Rabu, 31 Mei 2017

Bintang Episode 6



Kan terulang
Tak terasa waktu telah berlalu. Si gadis banyak mendengar cerita dari Kinar. Pembicaraan sudah sampai kemana-mana. Orangnya enak untuk diajak bicara. Dan tentunya ia lebih berpengalaman dari pada Si gadis. Jadi, Si gadis bisa bertanya banyak hal yang tak diketahuinya pada Kinar. Kinar juga banyak mengomentari lukisan Si gadis. Ia bisa berbicara begitu karena ia lulusan dari bidang itu. Ia memuji lukisan si gadis.
“Ah, ini hanya hobi. Yang penting, apa yang ku pikirkan bisa tertuangkan!” kata Si gadis menyanggah.
“Itu memang benar! Seni itu menyenangkan. Tak seorang pun bisa menyamainya. Karena setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Jadi, setiap apapun yang tercipta, ya itulah apa yang ada di pikiranmu dan kau juga bisa mengekspresikan diri dengannya. Tapi, yang lebih penting lagi adalah inspirasi. Setiap orang pasti memiliki inspirasinya masing-masing. Karena tanpa adanya inspirasi karya seni itu takkan mungkin bisa terbentuk. Dia inspirasimu, ya Bintang?” ia menatap mata Si gadis.
Si gadis tak pernah memikirkan tentang hal itu. Tapi, setiap kali melukis yang ada dipikirannya hanyalah permainan basket Si cowok. Si gadis yakin, kalau Si cowok adalah Bintang baginya. Tapi kalau inspirasi, mungkin saja.
“Kau kabur lagi?”
Terdengar suara tegas bertanya. Si gadis dan Kinar langsung menoleh ke sumber suara. Air muka Kinar yang semula ceria kini berubah. Sedang Si gadis agak terkejut melihat seseorang tengah berdiri didepan mereka. Tubuhnya tegap mirip atlet. Berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Rambut pendeknya tegak lurus mengikuti pola kapalanya. Sedangkan ia memakai jas putih.
“Yah, Dokter, kayak baru sekali, saja!” kata Kinar sambil memalingkan wajahnya. “Aku pasti kembali kok, Dok! Biarkan aku disini untuk beberapa saat lagi!” katanya terdengar memohon.
Si gadis terkejut campur bingung mendengar itu. Ia bergantian melihat ke dokter dan Kinar. Ia  tak menyangka, beberapa waktu lamanya ia bersama seorang pasien. Disangkanya, ia adalah seorang kerabat dari salah satu pasien yang datang menjenguk. Tapi ternyata ia sendirilah yang seharusnya dijenguk.
“Iya. Aku adalah salah satu pasien di rumah sakit ini!” kata Kinar begitu melihat perubahan diwajah si gadis.
“Kau terkejut, ya?” tambahnya. Ia terlihat kecewa.
“Ah, tidak kok. Hanya saja...!” Si gadis menyesal. Ia jadi salah tingkah. Ia takut menyinggung perasaan Kinar.
“Lupakan saja! Aku mengerti kok atas keterjutanmu!” tersenyum pada Si gadis. “Aku lupa bilang kalau aku ini adalah pasien Leukimia disini. Tadi itu, aku habis jalan-jalan. Soalnya, membosankan sekali dikamar terus!” katanya ringan. Seolah tak ada beban apapun. Diam-diam Si gadis mengagumi Kinar yang tetap terlihat ceria meskipun sedang sakit. Ia nampak tegar.
Si dokter memperhatikan Si gadis untuk beberapa waktu. Tak pernah ia melihat seorang gadis seperti itu sebelumnya. Mungkin bukannya tak pernah lihat, tapi karena ia sendiri yang tak mau melihat, memperhatikan, perempuan, sebelumnya. Tapi kini, seseorang yang baru dilihatnya telah menarik perhatiannya. Segera ia menepis pikirannya dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Kinar memergoki Si dokter tengah memperhatikan Si gadis. Ia tersenyum menggoda. Bergantian ia melihat Si gadis dan Si dokter. Sayang, Si dokter tak melihatnya. Tapi, Si gadis melihatnya. Si gadis heran melihat Kinar.
“Cepat kembali ke kamarmu! Kau terlambat minum obat!” kata Si dokter sambil melangkah pergi.
Si gadis bingung melihat Kinar yang masih tertawa tak jelas apa maksudnya. Sementara itu, Si dokter telah pergi meninggalkan mereka. Kinar tertawa lepas sehingga Si gadis lebih bingung dan heran. Setelah puas tertawa, ia mendekatkan wajahnya pada Si gadis. Si gadis terkejut. Ia mencoba menghindar tapi dicegah oleh Kinar. Kinar membisikkan sesuatu ke telinga Si gadis.
“Hati-hati! Si Vino taruh perhatian, lo!”
Kinar beranjak dari tempatnya diiringi senyum menggoda. Dengan semangat Kinar meninggalkan Si gadis. Senyum menggoda Kinar meninggalkan tanda tanya dibenak Si gadis.
+++
“Dok, bagaimana hasilnya?” tanya Si gadis pada dokter senior yang sudah menjadi dokter pribadi keluarganya.
Dokter itu tak segera menjawab pertanyaan Si gadis. Ia menatap sayu Si gadis. Perlahan ia mengulurkan sebuah amplop putih pada Si gadis. Si gadis segera membuka dan membaca isinya.
Bumi bergetar. Nafasnya sejenak terhenti. Tangannya bergetar. Matanya berkunang-kunang mengetahui apa yang tertuliskan disitu. Lidahnya kelu. Pikiran lenyap entah kemana. Seolah dunia seisinya terbalik. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
“Kita harus memulai pengobatan dari sekarang. Itu ada obatnya. Walau baru stadium dua, kita harus mulai pengobatan sejak dini. Ini memang agak terlambat mengetahuinya, tapi daripada tidak sama sekali. Dan masalah ini harus segera disampaikan pada orang tuamu!" jelas dokter.
Terasa lemas tak bertenaga Si gadis mendengar itu semua. Ia mencoba untuk tegar dan berusaha untuk menenanngkan diri. Penolakannya untuk dirawat cukup mengejutkan sang dokter. Si gadis tak percaya kalau dirinya tengah sakit. Ia merasa baik-baik saja. Meski kadang...
Si gadis memohon pada sang dokter agar tak mengatakan tentang penyakitnya pada ayahnya. Ia berjanji akan mengatakannya sendiri. Tapi ia sendiri tak yakin, apakah ia akan mengatakannya atau tidak. Sedang, ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Ruang dokter Azran baru saja tertutup. Si gadis bersandar di pintu. Peluh terus menetes. Apa yang baru saja ia alami, sungguh sulit untuk diterimanya. Ia teringat akan orang-orang yang dicintainya. Ia tahu, apa yang dideritanya kini ada obatnya, seperrti yang dikatakan dokter Azran padanya. Tapi, kalau gagal bagaimana? Sudah banyak orang yang mati karena penyakit ini meski mereka sudah di obati, tapi gagal.
Ayahnya, biar pun terlihat tak peduli padanya, Si gadis tahu kalau ayahnya sangat mencintainya lebih dari siapa pun. Dan ibunya, yang tak sempat melihatnya tumbuh dewasa, sudah pasti sangat menyayanginya. Tapi, bayangan akan kepergiannya sungguh tak sanggup ia pikul. Masa lalu kan terulang lagi. Ayahnya akan menangis lagi dipusara orang yang sangat dikasihinya, untuk yang kedua kalinya.
Si gadis segera menyeka airmatanya. Dengan langkah berat ia meninggalkan tempat itu. Pandangan matanya kosong sehingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berpakaian putih. Tubuhnya tegap dan berperawakan tegas. Badannya tinggi. Matanya lebar dan bening. Beberapa saat ia membuntuti Si gadis dengan pandangannya.
+++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar