14 April 2013
Malaikat
Terbang
Si gadis duduk tenang
di bangku penonton. Sementara itu suara kicau burung yang telah kembali dari
perburuannya terdengar hingga ke gedung olahraga. Latihan basket baru saja
usai. Ia meneruskan lukisannya sementara menunggu seseorang datang menghampiri.
Hampir setiap hari Si gadis selalu duduk di situ, berjam-jam menunggui
seseorang yang tengah latihan basket. Ia duduk dengan tenangnya, dan bahagia
ketika telah usai karena yang di tunggu-tunggu akan datang.
Si gadis melukis dengan
khusyuknya hingga tanpa ia sadari seseorang yang tengah ditunggunya telah
datang. Si gadis mendongkakkan kepalanya, berpaling dari lukisannya.
"Emmm.... kau
sudah selesai?" tanya Si gadis.
Wajahnya cerah.
Tersenyum manis. Binar matanya menambah kelucuannya. Seperti seorang gadis
kecil, yang masih lugu. Ia selalu nampak ceria. Tak pernah terlihat sedih.
Si gadis bangun dari
duduknya dan mulai melangkah mengikuti Si cowok yang sudah jalan duluan. Si
gadis tahu pasti kalau pertanyaannya itu takkan memperoleh jawaban. Tapi, ia
tak menginginkan jawaban dari Si cowok.
+++
Si gadis duduk dengan
tenang di depan meja belajarnya. Matanya menatap tajam pada sebuah goresan yang
tengah digoreskannya diatas kertas. Ia tengah menyelesaikan lukisannya yang
tinggal dipoles saja, tebal tipis. Senyum tersungging dibibirnya. Ia sudah tak
sabar untuk menyelesaikan lukisannya itu, hingga ia lembur semalaman. Ia ingin
memberikan lukisan bernuansa basket itu pada kekasihnya yang sangat menyukai
basket.
Ketika ia membayangkan
Si cowok yang tengah bermain basket tiba-tiba darah menetes mengenai
lukisannya. Si gadis terkejut dan segera menghentikan darah yang mengalir dari
hidungnya dengan jari-jari tangan kirinya. Seketika ia melepaskan pensilnya dan
berpaling dari lukisannya. Ia mendongkakkan kepalanya, darah berhenti mengalir.
Segera ia bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan
darahnya.
Setelah keluar dari
kamar mandi, Si gadis langsung menuju ke meja belajarnya dan melihat kondisi
lukisannya. Ia sedih melihat lukisannya.
"Heh, jadi
jelek, 'kan!" desah Si gadis sambil menatap kecewa pada lukisannya yang
hampir jadi itu. Ia kecewa. Karyanya hancur gara-gara tetesan darah.
Kekecewaannya segera berlalu ketika teringat semangat Si cowok saat di
lapangan.
"Baiklah. Aku
akan buat lagi. Yang lebih bagus pastinya!" katanya bersemangat.
Ia duduk dan langsung
mengambil kertas dan pensil. Ia mulai menggambar dengan senyum manis di
bibirnya.
+++
Esoknya.
Si gadis ingin tiba
di tempat latihan lebih dahulu dari pada Si cowok. Lukisannya juga belum
selesai. Ia ingin tiba lebih dulu untuk meneruskan lukisannya agar bisa
memberikannya pada si cowok segera.
Si gadis mengambil
tas dari atas meja belajarnya dan meletakkannya di atas pundak dan mulai
melangkahkan kakinya. Pada langkah pertama tiba-tiba kepalanya terasa berat dan
pandangan matanya mulai kabur. Pada langkah kedua ia sudah tak bisa melihat
lagi dan jatuh ke lantai. Si gadis tak sadarkan diri.
+++
"Bik, ayahnya
tak di rumah?"
"Tuan sedang ke
luar kota, Dok! Tapi, sudah saya kabari kalau non Bintang, sakit." Suara
seorang perempuan.
Si gadis merasakan
ada yang menyentuh pergelangan tangannya dan keningnya. Si gadis membuka
matanya perlahan. Ia mendapati seseorang tengah berdiri di sampingnya.
Mengenakan jas putih dan membawa stetoskop di tangan kirinya. Ia tersenyum
melihat Si gadis yang sudah siuman.
"Sudah tak
apa-apa. Tapi, lebih baik di periksakan ke rumah sakit. Biar lebih jelas
bagaimana kondisinya yang sebenarnya!" kata dokter pada Si bibi kemudian
melihat ke arah Si gadis yang tengah terbaring lemas.
"Dok, apa yang
terjadi?" tanya Si gadis pelan. Ia masih merasakan berat di kepalanya.
"Kau demam. Tapi
sekarang sudah tak apa. Saranku, datanglah ke rumah sakit untuk memeriksa
kondisimu yang sebenarnya. Jaga-jaga kalau ada suatu penyakit yang tengah kau
derita!" kata Si dokter sambil membereskan peralatannya.
Dokter berjalan ke
luar diikuti oleh Si bibi. Si gadis masih berbaring diatas tempat tidurnya. Ia
malas untuk bangun. Ia merasa lemas pada tubuhnya. Sedang cairan infus dengan
semangat masuk ke dalam tubuhnya melewati selang dan jarum.
Beberapa saat
kemudian terdengar ada yang membuka pintu dari luar. Seorang perempuan paruh
baya muncul dari balik pintu. Wajahnya nampak tak asing bagi Si gadis karena
dialah satu-satunya wanita yang selalu setia menemani dan merawatnya
sepeninggal ibunya. Ia berjalan mendekati Si gadis dan membenarkan selimut Si
gadis.
"Non Bintang
baik-baik saja, 'kan? Bibi kuatir non Bintang nggak bangun-bangun!" kata
Si bibi kemudian duduk di pinggir tempat tidur Si gadis.
Wajahnya terlihat
gelisah. Sesekali ia memastikan cairan infus mengalir dengan benar dan
membenarkan letak bantal Si gadis. Lalu ia menatap penuh kasih pada Si gadis.
"Bibi bingung
apa yang harus bibi lakukan? Non Bintang tak kunjung bangun! Jadi, berkali-kali
bibi memanggil dokter untuk datang kemari." Ungkapnya.
"Bi, aku tidur
berapa lama?" tanya Si gadis. Suaranya agak serak.
"Sudah lama,
Non. Hampir dua hari!" kata Si bibi tak yakin.
"Selama itukah,
Bi?" Si gadis terkejut.
Ia melihat jam
dinding menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit.
"Karena itu,
Non! Tuan juga tak bisa pulang. Tapi syukurlah sekarang non sudah bangun!"
Si gadis tak percaya
dengan apa yang telah terjadi padanya. Ia tak menyangka dirinya telah tertidur
selama itu. Bahkan ayahnya tak pulang untuk melihat keadaannya. Ia bisa
mengerti seperti apa sibuknya sang ayah. Lagipula ia juga tak sakit parah,
hanya demam. Berarti ia kurang menjaga kesehatan tubuhnya. Ia mau mengerti sang
ayah. Dia juga tak ingin menjadi anak yang nakal bagi ayahnya. Biar tak repot,
ia tak mau membuat ulah.
Sepeninggal ibunya,
sang ayah nampak lebih sibuk dari sebelumnya. Ia jadi jarang di rumah. Ia
mengerti kalau itu adalah pelarian dari kesedihan ayahnya, agar tak memiliki
waktu luang yang akan membuatnya teringat akan ibunya, pikir Si gadis. Ia
mengetahui cerita itu dari Si bibi. Karena ia tak ingat lagi seperti apa ibunya
dan karena apa ibunya meninggal. Waktu itu ia masih terlalu kecil untuk
mengerti peristiwa yang tengah melanda keluarganya. Sebenarnya, ialah yang
mendesak Si bibi untuk mengatakannya padanya. Awalnya Si bibi tak mau
menceritakan semua padanya, takut jika itu hanya akan mengingatkan pada
kejadian masa lalu. Tapi, Si gadis juga berhak tahu atas apa yang terjadi pada
ibunya.
Lampu kamar telah di
padamkan oleh Si bibi sebelum keluar tadi. Si gadis teringat sesuatu. Segera ia
bangkit dan menyeret tiang gantungan infus bersamanya. Walau tak terlihat jelas
tapi ia hafal betul letak meja belajarnya. Ia teringat akan seseorang yang
sudah pasti tengah menghawatirkan dirinya karena tak datang saat latihan, juga
tak masuk sekolah.
Si gadis menyalakan
lampu meja belajarnya. Dalam sekejap sayap terbentang terlihat jelas. Bak
malaikat terbang menuju langit. Ia melayang-layang ringan di udara. Indah.
Tubuhnya ringan tak berberat. Ia adalah seorang pemain basket yang melompat
dengan indah menuju ring untuk mencetak poin sebanyak-banyaknya. Tapi, itu
belum selesai. Wajah si pemain basket belum dilukis oleh Si gadis.
Si gadis mengambil
pensil. Menggoreskan ujung pensilnya dengan lihai. Ujung pensil menari-nari
dipermainkan jari-jari Si gadis. Goresan demi goresan membentuk suatu pola
tertentu. Sambung-menyambung membentuk seraut wajah rupawan. Tatapannya tajam.
Pancaran sinar matanya meneduhkan. Namun wajah yang rupawan itu selalu diselimuti oleh awan kelabu yang
menutupi kesempurnaannya. Wajahnya selalu sepi. Tak pernah terisi oleh senyum.
Akhirnya lukisan telah diselesaikan.
+++
Bel istirahat telah
berbunyi. Murid-murid telah berhamburan keluar kelas. Si gadis tengah
memandangi lukisan yang telah selesai di buatnya itu. Senyum dibibirnya
mengambang. Ia bangkit dari duduknya dengan segera dan melangkah keluar kelas
dengan selembar kertas berada ditangan kanannya. Ia sudah tak sabar untuk
menunggu komentar Si cowok.
"Hai,
Bintang!" sapa seseorang dari segerombolan kakak kelas. Si gadis hanya
tersenyum dan mengangguk sambil terus berjalan. Berkali-kali ia disapa tapi ia
menyahutnya hanya dengan senyum dan anggukan kepala. Toh mereka tak menuntut
lebih.
Sampailah ia di kelas
dua belas IPS 3. Agak ragu mau masuk. Tapi ia ingin memberikannya segera pada
Si cowok. Dengan yakin Si gadis melangkahkan kakinya dengan ringan masuk ke
kelas Si cowok. Angin dingin menyeruak seketika. Semua mata memandang padanya.
Ia merasa kaku karena malu, semua pasang mata menatap padanya heran. Ia jadi
salah tingkah. Namun ada seseorang yang menatap berbeda padanya.
"Hai,
Bintang!" sapa kak Roi ramah. Ia tersenyum pada Si gadis. Si gadis
melangkah menghampirinya. Ia adalah teman dekat Si cowok sekaligus teman
basketnya. Dalam setiap langkah Si gadis, selalu diikuti oleh pandangan
seseorang yang di pojok.
"Emm... kak
Biyan kemana, ya?" tanya Si gadis begitu dekat karena tak mendapati Si
cowok berada di kelas.
"Oh, Biyan! Dia
sedang menghadap guru. Baru saja ia keluar. Kau tak berpapasan dengannya?"
tanyanya. Gingsul giginya nampak, sehingga menambah....
Si gadis hanya
menggelengkan kepalanya pelan. Sejenak ia terdiam hingga akhirnya ia...
"Ya, sudah kalau
begitu. Aku pergi dulu, Kak!" memutar tubuhnya dan mulai berjalan. Sedang seorang yang dipojok masih saja
mengikuti setiap geraknya.
"Bintang! Tak
nitip sesuatu pada Biyan?"
Si gadis menghentikan
langkahnya dan berbalik. Kak Roi tengah berdiri. Matanya menatap Si gadis yang
berada agak jauh darinya. Ia tengah menunggu jawaban Si gadis. Semua orang
kembali memperhatikan Si gadis setelah sebelumnya mengacuhkannya, karena
perkataan kak Roi yang agak keras.
Si gadis tersenyum
dan menggeleng.
"Tidak, Kak.
Terima kasih. Nanti malah merepotkan. Aku akan memberikannya langsung
saja!" Matanya menyipit karena tersenyum.
"Ah, baiklah
kalau begitu!" sahut kak Roi diiringi senyum.
Setelah itu Si gadis
berjalan keluar. Namun pandangan berbeda dari orang itu masih saja terus
mengekor. Sedangkan Si gadis merasa agak kecewa karena tak bertemu dengan Si
cowok. Bahkan sudah lama ia tak melihat Si cowok. Gara-gara ia sakit sehingga
tak bisa memberikannya sejak kemarin.
+++
Di tempat yang lain.
Si cowok baru saja keluar dari ruang guru. Turnamen akan segera dihelat. Dia
sebagai ketua tim basket harus mempersiapkan segalanya, termasuk anggotanya.
Utamanya sering mengadakan latihan untuk mengasah kemampuan anggotanya.
Namun, ada sesuatu
yang sejak kemarin membuatnya gelisah. Sejak dua hari yang lalu ia belum
bertemu dengan Si gadis. Diam-diam ia merindukannya. Merindukan senyum manisnya
yang membuat matanya menyipit. Mata yang selalu meneduhkan. Dan kenyamanan
apabila berada di dekatnya. Si gadis tak datang saat latihan, seperti biasanya.
Lalu, kemarin ia tak mendapati Si gadis di sekolah. Ia jadi khawatir karena tak
ada kabar.
Si cowok berjalan
memutar melewati kelas sebelas bahasa satu. Dengan harapan ia akan mendapati Si
gadis duduk di bangku kelasnya. Kecewa. Ia tak melihat Si gadis berada disana.
Perasaannya tambah gelisah. Ia menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangannya
dari luar cendela. Beberapa saat ia terdiam. Si cowok kecewa. Ia menunduk
sebentar. Setelah menarik nafas pelan dan menghembuskannya, ia melangkahkan
kakinya meninggalkan harapannya yang telah pupus.
Langkah kakinya
terhenti tatkala sampai di tikungan kelas Si gadis. Matanya menatap tajam pada
seseorang yang tengah berdiri tepat di depannya. Kegelisahannya telah terbang
jauh dihembuskan angin yang mempermainkan rambut Si gadis yang di gerai, hingga
menutupi senyum di bibirnya. Serasa semangat kembali menyala seperti dihari
pertama awal musim semi.
Si gadis tersenyum
mengambang. Seseorang yang dicarinya kini berada didepan matanya. Ia senang
bisa bertemu dengan Si cowok lagi. Ia ingin melompat-lompat kegirangan atas
perasaan bahagianya itu, tapi diurungkannya. Senyum dibibir rasanya sudah cukup
untuk mengungkapkan kebahagiaannya bertemu dengan Si cowok.
Sedang Si cowok,
akhirnya melihat wajah itu lagi. Senyum itu lagi. Tapi yang terpenting ia bisa
melihat dirinya lagi.
"Aku mencarimu
ke kelas. Tapi, kau tak ada. Katanya, kau menemui guru, ya?" kata Si gadis
bersemangat. Matanya selalu berbinar tiap kali ia berkata. Si cowok malah asyik
memandanginya, mencoba menguraikan kerinduannya. Mengisi rindunya dengan
berlama-lama melihat wajah Si gadis yang putih bersih. Senyum di bibirnya
selalu...
"Oya, aku ada
sesuatu untukmu!" memecah lamunan Si cowok yang mendalam.
Si cowok agak
terkejut mendengarnya. Ia memalingkan mukanya ke samping. Agak malu karena
telah berlama-lama memandang Si gadis. Ia berharap Si gadis tak menyadarinya.
Ia kembali memalingkan mukanya pada Si gadis dan ke apa yang diulurkan Si
gadis.
Si cowok menyambutnya
dengan heran. Ia mendapati goresan-goresan memenuhi kertas yang tengah
dibawanya. Goresan demi goresan itu membentuk suatu lukisan yang apik. Namun
ada sebuah bagian yang menyedot perhatiannya hingga matanya tak berpaling
darinya. Lukisan seorang pemain basket dengan bolanya yang melayang di udara
menuju ke ring seolah terbang dengan kedua sayapnya. Sekilas ia tersenyum tanpa
sepengetahuan Si gadis.
Si cowok mendapati
gambar dirinya di lukisan itu. Ia senyum tertahan. Ia membawa bola melayang di
udara bak malaikat bersayap. Ia melihat ke arah Si gadis dan mendapati
kepalanya tengadah padanya. Menunggu komentar darinya.
"Suka
tidak?" tanyanya ingin tau. Matanya terlihat lebih lebar karenanya. Si
cowok kembali melihat ke gambar dirinya.
""Jelek,
ya? Sudah ku kira kalau hasilnya tak bagus. Akan ku buatkan lagi saja, ya! Yang
lebih bagus tentunya!" ia menunduk. Lalu mendongkakkan kepalanya untuk
melihat wajah Si cowok.
"Tak
perlu!" kata Si cowok melihat sekilas pada Si gadis yang tengah
menatapnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Si gadis yang keheranan. Si
gadis tersenyum, kemudian masuk ke kelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar