Kan terulang
Tak terasa waktu telah berlalu. Si gadis banyak mendengar
cerita dari Kinar. Pembicaraan sudah sampai kemana-mana. Orangnya enak untuk
diajak bicara. Dan tentunya ia lebih berpengalaman dari pada Si gadis. Jadi, Si
gadis bisa bertanya banyak hal yang tak diketahuinya pada Kinar. Kinar juga
banyak mengomentari lukisan Si gadis. Ia bisa berbicara begitu karena ia
lulusan dari bidang itu. Ia memuji lukisan si gadis.
“Ah, ini hanya hobi. Yang penting, apa yang ku pikirkan bisa
tertuangkan!” kata Si gadis menyanggah.
“Itu memang benar! Seni itu menyenangkan. Tak seorang pun
bisa menyamainya. Karena setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Jadi, setiap apapun yang tercipta, ya itulah apa yang ada di pikiranmu dan kau
juga bisa mengekspresikan diri dengannya. Tapi, yang lebih penting lagi adalah
inspirasi. Setiap orang pasti memiliki inspirasinya masing-masing. Karena tanpa
adanya inspirasi karya seni itu takkan mungkin bisa terbentuk. Dia inspirasimu,
ya Bintang?” ia menatap mata Si gadis.
Si gadis tak pernah memikirkan tentang hal itu. Tapi, setiap
kali melukis yang ada dipikirannya hanyalah permainan basket Si cowok. Si gadis
yakin, kalau Si cowok adalah Bintang baginya. Tapi kalau inspirasi, mungkin
saja.
“Kau kabur lagi?”
Terdengar suara tegas bertanya. Si gadis dan Kinar langsung
menoleh ke sumber suara. Air muka Kinar yang semula ceria kini berubah. Sedang
Si gadis agak terkejut melihat seseorang tengah berdiri didepan mereka.
Tubuhnya tegap mirip atlet. Berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar
dan bening. Rambut pendeknya tegak lurus mengikuti pola kapalanya. Sedangkan ia
memakai jas putih.
“Yah, Dokter, kayak baru sekali, saja!” kata Kinar sambil
memalingkan wajahnya. “Aku pasti kembali kok, Dok! Biarkan aku disini untuk beberapa
saat lagi!” katanya terdengar memohon.
Si gadis terkejut campur bingung mendengar itu. Ia bergantian
melihat ke dokter dan Kinar. Ia tak
menyangka, beberapa waktu lamanya ia bersama seorang pasien. Disangkanya, ia
adalah seorang kerabat dari salah satu pasien yang datang menjenguk. Tapi
ternyata ia sendirilah yang seharusnya dijenguk.
“Iya. Aku adalah salah satu pasien di rumah sakit ini!” kata
Kinar begitu melihat perubahan diwajah si gadis.
“Kau terkejut, ya?” tambahnya. Ia terlihat kecewa.
“Ah, tidak kok. Hanya saja...!” Si gadis menyesal. Ia jadi
salah tingkah. Ia takut menyinggung perasaan Kinar.
“Lupakan saja! Aku mengerti kok atas keterjutanmu!” tersenyum
pada Si gadis. “Aku lupa bilang kalau aku ini adalah pasien Leukimia disini.
Tadi itu, aku habis jalan-jalan. Soalnya, membosankan sekali dikamar terus!”
katanya ringan. Seolah tak ada beban apapun. Diam-diam Si gadis mengagumi Kinar
yang tetap terlihat ceria meskipun sedang sakit. Ia nampak tegar.
Si dokter memperhatikan Si gadis untuk beberapa waktu. Tak
pernah ia melihat seorang gadis seperti itu sebelumnya. Mungkin bukannya tak
pernah lihat, tapi karena ia sendiri yang tak mau melihat, memperhatikan,
perempuan, sebelumnya. Tapi kini, seseorang yang baru dilihatnya telah menarik
perhatiannya. Segera ia menepis pikirannya dan memalingkan wajahnya ke tempat
lain.
Kinar memergoki Si dokter tengah memperhatikan Si gadis. Ia
tersenyum menggoda. Bergantian ia melihat Si gadis dan Si dokter. Sayang, Si
dokter tak melihatnya. Tapi, Si gadis melihatnya. Si gadis heran melihat Kinar.
“Cepat kembali ke kamarmu! Kau terlambat minum obat!” kata Si
dokter sambil melangkah pergi.
Si gadis bingung melihat Kinar yang masih tertawa tak jelas
apa maksudnya. Sementara itu, Si dokter telah pergi meninggalkan mereka. Kinar
tertawa lepas sehingga Si gadis lebih bingung dan heran. Setelah puas tertawa,
ia mendekatkan wajahnya pada Si gadis. Si gadis terkejut. Ia mencoba menghindar
tapi dicegah oleh Kinar. Kinar membisikkan sesuatu ke telinga Si gadis.
“Hati-hati! Si Vino taruh perhatian, lo!”
Kinar beranjak dari tempatnya diiringi senyum menggoda.
Dengan semangat Kinar meninggalkan Si gadis. Senyum menggoda Kinar meninggalkan
tanda tanya dibenak Si gadis.
+++
“Dok, bagaimana hasilnya?” tanya Si gadis pada dokter senior
yang sudah menjadi dokter pribadi keluarganya.
Dokter itu tak segera menjawab pertanyaan Si gadis. Ia
menatap sayu Si gadis. Perlahan ia mengulurkan sebuah amplop putih pada Si
gadis. Si gadis segera membuka dan membaca isinya.
Bumi bergetar. Nafasnya sejenak terhenti. Tangannya bergetar.
Matanya berkunang-kunang mengetahui apa yang tertuliskan disitu. Lidahnya kelu.
Pikiran lenyap entah kemana. Seolah dunia seisinya terbalik. Ia tak percaya
dengan apa yang dilihatnya kini.
“Kita harus memulai pengobatan dari sekarang. Itu ada
obatnya. Walau baru stadium dua, kita harus mulai pengobatan sejak dini. Ini
memang agak terlambat mengetahuinya, tapi daripada tidak sama sekali. Dan
masalah ini harus segera disampaikan pada orang tuamu!" jelas dokter.
Terasa lemas tak bertenaga Si gadis mendengar itu semua. Ia
mencoba untuk tegar dan berusaha untuk menenanngkan diri. Penolakannya untuk
dirawat cukup mengejutkan sang dokter. Si gadis tak percaya kalau dirinya
tengah sakit. Ia merasa baik-baik saja. Meski kadang...
Si gadis memohon pada sang dokter agar tak mengatakan tentang
penyakitnya pada ayahnya. Ia berjanji akan mengatakannya sendiri. Tapi ia
sendiri tak yakin, apakah ia akan mengatakannya atau tidak. Sedang, ayahnya
terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Ruang dokter Azran baru saja tertutup. Si gadis bersandar di
pintu. Peluh terus menetes. Apa yang baru saja ia alami, sungguh sulit untuk
diterimanya. Ia teringat akan orang-orang yang dicintainya. Ia tahu, apa yang
dideritanya kini ada obatnya, seperrti yang dikatakan dokter Azran padanya.
Tapi, kalau gagal bagaimana? Sudah banyak orang yang mati karena penyakit ini
meski mereka sudah di obati, tapi gagal.
Ayahnya, biar pun terlihat tak peduli padanya, Si gadis tahu
kalau ayahnya sangat mencintainya lebih dari siapa pun. Dan ibunya, yang tak
sempat melihatnya tumbuh dewasa, sudah pasti sangat menyayanginya. Tapi,
bayangan akan kepergiannya sungguh tak sanggup ia pikul. Masa lalu kan terulang
lagi. Ayahnya akan menangis lagi dipusara orang yang sangat dikasihinya, untuk
yang kedua kalinya.
Si gadis segera menyeka airmatanya. Dengan langkah berat ia
meninggalkan tempat itu. Pandangan matanya kosong sehingga tanpa sengaja ia
menabrak seseorang yang berpakaian putih. Tubuhnya tegap dan berperawakan
tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Beberapa saat ia membuntuti
Si gadis dengan pandangannya.
+++
Tidak ada komentar:
Posting Komentar