PROLOG
"Apa
ini?" menunjukkan selembar kertas pada Si gadis. Matanya lurus bertatapan
dengan Si gadis. Serasa ada yang menghujamkan panah membara dihatinya.
Si gadis terkejut mendengar
apa yang di katakan oleh Si cowok. Ia tak tahu apa yang di maksudnya. Ia
melangkah mendekatinya dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Si cowok. Ia
kesulitan untuk menjawab. Bibirnya terasa kaku.
"I... itu...
bukan apa-apa!" kata Si gadis menyembunyikan kepanikannya.
Si cowok menatapnya
tajam. Ia tenggelam dalam pandangan Si cowok. Setiap gerak-geriknya terlihat
dengan jelas. Ia jadi salah tingkah.
“Itu salah. Jangan
khawatir, aku baik-baik saja!” Si gadis mencoba menghibur dengan tetap
menunjukkan senyumnya, yang terasa pahit. Kata-kata bergerumul di bibirnya
hingga tak tertuliskan. Lidahnya tak bisa menangkapnya dan mengungkapkannya.
Sehingga hanya kepanikan yang tercipta. Tapi matanya tak bisa berbohong. Matanya
berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Si cowok lebih lama lagi. Ia mencoba
mengalihkan pandangan matanya dari Si cowok. Ia bingung harus mengatakan apa.
Si gadis tahu kalau
kata-kata takkan cukup untuk menenangkan Si cowok. Ia bingung harus berkata apa
biar Si cowok percaya dan tak mengkhawatirkannya. Tapi, bukti sudah ada
ditangannya. Si gadis memutar otak untuk mencari alasan yang lain. Ia tak bisa
untuk terus bertatapan mata dengan Si cowok. Tapi, pandangan Si cowok
terus-terusan mengejarnya. Pandangannya tak tentu arah selagi ia berpikir.
Namun Si cowok memegang kepala Si gadis agar berhenti dan mau menatapnya.
Otaknya terasa beku karena tatapan teduh Si cowok. Ia menahan air matanya yang
akan jatuh.
Tapi, tak disangka,
tiba-tiba Si cowok merengkuh tubuh Si gadis dan memeluknya erat. Si gadis
terkejut, hampir sesak nafas ia. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia ingin
melepaskan diri dan memberanikan diri menatap Si cowok untuk menjelaskan
semuanya. Tapi apa daya. Ia tak mampu untuk memandu tubuhny yang masih terasa
lemas. Si gadis ingin menenangkan Si cowok. Tapi, otak terasa tumpul. Lidah
terasa kelu. Rangkaian kata-katanya luruh. Ia tak tau apa yang tengah dirasakan
Si cowok kini. Untuk mengetahui apa yang tengah dirasakannya saja ia tak tahu
apa. Ia tak bisa merasakan perasaannya
sendiri.
"Jangan
tinggalkan aku!" kata Si cowok lirih.
Serasa jantung
berhenti berdetak. Ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa ia salah
dengar? Ia tak yakin dengan pendengarannya. Kali pertama Si cowok mengungkap
perasaannya. Si gadis terenyuh. Matanya berkaca-kaca. Air memenuhi pelupuk
matanya. Ia rela terhenti selamanya jika itu memang benar. Tak percaya kini
salju telah luruh. Si gadis membalas pelukan Si cowok. Ia memeluknya erat,
membalas kasih Si cowok. Tak ingin rasanya berakhir sampai disini. Ia tak ingin
berakhir sampai disini. Ia tak ingin semuanya selesai setelah pelukan ini
dilepaskan. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tak
ingin waktu seegera berlalu.
"Aku... takkan
kemana-mana. Aku... takkan pergi. Aku... disini, bersama...mu, selamanya!"
kata Si gadis menghibur. Suaranya terdengar bergetar. Ia tak yakin dengan
kata-katanya. Ia tersenyum kecut. Air matanya menetes tatkala Si gadis
memejamkan matanya.
Si cowok diam
membisu. Tak ingin ia melepas Si gadis. Tak ingin ia mengakhiri pelukannya. Ia
ingin terus merasakan detak jantung Si gadis. Ia ingin terus mendengar desah
nafas Si gadis. Ia tak siap untuk kehilangan Si gadis, untuk selamanya. Takkan
pernah siap!
Back
Back
Tidak ada komentar:
Posting Komentar