Rabu, 31 Mei 2017

Bintang Episode 7



Tekad
Burung merpati bercengkrama riuh dengan anak-anaknya didahan pohon. Sedang, kelelawar dan burung-burung yang lain telah kembali dari perburuaannya. Orang-orang telah kembali dari kesibukannya. Sementara itu, Si gadis masih duduk termenung di taman kota.
Sudah beberapa jam ia duduk diam tak melakukan apapun, pikirannya mengambang. Tatapan kosong. Beberapa waktu lamanya ia diam membisu. Jika pun, pulang, tetap saja sendiri. Orang-orang silih berganti melewatinya. Mereka heran melihat Si gadis yang duduk melamun. Ia tak memiliki siapa pun lagi. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah ayahnya seorang. Tapi, sudah lama sekali Si gadis tak bertatap muka dengan ayahnya.
Seketika mata sipit Si gadis yang mulai meredup kembali bersinar. Pikirannya telah kembali. Ia masih memilikinya. Ia masih memiliki seseorang yang sangat dicintainya, mencintainya. Ia masih memiliki Si cowok. Walaupun Si cowok tak pernah mengatakan cinta atau sayang, tapi ia yakin kalau Si cowok menyayanginya. Ia tak merisaukan itu. Yang penting, ia masih memiliki seseorang yang penting baginya. Ia tahu kalau Si cowok setia padanya. Tak pernah Si cowok melukainya.
Segera Si gadis mengambil ponsel-nya dari dalam tas. Ia membuka kontak nama dan memencet tombol hijau setelah menemukan nama yang ia cari. Semangatnya telah kembali. Harapan dan impiannya kembali cerah. Ia tak peduli lagi dengan apa yang telah terjadi padanya hari ini. Yang penting, masih ada orang lain yang menjadikannya penting.
Setelah berbicara agak panjang di telepon, Si gadis tersenyum lebar. Ia telah kembali lagi seperti dulu. Segera ia beranjak dari tempatnya.
+++
Terkejut. Bingung juga. Tapi, senang. Itulah kiranya yang tengah dirasakan oleh Si cowok. Terkejut, tiba-tiba saja ponsel-nya berdering ketika ia beristirahat setelah selesai latihan. Ia sudah mau pulang, tapi Si gadis bilang akan datang. Ia jadi heran. Kenapa Si gadis tak datang ketika ia latihan dan, malah mau datang setelah latihan usai? Kenapa ia tak membawakan minum lagi seperti dulu? Tapi, ia senang mendengar Si gadis akan datang. Ia akan berlama-lama disana menunggu Si gadis.
"Biyan, kau tak pulang?" tanya Melky.
Melky, Soni, Joe, dan kak Roi menghampiri Si cowok yang tengah duduk nglesot di bawah ring. Mereka semua ikut nglesot. Si cowok tengah menengguk minumnya.
"Biyan, kau tak pulang?" ulang Melky.
"Nanti saja!" jawab Si cowok datar.
"Ya sudah! Duluan, ya!" Melky berdiri.
"Aku juga!" sambung Soni.
"Tunggu aku!" Joe bangkit dengan cepat dan mengejar Melky dan Soni.
Sedang kak Roi masih duduk berselonjor kaki. Nafasnya masih putus-putus. Si cowok diam tak berkomentar.
"Bintang kok tak pernah datang, ya? Aku jadi kangen!" kata kak Roi tiba-tiba.
Si cowok tersentak. Segera ia menyembunyikan perubahan wajahnya. Ia tak mengira kalau kak Roi akan berkata seperti itu. Ia menatap kosong ke tempat lain. Apa kak Roi tak tau kedekatannya dengan Si gadis? Apa ia tidak tahu kalau Si gadis sudah ada yang punya? Terlebih lagi ia berkata begitu di depannya, gerutu Si cowok.
"Ya sudah! Aku pulang dulu. Mungkin besok ia akan datang kayak dulu. Kan jadi rame!" lanjut kak Roi diiringi senyum. Ia menepuk bahu Si cowok lalu berdiri. "Oya, kau tak pulang besamaku?"
"Kau duluan!" kata Si cowok tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Kak Roi melangkahkan kakinya. Tiba-tiba kak Roi menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Oya, jangan diambil hati soal kangen tadi!" gingsulnya terlihat. Si cowok hanya menatapnya datar.
Kak Roi tersenyum. Lalu ia pergi meninggalkan Si cowok sendiri. Mereka tak tahu kalau mereka tidak hanya berdua. Seseorang tengah menunggu kepergian kak Roi. Setelah Si cowok sendirian, perlahan ia mendekati Si cowok.
"Kau tak pulang, Biyan?" tanya orang itu. Ia berdiri dibelakang Si cowok.
Suara itu tak begitu akrab di telinga Si cowok. Ia tahu pasti kalau itu bukan suara Si gadis. Ia menoleh sekilas. Sandra tersenyum kepadanya. Si cowok tak menanggapinya.
Si cowok mengambil tasnya dan menaruhnya lagi di bahunya. Ia berdiri.
"Kau belum pulang?" tanya Si cowok datar tanpa melihat ke arahnya.
"Iya. Ini sudah mau pulang! Kau juga mau pulang, kan?"
Sandra bersemangat. Si cowok tak menyahutnya. Ia menatap Si cowok. Tapi, entah apa yang tengah dilakukan Si cowok sehingga tak melihatnya.
Si cowok membuka ponselnya. Sebuah pesan baru belum dibuka. Si cowok menekan tombol dan membacanya. Setelah selesai membaca, segera Si cowok pergi meninggalkan Sandra. Sandra heran melihat Si cowok yang pergi begitu saja. Pikiran buruk ditepisnya. Segera ia mengikuti langkah Si cowok yang cepat. Ia sudah tertinggal jauh.
+++
Beberapa menit yang lalu Si gadis sudah sampai di halaman gedung olahraga. Ia telah mengirimkan pesan singkat pada Si cowok. Dengan langkah ringan Si gadis berjalan menuju ke pintu masuk. Baru menaiki satu anak tangga Si gadis melihat Si cowok berjalan ke arahnya. Tetap seperti dulu. Masih sama. Dengan tas yang sama. Seragam yang sama. Dengan langkah ringan berjalan menuju ke tempat Si gadis. Seketika Si gadis tersenyum.
Si cowok menghentikan langkahnya begitu Si gadis tepat di depannya. Terlihat lagi senyum manis itu. Masih sama seperti dulu. Binar matanya, malah semakin sipit, tak terlihat ketika ia tersenyum. Tapi lesung pipinya, masih sama seperti dulu, ditutupi oleh rambut yang dibiarkannya tergerai.
"Sudah selesai, kan?" kata Si gadis diiringi senyum.
Si cowok tak membalasnya. Ia langsung melangkahkan kakinya. Si gadis berbalik dan segera mengejar langkah Si cowok.
Dari arah dalam, Sandra melangkahkan kakinya dengan berat. Matanya nanar. Ia tak menyangka kalau ia akan melihatnya. Ia kira hubungan mereka telah berakhir. Terlebih lagi, sikap Si cowok yang selalu dingin. Ia pikir, Si gadis sudah pergi meninggalkan Si cowok karena lelah diperlakukan seperti itu.
Sandra menghapus air matanya. Ia bertekad untuk tak menyerah disini. Si cowok bersikap dingin bukan hanya pada satu orang, tapi ke semuanya, termasuk kepadanya juga. Pada Si gadis, juga sama. Ia akan berusaha untuk mendapatkan Si cowok. Kalau Si gadis bisa, kenapa ia tak bisa. Ia akan berusaha untuk melelehkan kristal es di hati Si cowok.
+++

Back

Bintang Episode 6



Kan terulang
Tak terasa waktu telah berlalu. Si gadis banyak mendengar cerita dari Kinar. Pembicaraan sudah sampai kemana-mana. Orangnya enak untuk diajak bicara. Dan tentunya ia lebih berpengalaman dari pada Si gadis. Jadi, Si gadis bisa bertanya banyak hal yang tak diketahuinya pada Kinar. Kinar juga banyak mengomentari lukisan Si gadis. Ia bisa berbicara begitu karena ia lulusan dari bidang itu. Ia memuji lukisan si gadis.
“Ah, ini hanya hobi. Yang penting, apa yang ku pikirkan bisa tertuangkan!” kata Si gadis menyanggah.
“Itu memang benar! Seni itu menyenangkan. Tak seorang pun bisa menyamainya. Karena setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Jadi, setiap apapun yang tercipta, ya itulah apa yang ada di pikiranmu dan kau juga bisa mengekspresikan diri dengannya. Tapi, yang lebih penting lagi adalah inspirasi. Setiap orang pasti memiliki inspirasinya masing-masing. Karena tanpa adanya inspirasi karya seni itu takkan mungkin bisa terbentuk. Dia inspirasimu, ya Bintang?” ia menatap mata Si gadis.
Si gadis tak pernah memikirkan tentang hal itu. Tapi, setiap kali melukis yang ada dipikirannya hanyalah permainan basket Si cowok. Si gadis yakin, kalau Si cowok adalah Bintang baginya. Tapi kalau inspirasi, mungkin saja.
“Kau kabur lagi?”
Terdengar suara tegas bertanya. Si gadis dan Kinar langsung menoleh ke sumber suara. Air muka Kinar yang semula ceria kini berubah. Sedang Si gadis agak terkejut melihat seseorang tengah berdiri didepan mereka. Tubuhnya tegap mirip atlet. Berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Rambut pendeknya tegak lurus mengikuti pola kapalanya. Sedangkan ia memakai jas putih.
“Yah, Dokter, kayak baru sekali, saja!” kata Kinar sambil memalingkan wajahnya. “Aku pasti kembali kok, Dok! Biarkan aku disini untuk beberapa saat lagi!” katanya terdengar memohon.
Si gadis terkejut campur bingung mendengar itu. Ia bergantian melihat ke dokter dan Kinar. Ia  tak menyangka, beberapa waktu lamanya ia bersama seorang pasien. Disangkanya, ia adalah seorang kerabat dari salah satu pasien yang datang menjenguk. Tapi ternyata ia sendirilah yang seharusnya dijenguk.
“Iya. Aku adalah salah satu pasien di rumah sakit ini!” kata Kinar begitu melihat perubahan diwajah si gadis.
“Kau terkejut, ya?” tambahnya. Ia terlihat kecewa.
“Ah, tidak kok. Hanya saja...!” Si gadis menyesal. Ia jadi salah tingkah. Ia takut menyinggung perasaan Kinar.
“Lupakan saja! Aku mengerti kok atas keterjutanmu!” tersenyum pada Si gadis. “Aku lupa bilang kalau aku ini adalah pasien Leukimia disini. Tadi itu, aku habis jalan-jalan. Soalnya, membosankan sekali dikamar terus!” katanya ringan. Seolah tak ada beban apapun. Diam-diam Si gadis mengagumi Kinar yang tetap terlihat ceria meskipun sedang sakit. Ia nampak tegar.
Si dokter memperhatikan Si gadis untuk beberapa waktu. Tak pernah ia melihat seorang gadis seperti itu sebelumnya. Mungkin bukannya tak pernah lihat, tapi karena ia sendiri yang tak mau melihat, memperhatikan, perempuan, sebelumnya. Tapi kini, seseorang yang baru dilihatnya telah menarik perhatiannya. Segera ia menepis pikirannya dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Kinar memergoki Si dokter tengah memperhatikan Si gadis. Ia tersenyum menggoda. Bergantian ia melihat Si gadis dan Si dokter. Sayang, Si dokter tak melihatnya. Tapi, Si gadis melihatnya. Si gadis heran melihat Kinar.
“Cepat kembali ke kamarmu! Kau terlambat minum obat!” kata Si dokter sambil melangkah pergi.
Si gadis bingung melihat Kinar yang masih tertawa tak jelas apa maksudnya. Sementara itu, Si dokter telah pergi meninggalkan mereka. Kinar tertawa lepas sehingga Si gadis lebih bingung dan heran. Setelah puas tertawa, ia mendekatkan wajahnya pada Si gadis. Si gadis terkejut. Ia mencoba menghindar tapi dicegah oleh Kinar. Kinar membisikkan sesuatu ke telinga Si gadis.
“Hati-hati! Si Vino taruh perhatian, lo!”
Kinar beranjak dari tempatnya diiringi senyum menggoda. Dengan semangat Kinar meninggalkan Si gadis. Senyum menggoda Kinar meninggalkan tanda tanya dibenak Si gadis.
+++
“Dok, bagaimana hasilnya?” tanya Si gadis pada dokter senior yang sudah menjadi dokter pribadi keluarganya.
Dokter itu tak segera menjawab pertanyaan Si gadis. Ia menatap sayu Si gadis. Perlahan ia mengulurkan sebuah amplop putih pada Si gadis. Si gadis segera membuka dan membaca isinya.
Bumi bergetar. Nafasnya sejenak terhenti. Tangannya bergetar. Matanya berkunang-kunang mengetahui apa yang tertuliskan disitu. Lidahnya kelu. Pikiran lenyap entah kemana. Seolah dunia seisinya terbalik. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
“Kita harus memulai pengobatan dari sekarang. Itu ada obatnya. Walau baru stadium dua, kita harus mulai pengobatan sejak dini. Ini memang agak terlambat mengetahuinya, tapi daripada tidak sama sekali. Dan masalah ini harus segera disampaikan pada orang tuamu!" jelas dokter.
Terasa lemas tak bertenaga Si gadis mendengar itu semua. Ia mencoba untuk tegar dan berusaha untuk menenanngkan diri. Penolakannya untuk dirawat cukup mengejutkan sang dokter. Si gadis tak percaya kalau dirinya tengah sakit. Ia merasa baik-baik saja. Meski kadang...
Si gadis memohon pada sang dokter agar tak mengatakan tentang penyakitnya pada ayahnya. Ia berjanji akan mengatakannya sendiri. Tapi ia sendiri tak yakin, apakah ia akan mengatakannya atau tidak. Sedang, ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Ruang dokter Azran baru saja tertutup. Si gadis bersandar di pintu. Peluh terus menetes. Apa yang baru saja ia alami, sungguh sulit untuk diterimanya. Ia teringat akan orang-orang yang dicintainya. Ia tahu, apa yang dideritanya kini ada obatnya, seperrti yang dikatakan dokter Azran padanya. Tapi, kalau gagal bagaimana? Sudah banyak orang yang mati karena penyakit ini meski mereka sudah di obati, tapi gagal.
Ayahnya, biar pun terlihat tak peduli padanya, Si gadis tahu kalau ayahnya sangat mencintainya lebih dari siapa pun. Dan ibunya, yang tak sempat melihatnya tumbuh dewasa, sudah pasti sangat menyayanginya. Tapi, bayangan akan kepergiannya sungguh tak sanggup ia pikul. Masa lalu kan terulang lagi. Ayahnya akan menangis lagi dipusara orang yang sangat dikasihinya, untuk yang kedua kalinya.
Si gadis segera menyeka airmatanya. Dengan langkah berat ia meninggalkan tempat itu. Pandangan matanya kosong sehingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berpakaian putih. Tubuhnya tegap dan berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Beberapa saat ia membuntuti Si gadis dengan pandangannya.
+++

Bintang Episode 5



Terbuka, tapi tak terlihat!
Awan hitam berarakan dari segala arah. Ketika angin berhenti membawanya, maka hujan akan turun. Hari cerah terusir karenanya. Sedang hari-hari cerah Si gadis perlahan-lahan menjauhinya. Tim basket tak mau lagi berteman dengannya. Dengan sendirinya, pekerjaannya sebagai manajer tim basket telah digeser oleh Sandra. Semua menyanjung Sandra. Semua mengatakan, Sandra adalah penyelamat tim basket. Reputasi Si gadis hilang dimata tim basket. Sandra semakin akrab dengan tim basket. Sedang Si gadis dijauhi semuanya.
Si cowok tak menyangka teman se-timnya begitu cepat mengganti tempat Si gadis dengan orang lain. Kenapa mereka tak mau mendengarkan alasan Si gadis dulu sebelum memutuskan. Tempatnya begitu cepat digantikan oleh kehadiran Sandra, yang tepat pada waktunya. Apakah seorang itu begitu berharganya daripada orang yang sudah lama hadirnya. Meski kehadiran mereka sangat berarti, tapi orang lamalah yang paling berarti daripada orang yang baru datang.
Sandra kini menjadi dekat dengan tim basket. Keinginannya untuk selalu bersama Si cowok agaknya telah tercapai. Dengan menjadi manajer tim basket, jalannya terbuka lebar untuk mendekati Si cowok. Namun usahanya untuk mendekati Si cowok agaknya harus penuh dengan perjuangan. Si cowok selalu bersikap dingin padanya. Setiap kali didekati, Si cowok selalu menjauh pergi. Sungguh mengesalkan. Tapi lama-kelamaan, menyakitkan. Kehadirannya tak disadari oleh Si cowok. Ia akan berusaha agar kehadirannya diakui oleh Si cowok.
Sementara itu, Si gadis semakin sadar kalau ia dijauhi oleh anggota tim basket. Karena setiap kali ia datang, semuanya pergi meninggalkannya. Terlebih lagi Si cowok yang tak pernah dilihatnya sejak saat itu. Apa dia kecewa padaku? tanyanya dalam hati. Semua yang dimilikinya perlahan-lahan pergi menjauhinya. Ia hanya menginginkan satu hal saja jika ia harus kehilangan semuanya. Ia hanya menginginkan satu dari Si cowok, yaitu kepercayaan Si cowok padanya. Tapi begitu sulit untuk bertemu dengannya. Apa ia juga akan sebegitu sulitnya untuk mendapatkan kepercayaan Si cowok?
+++
Hari ini, Si gadis tak masuk sekolah. Ia harus memenuhi panggilan dokter. Ia sudah berkali-kali disuruh untuk memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya. Ia merasa jengkel setiap kali diingatkan akan hal itu. Tapi, ia juga penasaran dengan keadaan dirinya akhir-akhir ini, yang tiba-tiba pingsan dan mimisan.
Si gadis duduk menunggu giliran untuk pengambilan darah. Sore nanti, tim basket ada latihan, ingatnya. Beberapa hari yang lalu ia masih bersama mereka tapi kini tempatnya telah digantikan oleh orang lain. Ia tak tahu akan datang atau tidak. Terserah nanti saja! katanya pada diri sendiri. Ia mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu.
"Bintang Puspita!" panggil seorang petugas lab.
Si gadis agak terkejut. Tapi ia tahu kalau gilirannya telah tiba. Ia memasukkan kembali buku diarinya dan mengikuti petugas lab.
Pengambilan darah sudah selesai. Si gadis sudah tak sabar untuk mengetahui hasil tes darahnya. Ia menanyakan kepada petugas, kapan hasilnya akan keluar.
"Dua sampai tiga jam, hasilnya bisa diambil!" jawab Si petugas.
Si gadis bangun dari pembaringannya. Bekas jarum suntik masih menyisakan rasa nyeri. Ia melirik pada jam tangannya. Sudah jam 11, gumamnya. Si gadis memutuskan untuk mengambil hasilnya hari ini juga. Ia mengatakan pada petugas mengenai maksudnya itu. Setelah itu, Si gadis melangkahkan kakinya menuju pintu.
Si gadis melangkah dengan santai melewati lorong-lorong yang cukup ramai, ia rasa. Ia tak menyangka ada banyak orang ditempat seperti ini. Ia memperhatikan sekitar sembari terus melanjutkan langkahnya. Suasananya cukup menarik. Ada seorang anak kecil berseragam biru di kejar seorang suster. Anak kecil itu tertawa riang di kejar susternya. Si gadis tersenyum pada Si anak ketika melewatinya. Cukup mengasyikkan untuk dilihat, tapi Si gadis tak terlalu suka dengan tempat ini. Baunya tak enak. Terlebih lagi, ini adalah tempat khusus bagi orang-orang yang bermasalah. Kebanyakan penghuninya memiliki masalah dengan kesehatannya. Dan Si gadis tak mempunyai masalah dengan itu. Ia tak mau berlama-lama berada ditempat ini. Begitu ia mendapatkan hasilnya, ia akan segera pergi dari tempat ini.
Si gadis telah sampai dihalaman rumah sakit. Hari sudah siang, sekolah pasti sudah bubaran di hari Jum'at, sudah jam segini, pikir Si gadis. Dan Si cowok, mungkin ia sudah pulang dan ia tengah berlatih basket. Ia akan pergi ke sana dan membawakan mereka minuman. Dengan begitu waktu akan berlalu dengan cepat. Si gadis mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat ini menuju ke tempat Si cowok begitu teringat akan Sandra. Ia telah digantikan oleh Sandra. Jadi, keberadaannya disana tak diperlukan lagi. Terlebih lagi Sandra adalah penyelamat mereka, jadi ia tak perlu merisaukannya atau iri kepadanya. Kebutuhan tim pasti dipenuhi dengan baik oleh Sandra.
Si gadis memantapkan pilihannya untuk tetap disini. Ia akan menunggu sampai hasilnya keluar. Setelah ia tahu hasilnya, ia akan merasa lebih baik dari pada sebelumnya. Si gadis berharap, hasilnya tak akan membuatnya kecewa. Si gadis mencari tempat untuk duduk. Ia berjalan menuju ke taman.
Taman ternyata cukup ramai. Si gadis bingung mau duduk dimana. Semua tempat sudah ditempati orang. Si gadis mencari tempat yang lain untuknya duduk. Akhirnya ia melihat bangku kosong dibawah pohon rindang. Segera ia melangkah kesana.
+++
Si gadis menggoreskan pensil ke halaman kosong dibuku diarinya. Ia berkali-kali mengulanginya. Lama-kelamaan goresan-goresan itu membentuk suatu pola. Kemudian setelah dipertebal oleh Si gadis, maka nampaklah lukisan seorang pemain basket yang tengah mendrible bola dan  menghindari lawan. Si gadis mencoba menorehkan apa yang ada dipikirannya.
Dipikiran Si gadis, tergambar jelas bayangan Si cowok tengah bermain basket. Ia memejamkan matanya untuk membayangkan bagaimana Si cowok bermain dengan gesit menghindari lawan dengan membawa bola. Ia yakin, suatu hari Si cowok akan menjadi bintang basket terkenal dan terbaik. Si gadis tersenyum.
“Wah... pacarmu, ya?”             
Sebuah suara terdengar dan mengejutkan Si gadis. Sontak matanya terbuka dan mencari ke sumber suara. Orang itu merebut buku diari Si gadis untuk melihat lukisannya. Si gadis terkejut dan heran, siapa perempuan ini? tanyanya dalam hati.
“Wow... lukisanmu, bagus! Kau belajar darimana? Kau anak desain?” tanyanya. Sekilas ia melihat ke lukisan, lalu ia menatap Si gadis.
Si gadis tersenyum. Pipinya memerah. Si gadis memalingkan wajahnya.
“Hey, kau ini, malah tersenyum sendiri!” ia ikut tersenyum lalu duduk disamping Si gadis. Ia kembali memperhatikan lukisan Si gadis.
“Dia pasti tampan sekali, kan?” kata Si perempuan, “aku jadi ingin bertemu dengannya!” lanjutnya.
Si gadis agak tersentak mendengarnya. Dua kali ia dibuat terkejut dan heran karena tingkahnya. Ia jadi merasa... Sejenak ia memperhatikan wajah Si perempuan. Rambut disekitar wajahnya dibiarkannya terurai. Sedang bagian belakang diikat kuda. Ia berkata banyak pada Si gadis. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Kinar. Dia adalah tipikal orang yang mudah akrab, nilai Si gadis. Dan juga menyenangkan, tambahnya.
+++
Di tempat lain, sesuatu tengah merisaukan Si cowok. Ia mencoba untuk terus konsentrasi dengan latihannya. Sesekali ia mencuri pandang ke bangku pemain. Seseorang tengah duduk santai memperhatikannya. Rambutnya dibiarkannya tergerai. Ia tersenyum pada Si cowok. Tapi, tak semanis senyum seseorang yang ia harapkan. Si cowok memalingkan wajahnya dan berlari mengejar bola.
Sungguh menyakitkan terasa. Orang yang disuka tak pernah melihatnya. Biarpun menghadap, tapi orang lain yang ada di matanya. Kesal. Ingin marah, tapi pada siapa. Kecewa. Diri terasa hancur. Ia dibudaki oleh perasaannya. Si cowok tak mau mengertinya. Si cowok tak mau membuka hatinya yang telah ia ketuk beribu kali. Gunung es membekukan hatinya. Sandra menundukkan wajahnya. Air mata menetes menuruni pipinya yang putih.
+++