Tidak!" katanya.
Ia bersemangat kembali. Tak tahu apa yang tengah
dipikirkannya kini.
+++