Tekad
Burung merpati bercengkrama riuh dengan anak-anaknya didahan
pohon. Sedang, kelelawar dan burung-burung yang lain telah kembali dari
perburuaannya. Orang-orang telah kembali dari kesibukannya. Sementara itu, Si
gadis masih duduk termenung di taman kota.
Sudah beberapa jam ia duduk diam tak melakukan apapun,
pikirannya mengambang. Tatapan kosong. Beberapa waktu lamanya ia diam membisu.
Jika pun, pulang, tetap saja sendiri. Orang-orang silih berganti melewatinya.
Mereka heran melihat Si gadis yang duduk melamun. Ia tak memiliki siapa pun
lagi. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah ayahnya seorang. Tapi, sudah lama
sekali Si gadis tak bertatap muka dengan ayahnya.
Seketika mata sipit Si gadis yang mulai meredup kembali
bersinar. Pikirannya telah kembali. Ia masih memilikinya. Ia masih memiliki
seseorang yang sangat dicintainya, mencintainya. Ia masih memiliki Si cowok.
Walaupun Si cowok tak pernah mengatakan cinta atau sayang, tapi ia yakin kalau
Si cowok menyayanginya. Ia tak merisaukan itu. Yang penting, ia masih memiliki
seseorang yang penting baginya. Ia tahu kalau Si cowok setia padanya. Tak
pernah Si cowok melukainya.
Segera Si gadis mengambil ponsel-nya dari dalam tas. Ia
membuka kontak nama dan memencet tombol hijau setelah menemukan nama yang ia cari.
Semangatnya telah kembali. Harapan dan impiannya kembali cerah. Ia tak peduli
lagi dengan apa yang telah terjadi padanya hari ini. Yang penting, masih ada
orang lain yang menjadikannya penting.
Setelah berbicara agak panjang di telepon, Si gadis tersenyum
lebar. Ia telah kembali lagi seperti dulu. Segera ia beranjak dari tempatnya.
+++
Terkejut. Bingung juga. Tapi, senang. Itulah kiranya yang
tengah dirasakan oleh Si cowok. Terkejut, tiba-tiba saja ponsel-nya berdering
ketika ia beristirahat setelah selesai latihan. Ia sudah mau pulang, tapi Si
gadis bilang akan datang. Ia jadi heran. Kenapa Si gadis tak datang ketika ia
latihan dan, malah mau datang setelah latihan usai? Kenapa ia tak membawakan
minum lagi seperti dulu? Tapi, ia senang mendengar Si gadis akan datang. Ia
akan berlama-lama disana menunggu Si gadis.
"Biyan, kau tak pulang?" tanya Melky.
Melky, Soni, Joe, dan kak Roi menghampiri Si cowok yang
tengah duduk nglesot di bawah ring. Mereka semua ikut nglesot. Si cowok tengah
menengguk minumnya.
"Biyan, kau tak pulang?" ulang Melky.
"Nanti saja!" jawab Si cowok datar.
"Ya sudah! Duluan, ya!" Melky berdiri.
"Aku juga!" sambung Soni.
"Tunggu aku!" Joe bangkit dengan cepat dan mengejar
Melky dan Soni.
Sedang kak Roi masih duduk berselonjor kaki. Nafasnya masih
putus-putus. Si cowok diam tak berkomentar.
"Bintang kok tak pernah datang, ya? Aku jadi
kangen!" kata kak Roi tiba-tiba.
Si cowok tersentak. Segera ia menyembunyikan perubahan
wajahnya. Ia tak mengira kalau kak Roi akan berkata seperti itu. Ia menatap
kosong ke tempat lain. Apa kak Roi tak tau kedekatannya dengan Si gadis? Apa ia
tidak tahu kalau Si gadis sudah ada yang punya? Terlebih lagi ia berkata begitu
di depannya, gerutu Si cowok.
"Ya sudah! Aku pulang dulu. Mungkin besok ia akan datang
kayak dulu. Kan jadi rame!" lanjut kak Roi diiringi senyum. Ia menepuk
bahu Si cowok lalu berdiri. "Oya, kau tak pulang besamaku?"
"Kau duluan!" kata Si cowok tanpa melihat ke arah
lawan bicaranya.
Kak Roi melangkahkan kakinya. Tiba-tiba kak Roi menghentikan
langkahnya dan berbalik.
"Oya, jangan diambil hati soal kangen tadi!"
gingsulnya terlihat. Si cowok hanya menatapnya datar.
Kak Roi tersenyum. Lalu ia pergi meninggalkan Si cowok
sendiri. Mereka tak tahu kalau mereka tidak hanya berdua. Seseorang tengah menunggu
kepergian kak Roi. Setelah Si cowok sendirian, perlahan ia mendekati Si cowok.
"Kau tak pulang, Biyan?" tanya orang itu. Ia
berdiri dibelakang Si cowok.
Suara itu tak begitu akrab di telinga Si cowok. Ia tahu pasti
kalau itu bukan suara Si gadis. Ia menoleh sekilas. Sandra tersenyum kepadanya.
Si cowok tak menanggapinya.
Si cowok mengambil tasnya dan menaruhnya lagi di bahunya. Ia
berdiri.
"Kau belum pulang?" tanya Si cowok datar tanpa
melihat ke arahnya.
"Iya. Ini sudah mau pulang! Kau juga mau pulang,
kan?"
Sandra bersemangat. Si cowok tak menyahutnya. Ia menatap Si
cowok. Tapi, entah apa yang tengah dilakukan Si cowok sehingga tak melihatnya.
Si cowok membuka ponselnya. Sebuah pesan baru belum dibuka.
Si cowok menekan tombol dan membacanya. Setelah selesai membaca, segera Si
cowok pergi meninggalkan Sandra. Sandra heran melihat Si cowok yang pergi
begitu saja. Pikiran buruk ditepisnya. Segera ia mengikuti langkah Si cowok
yang cepat. Ia sudah tertinggal jauh.
+++
Beberapa menit yang lalu Si gadis sudah sampai di halaman
gedung olahraga. Ia telah mengirimkan pesan singkat pada Si cowok. Dengan
langkah ringan Si gadis berjalan menuju ke pintu masuk. Baru menaiki satu anak
tangga Si gadis melihat Si cowok berjalan ke arahnya. Tetap seperti dulu. Masih
sama. Dengan tas yang sama. Seragam yang sama. Dengan langkah ringan berjalan
menuju ke tempat Si gadis. Seketika Si gadis tersenyum.
Si cowok menghentikan langkahnya begitu Si gadis tepat di
depannya. Terlihat lagi senyum manis itu. Masih sama seperti dulu. Binar
matanya, malah semakin sipit, tak terlihat ketika ia tersenyum. Tapi lesung
pipinya, masih sama seperti dulu, ditutupi oleh rambut yang dibiarkannya
tergerai.
"Sudah selesai, kan?" kata Si gadis diiringi
senyum.
Si cowok tak membalasnya. Ia langsung melangkahkan kakinya.
Si gadis berbalik dan segera mengejar langkah Si cowok.
Dari arah dalam, Sandra melangkahkan kakinya dengan berat.
Matanya nanar. Ia tak menyangka kalau ia akan melihatnya. Ia kira hubungan
mereka telah berakhir. Terlebih lagi, sikap Si cowok yang selalu dingin. Ia
pikir, Si gadis sudah pergi meninggalkan Si cowok karena lelah diperlakukan
seperti itu.
Sandra menghapus air matanya. Ia bertekad untuk tak menyerah
disini. Si cowok bersikap dingin bukan hanya pada satu orang, tapi ke semuanya,
termasuk kepadanya juga. Pada Si gadis, juga sama. Ia akan berusaha untuk
mendapatkan Si cowok. Kalau Si gadis bisa, kenapa ia tak bisa. Ia akan berusaha
untuk melelehkan kristal es di hati Si cowok.
+++
Back
Tidak ada komentar:
Posting Komentar