Mimpi Yang Merindu
Di
saat gelap menyelimuti, terasa tubuh mulai letih. Tangan, kaki, maupun
pikiran terasa pegal dan ingin untuk beristirahat. Begitu pun dengan
tubuhku ini. Ia merasa lelah. Setiap bagian telah lelah hingga terasa
sakit apabila dicoba untuk menggerakkannya. Bahkan, karena nyeri tubuhku
sulit untuk aku perintahkan agar tertidur. Bukankah tidur merupakan
istirahat yang paling efektif? Ya. Tentu saja. Tetapi, kenapa aku masih
terjaga?
"Aku harus tidur!"
Itulah tiga kata yang aku ucapkan setiap kali lelah dan gelap menghampiriku.
"Aku harus tidur." Kataku pada tanganku.
Ku letakkan kedua tanganku di samping tubuhku dengan senyaman mungkin.
"Aku harus tidur." Kataku lagi. Dan kali ini, aku tujukan kepada kakiku.
Kakiku pun menurut dan mengambil posisi yang menurutnya nyaman.
"Aku harus tidur." Kataku lagi. Dan kali ini, aku tujukan kepada kedua mataku.
Di
antara kesemua anggota tubuhku, dialah yang paling sukar untuk disuruh
memejamkan mata. Setiap kali dipejamkan, tidak lama setelah itu ia akan
kembali terbuka lagi. Aku tahu betul kenapa dia begitu. Itu karena dia
selalu ingin melihat. Segalanya. Ia memang selalu ingin tahu.
Lalu, yang terakhir.
"Aku harus tidur." Kataku pada pikiranku.
Aku,
selain memiliki masalah dengan beberapa bagian tubuhku yang sukar untuk
di ajak tidur, aku juga kesulitan untuk meminta pikiranku untuk
berhenti berpikir dan memberi kesempatan otakku untuk beristirahat. Aku
benar-benar lelah dan ingin otakku untuk berhenti bekerja. Kalau
pikiranku dan otakku terus bekerja, bagaimana caraku bisa tidur? Tentu
saja, jalan satu-satunya supaya aku bisa tidur adalah dengan
mengosongkan pikiranku agar aku bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah
beberapa waktu lamanya, aku mengulang-ngulang kalimat 'Aku harus tidur
di pikiranku, akhirnya aku bisa juga untuk tidur. Aku tidur. Ini
meyenangkan. Aku senang akhirnya aku bisa tidur. Aku senang karena aku
berhasil menyakinkan tubuhku dan tentu saja pikiranku, juga. Dan kini,
aku akan bisa memasuki 'Dunia Lain' yang benar-benar menakjubkan.
Benar-benar membahagiakan. Selalu menjadi apa yang di mau. Dan, dunia
yang penuh dengan sejuta harapan. Mungkin, lebih banyak dari sejuta
karena penduduk Indonesia ada begitu banyak. Dan 'Dunia Lain' itu adalah
Dunia Mimpi.
^^^
...
Bermimpilah maka kau akan...
Orang yang tidak memiliki mimpi, ia seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup.
Kejarlah mimpimu walau...
Bermimpilah setinggi langit.
...
Ada
begitu banyak kata-kata bijak yang 'menyarankan', mungkin lebih
tepatnya 'memerintah', kita untuk bermimpi. Bahkan ada yang mengatakan
kalau kita harus bermimpi yang banyak. Akan tetapi, itu sulit. Dan sulit
bagiku untuk memiliki banyak mimpi. Mimpi ini, bukan mimpi sembarang
mimpi. Bukan mimpi dalam tidur. Mimpi ini hanya satu tetapi keinginanku
ada banyak.
Mimpi ini aku dapatkan setelah aku
membaca dan merenungkan kata-kata yang berisi soal mimpi. Mimpi ini
tidak aku dapatkan dengan mudah, langsung, tetapi memerlukan waktu yang
lama untuk diputuskan kalau ia adalah mimpiku. Mimpiku ini bukan mimpi
yang aku dapatkan ketika aku tertidur. Melainkan mimpi yang aku peroleh
ketika panas, peluh, dan lelah mengkroyok tubuhku. Benar-benar mimpiku
yang ku dapat dengan susah payah. Selain itu, mimpiku ini tidak akan ada
artinya lagi jika aku tertidur karena jika hal itu terjadi maka aku
akan berhenti memikirkannya. Tidak ada artinya lagi.
Mimpi. Mimpi. Mimpi. Itu yang selalu
aku katakan pada diriku. Itu mimpiku. Mimpi yang berharga. Yang tidak
akan hilang ataupun terlupa ketika aku membuka mata. Meski sempat
terlupa namun selamanya akan tertanam dalam pikiran dan ragaku.
Bagian-bagian tubuhku bekerja demi mimpiku itu. Kaki berjalan, untuk
mendekatkan diriku padanya. Tangan membuat, dan pikiran yang sibuk
merancang. Namun, kenapa terasa ada yang salah?
Bekerjalah dengan kerasa. Usaha yang rajin untuk mewujudkan mimpi.
Aku mengulang-ngulang kalimat itu dalam hati dan pikiranku.
Aku
ingin mewujudkan mimpiku. Aku ingin menunjukkan mimpiku pada orang lain
supaya tidak dianggap hanya omong kosong. Aku ingin mimpiku itu
menatapku dengan bangga. Kata-kata bijak itu ternyata tidak cukup
membantuku. Aku telah meminta tubuhku untuk bekerja dan berusaha dengan
keras tetapi kenapa masih tidak bisa? Kenapa mimpi itu masih menjadi
mimpi? Kapan mimpi itu akan menjadi nyata? Kenapa tidak ada kata-kata
yang bijak atau kata-kata lain yang bisa membantu mimpiku untuk menjadi
nyata supaya ia bisa menyapaku dengan bangga? Dan, satu pertanyaan lagi.
Kenapa tidak ada cara yang bisa merubah mimpi untuk menjadi nyata?
Aku bertanya soal 'cara' bukan
'penyemangat' untuk bermimpi. Kenapa pula orang-orang itu hanya menyuruh
untuk bermimpi tetapi tidak dengan menunjukkan cara untuk menuju kepada
mimpi tersebut? Aku tersesat karena tidak tahu arah untuk menuju ke
mimpi. Itu yang sering aku ucapkan karena aku sering bertemu dengannya.
Aku tersesat di jalan yang tidak ku kenal karena aku tidak tahu dimana
aku berada, tidak tahu arah, berhenti di persimpangan jalan karena tidak
tahu jalan mana yang akan menuju kepada mimpiku. Kenapa? Sekali lagi.
Kenapa?
Aku kesal karena selalu tersesat.
Kasihan aku. Tetapi, mimpi merasa sedih karena rindu kenyataan. Ia
menangis. Ia sungguh-sungguh merindukan kenyataan. Menyedihkan sekali
mimpi. Ia merindukan kenyataan tetapi kenyataan tidak pernah
menghampirinya. Bahkan kenyataan tidak pernah menyapanya, hanya
menatapnya dari kejauhan. Memberitahu petunjuk untuk menuju padanya pun
tidak. Benar-benar keterlaluan kenyataan itu. Mimpi merasa sedih tetapi
ia masih akan terus berusaha. Kasihan mimpi. Ia sungguh-sungguh
merindukan kenyataan dan ingin untuk bertemu dengannnya tetapi belum
tentu kenyataan mau untuk bertemu dengannya.
#al_kyu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar