Rabu, 31 Mei 2017

Bintang Episode 5



Terbuka, tapi tak terlihat!
Awan hitam berarakan dari segala arah. Ketika angin berhenti membawanya, maka hujan akan turun. Hari cerah terusir karenanya. Sedang hari-hari cerah Si gadis perlahan-lahan menjauhinya. Tim basket tak mau lagi berteman dengannya. Dengan sendirinya, pekerjaannya sebagai manajer tim basket telah digeser oleh Sandra. Semua menyanjung Sandra. Semua mengatakan, Sandra adalah penyelamat tim basket. Reputasi Si gadis hilang dimata tim basket. Sandra semakin akrab dengan tim basket. Sedang Si gadis dijauhi semuanya.
Si cowok tak menyangka teman se-timnya begitu cepat mengganti tempat Si gadis dengan orang lain. Kenapa mereka tak mau mendengarkan alasan Si gadis dulu sebelum memutuskan. Tempatnya begitu cepat digantikan oleh kehadiran Sandra, yang tepat pada waktunya. Apakah seorang itu begitu berharganya daripada orang yang sudah lama hadirnya. Meski kehadiran mereka sangat berarti, tapi orang lamalah yang paling berarti daripada orang yang baru datang.
Sandra kini menjadi dekat dengan tim basket. Keinginannya untuk selalu bersama Si cowok agaknya telah tercapai. Dengan menjadi manajer tim basket, jalannya terbuka lebar untuk mendekati Si cowok. Namun usahanya untuk mendekati Si cowok agaknya harus penuh dengan perjuangan. Si cowok selalu bersikap dingin padanya. Setiap kali didekati, Si cowok selalu menjauh pergi. Sungguh mengesalkan. Tapi lama-kelamaan, menyakitkan. Kehadirannya tak disadari oleh Si cowok. Ia akan berusaha agar kehadirannya diakui oleh Si cowok.
Sementara itu, Si gadis semakin sadar kalau ia dijauhi oleh anggota tim basket. Karena setiap kali ia datang, semuanya pergi meninggalkannya. Terlebih lagi Si cowok yang tak pernah dilihatnya sejak saat itu. Apa dia kecewa padaku? tanyanya dalam hati. Semua yang dimilikinya perlahan-lahan pergi menjauhinya. Ia hanya menginginkan satu hal saja jika ia harus kehilangan semuanya. Ia hanya menginginkan satu dari Si cowok, yaitu kepercayaan Si cowok padanya. Tapi begitu sulit untuk bertemu dengannya. Apa ia juga akan sebegitu sulitnya untuk mendapatkan kepercayaan Si cowok?
+++
Hari ini, Si gadis tak masuk sekolah. Ia harus memenuhi panggilan dokter. Ia sudah berkali-kali disuruh untuk memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya. Ia merasa jengkel setiap kali diingatkan akan hal itu. Tapi, ia juga penasaran dengan keadaan dirinya akhir-akhir ini, yang tiba-tiba pingsan dan mimisan.
Si gadis duduk menunggu giliran untuk pengambilan darah. Sore nanti, tim basket ada latihan, ingatnya. Beberapa hari yang lalu ia masih bersama mereka tapi kini tempatnya telah digantikan oleh orang lain. Ia tak tahu akan datang atau tidak. Terserah nanti saja! katanya pada diri sendiri. Ia mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu.
"Bintang Puspita!" panggil seorang petugas lab.
Si gadis agak terkejut. Tapi ia tahu kalau gilirannya telah tiba. Ia memasukkan kembali buku diarinya dan mengikuti petugas lab.
Pengambilan darah sudah selesai. Si gadis sudah tak sabar untuk mengetahui hasil tes darahnya. Ia menanyakan kepada petugas, kapan hasilnya akan keluar.
"Dua sampai tiga jam, hasilnya bisa diambil!" jawab Si petugas.
Si gadis bangun dari pembaringannya. Bekas jarum suntik masih menyisakan rasa nyeri. Ia melirik pada jam tangannya. Sudah jam 11, gumamnya. Si gadis memutuskan untuk mengambil hasilnya hari ini juga. Ia mengatakan pada petugas mengenai maksudnya itu. Setelah itu, Si gadis melangkahkan kakinya menuju pintu.
Si gadis melangkah dengan santai melewati lorong-lorong yang cukup ramai, ia rasa. Ia tak menyangka ada banyak orang ditempat seperti ini. Ia memperhatikan sekitar sembari terus melanjutkan langkahnya. Suasananya cukup menarik. Ada seorang anak kecil berseragam biru di kejar seorang suster. Anak kecil itu tertawa riang di kejar susternya. Si gadis tersenyum pada Si anak ketika melewatinya. Cukup mengasyikkan untuk dilihat, tapi Si gadis tak terlalu suka dengan tempat ini. Baunya tak enak. Terlebih lagi, ini adalah tempat khusus bagi orang-orang yang bermasalah. Kebanyakan penghuninya memiliki masalah dengan kesehatannya. Dan Si gadis tak mempunyai masalah dengan itu. Ia tak mau berlama-lama berada ditempat ini. Begitu ia mendapatkan hasilnya, ia akan segera pergi dari tempat ini.
Si gadis telah sampai dihalaman rumah sakit. Hari sudah siang, sekolah pasti sudah bubaran di hari Jum'at, sudah jam segini, pikir Si gadis. Dan Si cowok, mungkin ia sudah pulang dan ia tengah berlatih basket. Ia akan pergi ke sana dan membawakan mereka minuman. Dengan begitu waktu akan berlalu dengan cepat. Si gadis mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat ini menuju ke tempat Si cowok begitu teringat akan Sandra. Ia telah digantikan oleh Sandra. Jadi, keberadaannya disana tak diperlukan lagi. Terlebih lagi Sandra adalah penyelamat mereka, jadi ia tak perlu merisaukannya atau iri kepadanya. Kebutuhan tim pasti dipenuhi dengan baik oleh Sandra.
Si gadis memantapkan pilihannya untuk tetap disini. Ia akan menunggu sampai hasilnya keluar. Setelah ia tahu hasilnya, ia akan merasa lebih baik dari pada sebelumnya. Si gadis berharap, hasilnya tak akan membuatnya kecewa. Si gadis mencari tempat untuk duduk. Ia berjalan menuju ke taman.
Taman ternyata cukup ramai. Si gadis bingung mau duduk dimana. Semua tempat sudah ditempati orang. Si gadis mencari tempat yang lain untuknya duduk. Akhirnya ia melihat bangku kosong dibawah pohon rindang. Segera ia melangkah kesana.
+++
Si gadis menggoreskan pensil ke halaman kosong dibuku diarinya. Ia berkali-kali mengulanginya. Lama-kelamaan goresan-goresan itu membentuk suatu pola. Kemudian setelah dipertebal oleh Si gadis, maka nampaklah lukisan seorang pemain basket yang tengah mendrible bola dan  menghindari lawan. Si gadis mencoba menorehkan apa yang ada dipikirannya.
Dipikiran Si gadis, tergambar jelas bayangan Si cowok tengah bermain basket. Ia memejamkan matanya untuk membayangkan bagaimana Si cowok bermain dengan gesit menghindari lawan dengan membawa bola. Ia yakin, suatu hari Si cowok akan menjadi bintang basket terkenal dan terbaik. Si gadis tersenyum.
“Wah... pacarmu, ya?”             
Sebuah suara terdengar dan mengejutkan Si gadis. Sontak matanya terbuka dan mencari ke sumber suara. Orang itu merebut buku diari Si gadis untuk melihat lukisannya. Si gadis terkejut dan heran, siapa perempuan ini? tanyanya dalam hati.
“Wow... lukisanmu, bagus! Kau belajar darimana? Kau anak desain?” tanyanya. Sekilas ia melihat ke lukisan, lalu ia menatap Si gadis.
Si gadis tersenyum. Pipinya memerah. Si gadis memalingkan wajahnya.
“Hey, kau ini, malah tersenyum sendiri!” ia ikut tersenyum lalu duduk disamping Si gadis. Ia kembali memperhatikan lukisan Si gadis.
“Dia pasti tampan sekali, kan?” kata Si perempuan, “aku jadi ingin bertemu dengannya!” lanjutnya.
Si gadis agak tersentak mendengarnya. Dua kali ia dibuat terkejut dan heran karena tingkahnya. Ia jadi merasa... Sejenak ia memperhatikan wajah Si perempuan. Rambut disekitar wajahnya dibiarkannya terurai. Sedang bagian belakang diikat kuda. Ia berkata banyak pada Si gadis. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Kinar. Dia adalah tipikal orang yang mudah akrab, nilai Si gadis. Dan juga menyenangkan, tambahnya.
+++
Di tempat lain, sesuatu tengah merisaukan Si cowok. Ia mencoba untuk terus konsentrasi dengan latihannya. Sesekali ia mencuri pandang ke bangku pemain. Seseorang tengah duduk santai memperhatikannya. Rambutnya dibiarkannya tergerai. Ia tersenyum pada Si cowok. Tapi, tak semanis senyum seseorang yang ia harapkan. Si cowok memalingkan wajahnya dan berlari mengejar bola.
Sungguh menyakitkan terasa. Orang yang disuka tak pernah melihatnya. Biarpun menghadap, tapi orang lain yang ada di matanya. Kesal. Ingin marah, tapi pada siapa. Kecewa. Diri terasa hancur. Ia dibudaki oleh perasaannya. Si cowok tak mau mengertinya. Si cowok tak mau membuka hatinya yang telah ia ketuk beribu kali. Gunung es membekukan hatinya. Sandra menundukkan wajahnya. Air mata menetes menuruni pipinya yang putih.
+++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar