Sabtu, 27 Juni 2015

Bintang Episode 1

Novel Bintang Episode1



14 April 2013
Malaikat Terbang

Si gadis duduk tenang di bangku penonton. Sementara itu suara kicau burung yang telah kembali dari perburuannya terdengar hingga ke gedung olahraga. Latihan basket baru saja usai. Ia meneruskan lukisannya sementara menunggu seseorang datang menghampiri. Hampir setiap hari Si gadis selalu duduk di situ, berjam-jam menunggui seseorang yang tengah latihan basket. Ia duduk dengan tenangnya, dan bahagia ketika telah usai karena yang di tunggu-tunggu akan datang.
Si gadis melukis dengan khusyuknya hingga tanpa ia sadari seseorang yang tengah ditunggunya telah datang. Si gadis mendongkakkan kepalanya, berpaling dari lukisannya.
"Emmm.... kau sudah selesai?" tanya Si gadis.
Wajahnya cerah. Tersenyum manis. Binar matanya menambah kelucuannya. Seperti seorang gadis kecil, yang masih lugu. Ia selalu nampak ceria. Tak pernah terlihat sedih.
Si gadis bangun dari duduknya dan mulai melangkah mengikuti Si cowok yang sudah jalan duluan. Si gadis tahu pasti kalau pertanyaannya itu takkan memperoleh jawaban. Tapi, ia tak menginginkan jawaban dari Si cowok.
+++
Si gadis duduk dengan tenang di depan meja belajarnya. Matanya menatap tajam pada sebuah goresan yang tengah digoreskannya diatas kertas. Ia tengah menyelesaikan lukisannya yang tinggal dipoles saja, tebal tipis. Senyum tersungging dibibirnya. Ia sudah tak sabar untuk menyelesaikan lukisannya itu, hingga ia lembur semalaman. Ia ingin memberikan lukisan bernuansa basket itu pada kekasihnya yang sangat menyukai basket.
Ketika ia membayangkan Si cowok yang tengah bermain basket tiba-tiba darah menetes mengenai lukisannya. Si gadis terkejut dan segera menghentikan darah yang mengalir dari hidungnya dengan jari-jari tangan kirinya. Seketika ia melepaskan pensilnya dan berpaling dari lukisannya. Ia mendongkakkan kepalanya, darah berhenti mengalir. Segera ia bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan darahnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Si gadis langsung menuju ke meja belajarnya dan melihat kondisi lukisannya. Ia sedih melihat lukisannya.
"Heh, jadi jelek, 'kan!" desah Si gadis sambil menatap kecewa pada lukisannya yang hampir jadi itu. Ia kecewa. Karyanya hancur gara-gara tetesan darah. Kekecewaannya segera berlalu ketika teringat semangat Si cowok saat di lapangan.
"Baiklah. Aku akan buat lagi. Yang lebih bagus pastinya!" katanya bersemangat.
Ia duduk dan langsung mengambil kertas dan pensil. Ia mulai menggambar dengan senyum manis di bibirnya.
+++
Esoknya.
Si gadis ingin tiba di tempat latihan lebih dahulu dari pada Si cowok. Lukisannya juga belum selesai. Ia ingin tiba lebih dulu untuk meneruskan lukisannya agar bisa memberikannya pada si cowok segera.
Si gadis mengambil tas dari atas meja belajarnya dan meletakkannya di atas pundak dan mulai melangkahkan kakinya. Pada langkah pertama tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pandangan matanya mulai kabur. Pada langkah kedua ia sudah tak bisa melihat lagi dan jatuh ke lantai. Si gadis tak sadarkan diri.
+++
"Bik, ayahnya tak di rumah?"
"Tuan sedang ke luar kota, Dok! Tapi, sudah saya kabari kalau non Bintang, sakit." Suara seorang perempuan.
Si gadis merasakan ada yang menyentuh pergelangan tangannya dan keningnya. Si gadis membuka matanya perlahan. Ia mendapati seseorang tengah berdiri di sampingnya. Mengenakan jas putih dan membawa stetoskop di tangan kirinya. Ia tersenyum melihat Si gadis yang sudah siuman.
"Sudah tak apa-apa. Tapi, lebih baik di periksakan ke rumah sakit. Biar lebih jelas bagaimana kondisinya yang sebenarnya!" kata dokter pada Si bibi kemudian melihat ke arah Si gadis yang tengah terbaring lemas.
"Dok, apa yang terjadi?" tanya Si gadis pelan. Ia masih merasakan berat di kepalanya.
"Kau demam. Tapi sekarang sudah tak apa. Saranku, datanglah ke rumah sakit untuk memeriksa kondisimu yang sebenarnya. Jaga-jaga kalau ada suatu penyakit yang tengah kau derita!" kata Si dokter sambil membereskan peralatannya.
Dokter berjalan ke luar diikuti oleh Si bibi. Si gadis masih berbaring diatas tempat tidurnya. Ia malas untuk bangun. Ia merasa lemas pada tubuhnya. Sedang cairan infus dengan semangat masuk ke dalam tubuhnya melewati selang dan jarum.
Beberapa saat kemudian terdengar ada yang membuka pintu dari luar. Seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu. Wajahnya nampak tak asing bagi Si gadis karena dialah satu-satunya wanita yang selalu setia menemani dan merawatnya sepeninggal ibunya. Ia berjalan mendekati Si gadis dan membenarkan selimut Si gadis.
"Non Bintang baik-baik saja, 'kan? Bibi kuatir non Bintang nggak bangun-bangun!" kata Si bibi kemudian duduk di pinggir tempat tidur Si gadis.
Wajahnya terlihat gelisah. Sesekali ia memastikan cairan infus mengalir dengan benar dan membenarkan letak bantal Si gadis. Lalu ia menatap penuh kasih pada Si gadis.
"Bibi bingung apa yang harus bibi lakukan? Non Bintang tak kunjung bangun! Jadi, berkali-kali bibi memanggil dokter untuk datang kemari." Ungkapnya.
"Bi, aku tidur berapa lama?" tanya Si gadis. Suaranya agak serak.
"Sudah lama, Non. Hampir dua hari!" kata Si bibi tak yakin.
"Selama itukah, Bi?" Si gadis terkejut.
Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit.
"Karena itu, Non! Tuan juga tak bisa pulang. Tapi syukurlah sekarang non sudah bangun!"
Si gadis tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya. Ia tak menyangka dirinya telah tertidur selama itu. Bahkan ayahnya tak pulang untuk melihat keadaannya. Ia bisa mengerti seperti apa sibuknya sang ayah. Lagipula ia juga tak sakit parah, hanya demam. Berarti ia kurang menjaga kesehatan tubuhnya. Ia mau mengerti sang ayah. Dia juga tak ingin menjadi anak yang nakal bagi ayahnya. Biar tak repot, ia tak mau membuat ulah.
Sepeninggal ibunya, sang ayah nampak lebih sibuk dari sebelumnya. Ia jadi jarang di rumah. Ia mengerti kalau itu adalah pelarian dari kesedihan ayahnya, agar tak memiliki waktu luang yang akan membuatnya teringat akan ibunya, pikir Si gadis. Ia mengetahui cerita itu dari Si bibi. Karena ia tak ingat lagi seperti apa ibunya dan karena apa ibunya meninggal. Waktu itu ia masih terlalu kecil untuk mengerti peristiwa yang tengah melanda keluarganya. Sebenarnya, ialah yang mendesak Si bibi untuk mengatakannya padanya. Awalnya Si bibi tak mau menceritakan semua padanya, takut jika itu hanya akan mengingatkan pada kejadian masa lalu. Tapi, Si gadis juga berhak tahu atas apa yang terjadi pada ibunya.
Lampu kamar telah di padamkan oleh Si bibi sebelum keluar tadi. Si gadis teringat sesuatu. Segera ia bangkit dan menyeret tiang gantungan infus bersamanya. Walau tak terlihat jelas tapi ia hafal betul letak meja belajarnya. Ia teringat akan seseorang yang sudah pasti tengah menghawatirkan dirinya karena tak datang saat latihan, juga tak masuk sekolah.
Si gadis menyalakan lampu meja belajarnya. Dalam sekejap sayap terbentang terlihat jelas. Bak malaikat terbang menuju langit. Ia melayang-layang ringan di udara. Indah. Tubuhnya ringan tak berberat. Ia adalah seorang pemain basket yang melompat dengan indah menuju ring untuk mencetak poin sebanyak-banyaknya. Tapi, itu belum selesai. Wajah si pemain basket belum dilukis oleh Si gadis.
Si gadis mengambil pensil. Menggoreskan ujung pensilnya dengan lihai. Ujung pensil menari-nari dipermainkan jari-jari Si gadis. Goresan demi goresan membentuk suatu pola tertentu. Sambung-menyambung membentuk seraut wajah rupawan. Tatapannya tajam. Pancaran sinar matanya meneduhkan. Namun wajah yang rupawan itu  selalu diselimuti oleh awan kelabu yang menutupi kesempurnaannya. Wajahnya selalu sepi. Tak pernah terisi oleh senyum. Akhirnya lukisan telah diselesaikan.
+++
Bel istirahat telah berbunyi. Murid-murid telah berhamburan keluar kelas. Si gadis tengah memandangi lukisan yang telah selesai di buatnya itu. Senyum dibibirnya mengambang. Ia bangkit dari duduknya dengan segera dan melangkah keluar kelas dengan selembar kertas berada ditangan kanannya. Ia sudah tak sabar untuk menunggu komentar Si cowok.
"Hai, Bintang!" sapa seseorang dari segerombolan kakak kelas. Si gadis hanya tersenyum dan mengangguk sambil terus berjalan. Berkali-kali ia disapa tapi ia menyahutnya hanya dengan senyum dan anggukan kepala. Toh mereka tak menuntut lebih.
Sampailah ia di kelas dua belas IPS 3. Agak ragu mau masuk. Tapi ia ingin memberikannya segera pada Si cowok. Dengan yakin Si gadis melangkahkan kakinya dengan ringan masuk ke kelas Si cowok. Angin dingin menyeruak seketika. Semua mata memandang padanya. Ia merasa kaku karena malu, semua pasang mata menatap padanya heran. Ia jadi salah tingkah. Namun ada seseorang yang menatap berbeda padanya.
"Hai, Bintang!" sapa kak Roi ramah. Ia tersenyum pada Si gadis. Si gadis melangkah menghampirinya. Ia adalah teman dekat Si cowok sekaligus teman basketnya. Dalam setiap langkah Si gadis, selalu diikuti oleh pandangan seseorang yang di pojok.
"Emm... kak Biyan kemana, ya?" tanya Si gadis begitu dekat karena tak mendapati Si cowok berada di kelas.
"Oh, Biyan! Dia sedang menghadap guru. Baru saja ia keluar. Kau tak berpapasan dengannya?" tanyanya. Gingsul giginya nampak, sehingga menambah....
Si gadis hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sejenak ia terdiam hingga akhirnya ia...
"Ya, sudah kalau begitu. Aku pergi dulu, Kak!" memutar tubuhnya dan mulai berjalan.  Sedang seorang yang dipojok masih saja mengikuti setiap geraknya.
"Bintang! Tak nitip sesuatu pada Biyan?"
Si gadis menghentikan langkahnya dan berbalik. Kak Roi tengah berdiri. Matanya menatap Si gadis yang berada agak jauh darinya. Ia tengah menunggu jawaban Si gadis. Semua orang kembali memperhatikan Si gadis setelah sebelumnya mengacuhkannya, karena perkataan kak Roi yang agak keras.
Si gadis tersenyum dan menggeleng.
"Tidak, Kak. Terima kasih. Nanti malah merepotkan. Aku akan memberikannya langsung saja!" Matanya menyipit karena tersenyum.
"Ah, baiklah kalau begitu!" sahut kak Roi diiringi senyum.
Setelah itu Si gadis berjalan keluar. Namun pandangan berbeda dari orang itu masih saja terus mengekor. Sedangkan Si gadis merasa agak kecewa karena tak bertemu dengan Si cowok. Bahkan sudah lama ia tak melihat Si cowok. Gara-gara ia sakit sehingga tak bisa memberikannya sejak kemarin.
+++
Di tempat yang lain. Si cowok baru saja keluar dari ruang guru. Turnamen akan segera dihelat. Dia sebagai ketua tim basket harus mempersiapkan segalanya, termasuk anggotanya. Utamanya sering mengadakan latihan untuk mengasah kemampuan anggotanya.
Namun, ada sesuatu yang sejak kemarin membuatnya gelisah. Sejak dua hari yang lalu ia belum bertemu dengan Si gadis. Diam-diam ia merindukannya. Merindukan senyum manisnya yang membuat matanya menyipit. Mata yang selalu meneduhkan. Dan kenyamanan apabila berada di dekatnya. Si gadis tak datang saat latihan, seperti biasanya. Lalu, kemarin ia tak mendapati Si gadis di sekolah. Ia jadi khawatir karena tak ada kabar.
Si cowok berjalan memutar melewati kelas sebelas bahasa satu. Dengan harapan ia akan mendapati Si gadis duduk di bangku kelasnya. Kecewa. Ia tak melihat Si gadis berada disana. Perasaannya tambah gelisah. Ia menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangannya dari luar cendela. Beberapa saat ia terdiam. Si cowok kecewa. Ia menunduk sebentar. Setelah menarik nafas pelan dan menghembuskannya, ia melangkahkan kakinya meninggalkan harapannya yang telah pupus.
Langkah kakinya terhenti tatkala sampai di tikungan kelas Si gadis. Matanya menatap tajam pada seseorang yang tengah berdiri tepat di depannya. Kegelisahannya telah terbang jauh dihembuskan angin yang mempermainkan rambut Si gadis yang di gerai, hingga menutupi senyum di bibirnya. Serasa semangat kembali menyala seperti dihari pertama awal musim semi.
Si gadis tersenyum mengambang. Seseorang yang dicarinya kini berada didepan matanya. Ia senang bisa bertemu dengan Si cowok lagi. Ia ingin melompat-lompat kegirangan atas perasaan bahagianya itu, tapi diurungkannya. Senyum dibibir rasanya sudah cukup untuk mengungkapkan kebahagiaannya bertemu dengan Si cowok.
Sedang Si cowok, akhirnya melihat wajah itu lagi. Senyum itu lagi. Tapi yang terpenting ia bisa melihat dirinya lagi.
"Aku mencarimu ke kelas. Tapi, kau tak ada. Katanya, kau menemui guru, ya?" kata Si gadis bersemangat. Matanya selalu berbinar tiap kali ia berkata. Si cowok malah asyik memandanginya, mencoba menguraikan kerinduannya. Mengisi rindunya dengan berlama-lama melihat wajah Si gadis yang putih bersih. Senyum di bibirnya selalu...
"Oya, aku ada sesuatu untukmu!" memecah lamunan Si cowok yang mendalam.
Si cowok agak terkejut mendengarnya. Ia memalingkan mukanya ke samping. Agak malu karena telah berlama-lama memandang Si gadis. Ia berharap Si gadis tak menyadarinya. Ia kembali memalingkan mukanya pada Si gadis dan ke apa yang diulurkan Si gadis.
Si cowok menyambutnya dengan heran. Ia mendapati goresan-goresan memenuhi kertas yang tengah dibawanya. Goresan demi goresan itu membentuk suatu lukisan yang apik. Namun ada sebuah bagian yang menyedot perhatiannya hingga matanya tak berpaling darinya. Lukisan seorang pemain basket dengan bolanya yang melayang di udara menuju ke ring seolah terbang dengan kedua sayapnya. Sekilas ia tersenyum tanpa sepengetahuan Si gadis.
Si cowok mendapati gambar dirinya di lukisan itu. Ia senyum tertahan. Ia membawa bola melayang di udara bak malaikat bersayap. Ia melihat ke arah Si gadis dan mendapati kepalanya tengadah padanya. Menunggu komentar darinya.
"Suka tidak?" tanyanya ingin tau. Matanya terlihat lebih lebar karenanya. Si cowok kembali melihat ke gambar dirinya.
""Jelek, ya? Sudah ku kira kalau hasilnya tak bagus. Akan ku buatkan lagi saja, ya! Yang lebih bagus tentunya!" ia menunduk. Lalu mendongkakkan kepalanya untuk melihat wajah Si cowok.
"Tak perlu!" kata Si cowok melihat sekilas pada Si gadis yang tengah menatapnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Si gadis yang keheranan. Si gadis tersenyum, kemudian masuk ke kelasnya.
+++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar