Terbuka, tapi tak
terlihat!
Awan hitam berarakan dari segala
arah. Ketika angin berhenti membawanya, maka hujan akan turun. Hari cerah
terusir karenanya. Sedang hari-hari cerah Si gadis perlahan-lahan menjauhinya.
Tim basket tak mau lagi berteman dengannya. Dengan sendirinya, pekerjaannya
sebagai manajer tim basket telah digeser oleh Sandra. Semua menyanjung Sandra.
Semua mengatakan, Sandra adalah penyelamat tim basket. Reputasi Si gadis hilang
dimata tim basket. Sandra semakin akrab dengan tim basket. Sedang Si gadis
dijauhi semuanya.
Si cowok tak menyangka teman se-timnya begitu cepat mengganti
tempat Si gadis dengan orang lain. Kenapa mereka tak mau mendengarkan alasan Si
gadis dulu sebelum memutuskan. Tempatnya begitu cepat digantikan oleh kehadiran
Sandra, yang tepat pada waktunya. Apakah seorang itu begitu berharganya
daripada orang yang sudah lama hadirnya. Meski kehadiran mereka sangat berarti,
tapi orang lamalah yang paling berarti daripada orang yang baru datang.
Sandra kini menjadi dekat dengan tim basket. Keinginannya
untuk selalu bersama Si cowok agaknya telah tercapai. Dengan menjadi manajer
tim basket, jalannya terbuka lebar untuk mendekati Si cowok. Namun usahanya
untuk mendekati Si cowok agaknya harus penuh dengan perjuangan. Si cowok selalu
bersikap dingin padanya. Setiap kali didekati, Si cowok selalu menjauh pergi.
Sungguh mengesalkan. Tapi lama-kelamaan, menyakitkan. Kehadirannya tak disadari
oleh Si cowok. Ia akan berusaha agar kehadirannya diakui oleh Si cowok.
Sementara itu, Si gadis semakin sadar kalau ia dijauhi oleh
anggota tim basket. Karena setiap kali ia datang, semuanya pergi
meninggalkannya. Terlebih lagi Si cowok yang tak pernah dilihatnya sejak saat
itu. Apa dia kecewa padaku? tanyanya dalam hati. Semua yang dimilikinya
perlahan-lahan pergi menjauhinya. Ia hanya menginginkan satu hal saja jika ia
harus kehilangan semuanya. Ia hanya menginginkan satu dari Si cowok, yaitu
kepercayaan Si cowok padanya. Tapi begitu sulit untuk bertemu dengannya. Apa ia
juga akan sebegitu sulitnya untuk mendapatkan kepercayaan Si cowok?
+++
Hari ini, Si gadis tak masuk sekolah. Ia harus memenuhi
panggilan dokter. Ia sudah berkali-kali disuruh untuk memeriksakan diri ke
dokter untuk mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya. Ia merasa jengkel setiap
kali diingatkan akan hal itu. Tapi, ia juga penasaran dengan keadaan dirinya
akhir-akhir ini, yang tiba-tiba pingsan dan mimisan.
Si gadis duduk menunggu giliran untuk pengambilan darah. Sore
nanti, tim basket ada latihan, ingatnya. Beberapa hari yang lalu ia masih
bersama mereka tapi kini tempatnya telah digantikan oleh orang lain. Ia tak
tahu akan datang atau tidak. Terserah nanti saja! katanya pada diri sendiri. Ia
mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu.
"Bintang Puspita!" panggil seorang petugas lab.
Si gadis agak terkejut. Tapi ia tahu kalau gilirannya telah
tiba. Ia memasukkan kembali buku diarinya dan mengikuti petugas lab.
Pengambilan darah sudah selesai. Si gadis sudah tak sabar
untuk mengetahui hasil tes darahnya. Ia menanyakan kepada petugas, kapan
hasilnya akan keluar.
"Dua sampai tiga jam, hasilnya bisa diambil!" jawab
Si petugas.
Si gadis bangun dari pembaringannya. Bekas jarum suntik masih
menyisakan rasa nyeri. Ia melirik pada jam tangannya. Sudah jam 11, gumamnya.
Si gadis memutuskan untuk mengambil hasilnya hari ini juga. Ia mengatakan pada
petugas mengenai maksudnya itu. Setelah itu, Si gadis melangkahkan kakinya
menuju pintu.
Si gadis melangkah dengan santai melewati lorong-lorong yang
cukup ramai, ia rasa. Ia tak menyangka ada banyak orang ditempat seperti ini.
Ia memperhatikan sekitar sembari terus melanjutkan langkahnya. Suasananya cukup
menarik. Ada seorang anak kecil berseragam biru di kejar seorang suster. Anak
kecil itu tertawa riang di kejar susternya. Si gadis tersenyum pada Si anak
ketika melewatinya. Cukup mengasyikkan untuk dilihat, tapi Si gadis tak terlalu
suka dengan tempat ini. Baunya tak enak. Terlebih lagi, ini adalah tempat
khusus bagi orang-orang yang bermasalah. Kebanyakan penghuninya memiliki masalah
dengan kesehatannya. Dan Si gadis tak mempunyai masalah dengan itu. Ia tak mau
berlama-lama berada ditempat ini. Begitu ia mendapatkan hasilnya, ia akan
segera pergi dari tempat ini.
Si gadis telah sampai dihalaman rumah sakit. Hari sudah
siang, sekolah pasti sudah bubaran di hari Jum'at, sudah jam segini, pikir Si
gadis. Dan Si cowok, mungkin ia sudah pulang dan ia tengah berlatih basket. Ia
akan pergi ke sana dan membawakan mereka minuman. Dengan begitu waktu akan
berlalu dengan cepat. Si gadis mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat
ini menuju ke tempat Si cowok begitu teringat akan Sandra. Ia telah digantikan
oleh Sandra. Jadi, keberadaannya disana tak diperlukan lagi. Terlebih lagi
Sandra adalah penyelamat mereka, jadi ia tak perlu merisaukannya atau iri
kepadanya. Kebutuhan tim pasti dipenuhi dengan baik oleh Sandra.
Si gadis memantapkan pilihannya untuk tetap disini. Ia akan
menunggu sampai hasilnya keluar. Setelah ia tahu hasilnya, ia akan merasa lebih
baik dari pada sebelumnya. Si gadis berharap, hasilnya tak akan membuatnya
kecewa. Si gadis mencari tempat untuk duduk. Ia berjalan menuju ke taman.
Taman ternyata cukup ramai. Si gadis bingung mau duduk
dimana. Semua tempat sudah ditempati orang. Si gadis mencari tempat yang lain
untuknya duduk. Akhirnya ia melihat bangku kosong dibawah pohon rindang. Segera
ia melangkah kesana.
+++
Si gadis menggoreskan pensil ke halaman kosong dibuku
diarinya. Ia berkali-kali mengulanginya. Lama-kelamaan goresan-goresan itu
membentuk suatu pola. Kemudian setelah dipertebal oleh Si gadis, maka nampaklah
lukisan seorang pemain basket yang tengah mendrible bola dan menghindari lawan. Si gadis mencoba
menorehkan apa yang ada dipikirannya.
Dipikiran Si gadis, tergambar jelas bayangan Si cowok tengah
bermain basket. Ia memejamkan matanya untuk membayangkan bagaimana Si cowok
bermain dengan gesit menghindari lawan dengan membawa bola. Ia yakin, suatu
hari Si cowok akan menjadi bintang basket terkenal dan terbaik. Si gadis
tersenyum.
“Wah... pacarmu, ya?”
Sebuah suara terdengar dan mengejutkan Si gadis. Sontak
matanya terbuka dan mencari ke sumber suara. Orang itu merebut buku diari Si
gadis untuk melihat lukisannya. Si gadis terkejut dan heran, siapa perempuan
ini? tanyanya dalam hati.
“Wow... lukisanmu, bagus! Kau belajar darimana? Kau anak
desain?” tanyanya. Sekilas ia melihat ke lukisan, lalu ia menatap Si gadis.
Si gadis tersenyum. Pipinya memerah. Si gadis memalingkan
wajahnya.
“Hey, kau ini, malah tersenyum sendiri!” ia ikut tersenyum
lalu duduk disamping Si gadis. Ia kembali memperhatikan lukisan Si gadis.
“Dia pasti tampan sekali, kan?” kata Si perempuan, “aku jadi
ingin bertemu dengannya!” lanjutnya.
Si gadis agak tersentak mendengarnya. Dua kali ia dibuat
terkejut dan heran karena tingkahnya. Ia jadi merasa... Sejenak ia
memperhatikan wajah Si perempuan. Rambut disekitar wajahnya dibiarkannya
terurai. Sedang bagian belakang diikat kuda. Ia berkata banyak pada Si gadis.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Kinar. Dia adalah tipikal orang yang mudah
akrab, nilai Si gadis. Dan juga menyenangkan, tambahnya.
+++
Di tempat lain, sesuatu tengah merisaukan Si cowok. Ia
mencoba untuk terus konsentrasi dengan latihannya. Sesekali ia mencuri pandang
ke bangku pemain. Seseorang tengah duduk santai memperhatikannya. Rambutnya dibiarkannya
tergerai. Ia tersenyum pada Si cowok. Tapi, tak semanis senyum seseorang yang
ia harapkan. Si cowok memalingkan wajahnya dan berlari mengejar bola.
Sungguh menyakitkan terasa. Orang yang disuka tak pernah
melihatnya. Biarpun menghadap, tapi orang lain yang ada di matanya. Kesal.
Ingin marah, tapi pada siapa. Kecewa. Diri terasa hancur. Ia dibudaki oleh
perasaannya. Si cowok tak mau mengertinya. Si cowok tak mau membuka hatinya
yang telah ia ketuk beribu kali. Gunung es membekukan hatinya. Sandra
menundukkan wajahnya. Air mata menetes menuruni pipinya yang putih.
+++
Tidak ada komentar:
Posting Komentar