Rabu, 14 Oktober 2015

Cerpen

Mimpi Yang Merindu

Di saat gelap menyelimuti, terasa tubuh mulai letih. Tangan, kaki, maupun pikiran terasa pegal dan ingin untuk beristirahat. Begitu pun dengan tubuhku ini. Ia merasa lelah. Setiap bagian telah lelah hingga terasa sakit apabila dicoba untuk menggerakkannya. Bahkan, karena nyeri tubuhku sulit untuk aku perintahkan agar tertidur. Bukankah tidur merupakan istirahat yang paling efektif? Ya. Tentu saja. Tetapi, kenapa aku masih terjaga?

"Aku harus tidur!"
Itulah tiga kata yang aku ucapkan setiap kali lelah dan gelap menghampiriku.
"Aku harus tidur." Kataku pada tanganku.
Ku letakkan kedua tanganku di samping tubuhku dengan senyaman mungkin. 
"Aku harus tidur." Kataku lagi. Dan kali ini, aku tujukan kepada kakiku.
Kakiku pun menurut dan mengambil posisi yang menurutnya nyaman.
"Aku harus tidur." Kataku lagi. Dan kali ini, aku tujukan kepada kedua mataku.
Di antara kesemua anggota tubuhku, dialah yang paling sukar untuk disuruh memejamkan mata. Setiap kali dipejamkan, tidak lama setelah itu ia akan kembali terbuka lagi. Aku tahu betul kenapa dia begitu. Itu karena dia selalu ingin melihat. Segalanya. Ia memang selalu ingin tahu.
Lalu, yang terakhir.
"Aku harus tidur." Kataku pada pikiranku.
Aku, selain memiliki masalah dengan beberapa bagian tubuhku yang sukar untuk di ajak tidur, aku juga kesulitan untuk meminta pikiranku untuk berhenti berpikir dan memberi kesempatan otakku untuk beristirahat. Aku benar-benar lelah dan ingin otakku untuk berhenti bekerja. Kalau pikiranku dan otakku terus bekerja, bagaimana caraku bisa tidur? Tentu saja, jalan satu-satunya supaya aku bisa tidur adalah dengan mengosongkan pikiranku agar aku bisa tidur dengan nyenyak.

Setelah beberapa waktu lamanya, aku mengulang-ngulang kalimat 'Aku harus tidur di pikiranku, akhirnya aku bisa juga untuk tidur. Aku tidur. Ini meyenangkan. Aku senang akhirnya aku bisa tidur. Aku senang karena aku berhasil menyakinkan tubuhku dan tentu saja pikiranku, juga. Dan kini, aku akan bisa memasuki 'Dunia Lain' yang benar-benar menakjubkan. Benar-benar membahagiakan. Selalu menjadi apa yang di mau. Dan, dunia yang penuh dengan sejuta harapan. Mungkin, lebih banyak dari sejuta karena penduduk Indonesia ada begitu banyak. Dan 'Dunia Lain' itu adalah Dunia Mimpi.
^^^
...
Bermimpilah maka kau akan...
Orang yang tidak memiliki mimpi, ia seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup.
Kejarlah mimpimu walau...
Bermimpilah setinggi langit.
...

 Ada begitu banyak kata-kata bijak yang 'menyarankan', mungkin lebih tepatnya 'memerintah', kita untuk bermimpi. Bahkan ada yang mengatakan kalau kita harus bermimpi yang banyak. Akan tetapi, itu sulit. Dan sulit bagiku untuk memiliki banyak mimpi. Mimpi ini, bukan mimpi sembarang mimpi. Bukan mimpi dalam tidur. Mimpi ini hanya satu tetapi keinginanku ada banyak.

Mimpi ini aku dapatkan setelah aku membaca dan merenungkan kata-kata yang berisi soal mimpi. Mimpi ini tidak aku dapatkan dengan mudah, langsung, tetapi memerlukan waktu yang lama untuk diputuskan kalau ia adalah mimpiku. Mimpiku ini bukan mimpi yang aku dapatkan ketika aku tertidur. Melainkan mimpi yang aku peroleh ketika panas, peluh, dan lelah mengkroyok tubuhku. Benar-benar mimpiku yang ku dapat dengan susah payah. Selain itu, mimpiku ini tidak akan ada artinya lagi  jika aku tertidur karena jika hal itu terjadi maka aku akan berhenti memikirkannya. Tidak ada artinya lagi.

Mimpi. Mimpi. Mimpi. Itu yang selalu aku katakan pada diriku. Itu mimpiku. Mimpi yang berharga. Yang tidak akan hilang ataupun terlupa ketika aku membuka mata. Meski sempat terlupa namun selamanya akan tertanam dalam pikiran dan ragaku. Bagian-bagian tubuhku bekerja demi mimpiku itu. Kaki berjalan, untuk mendekatkan diriku padanya. Tangan membuat, dan pikiran yang sibuk merancang. Namun, kenapa terasa ada yang salah?

Bekerjalah dengan kerasa. Usaha yang rajin untuk mewujudkan mimpi.
Aku mengulang-ngulang kalimat itu dalam hati dan pikiranku.

Aku ingin mewujudkan mimpiku. Aku ingin menunjukkan mimpiku pada orang lain supaya tidak dianggap hanya omong kosong. Aku ingin mimpiku itu menatapku dengan bangga. Kata-kata bijak itu ternyata tidak cukup membantuku. Aku telah meminta tubuhku untuk bekerja dan berusaha dengan keras tetapi kenapa masih tidak  bisa? Kenapa mimpi itu masih menjadi mimpi? Kapan mimpi itu akan menjadi nyata? Kenapa tidak ada kata-kata yang bijak atau kata-kata lain yang bisa membantu mimpiku untuk menjadi nyata supaya ia bisa menyapaku dengan bangga? Dan, satu pertanyaan lagi. Kenapa tidak ada cara yang bisa merubah mimpi untuk menjadi nyata?

Aku bertanya soal 'cara' bukan 'penyemangat' untuk bermimpi. Kenapa pula orang-orang itu hanya menyuruh untuk bermimpi tetapi tidak dengan menunjukkan cara untuk menuju kepada mimpi tersebut? Aku tersesat karena tidak tahu arah untuk menuju ke mimpi. Itu yang sering aku ucapkan karena aku sering bertemu dengannya. Aku tersesat di jalan yang tidak ku kenal karena aku tidak tahu dimana aku berada, tidak tahu arah, berhenti di persimpangan jalan karena tidak tahu jalan mana yang akan menuju kepada mimpiku. Kenapa? Sekali lagi. Kenapa?

Aku kesal karena selalu tersesat. Kasihan aku. Tetapi, mimpi merasa sedih karena rindu kenyataan. Ia menangis. Ia sungguh-sungguh merindukan kenyataan. Menyedihkan sekali mimpi. Ia merindukan kenyataan tetapi kenyataan tidak pernah menghampirinya. Bahkan kenyataan tidak pernah menyapanya, hanya menatapnya dari kejauhan. Memberitahu petunjuk untuk menuju padanya pun tidak. Benar-benar keterlaluan kenyataan itu. Mimpi merasa sedih tetapi ia masih akan terus berusaha. Kasihan mimpi. Ia sungguh-sungguh merindukan kenyataan dan ingin untuk bertemu dengannnya tetapi belum tentu kenyataan mau untuk bertemu dengannya.

#al_kyu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar