Sang Manager
Si gadis duduk dengan tenang. Pandangan matanya menari-nari,
melejit lincah, mengikuti gerak lincah Si cowok. Ia tak pernah bosan melihat
permainan basket. Terlebih lagi melihat permainan Si cowok. Sesekali ia teriak
memberikan semangat pada Si cowok. Di sampingnya ada dua buah kantung plastik
penuh berisi minuman. Ia mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu
di halaman kosong dari bukunya.
"Fuh...." kak Roi menghempaskan tubuhnya di
samping Si gadis. Nafasnya ngos-ngosan. Peluh menetes. Si gadis menoleh dan
tersenyum padanya. Ia telah menutup buku diarinya.
Kak Roi memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain
basket. Si cowok baru saja memasukkan bola ke keranjang. Kulitnya terlihat
mengkilap karena keringat.
"Hah, selalu saja dia yang mencetak poin!" desah
kak Roi. Ia mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah kena keringat.
Si gadis hanya tersenyum menanggapi. Ia tak melihat
perubahan kak Roi yang kesal. Ia malah asyik memperhatikan Si cowok. Kak Roi
terus ngeracau kesal karena merasa kalah dengan Si cowok. Si gadis tak
menghiraukannya.
Kak Roi menoleh ke arah Si gadis. Wajahnya menatap lurus ke
depan. Lesung pipinya terlihat jelas. Bibirnya terus menyulam senyum. Kak Roi
kecewa, ternyata apa yang ia katakan tak ada satu pun yang didengarkan oleh Si
gadis.
"Hah... Kau tak bosan apa, melihatnya terus?" kata
kak Roi terdengar kesal.
Si gadis terkejut. Ia menunduk malu mendengar perkataan kak
Roi.
"Kak Roi, apa-an sih?" kata Si gadis tetap
menunduk.
Ia meraih kantung plastik di sampingnya setelah meletakkan
buku diarinya di bangku tempatnya duduk.
"Mau tidak? Kalau tidak, akan aku bawa pergi!" Si
gadis bangun sambil membawa kantung plastiknya.
"Hey, kau tak mau berbagi denganku?" kak Roi
kesal.
"Habisnya, kak Roi, sih. Ambil sendiri!" Si gadis
menyodorkan kantong plastiknya.
"Dua, ya?"
"Enak, aja! Ngrampok, apa minta sih?" Si gadis
menarik kantungnya.
"Iya-iya. Gitu aja!" cengengesan. Gingsulnya
terlihat. Ia mengambil sebotol.
Si gadis masih agak kesal karenanya. Ia meninggalkan kak Roi
sendirian di bangku pemain. Ia menuju ke arah Si cowok dan pemain lain yang
tengah beristirahat di tengah lapangan. Ada yang duduk diam, ada yang
mengibas-ngibaskan pakaiannya, dan ada pula yang tiduran telentang. Mereka
sudah lelah berlatih. Si gadis dengan langkah ringan menghampiri mereka.
"Ini minumannya! Kalian pasti lelah!" kata Si
gadis sambil memberikan minuman pada semuanya. Semua menyambutnya dengan
gembira.
"Wah... enak nih! Ada yang nyiapin minuman. Kalau
begini terus, aku jadi betah berlama-lama latihan!" cerocos Melky, lalu
tersenyum. Pandangan matanya mengarah ke tempat Si gadis dan Si cowok gantian.
"Hemm... kenapa tak jadi manajer kita aja? Kan seru
tuh!" sahut Joe sebelum menengguk minumnya.
Si gadis tak menghiraukannya. Hingga sampailah ia pada Si
cowok dan memberikan minuman padanya. Si gadis memberikannya sambil menyungging
senyum dibibirnya. Si cowok tak mengatakan apa-apa pada Si gadis. Ia langsung
menengguk minumnya. Sedang Si gadis, kembali duduk di bangku pemain. Kak Roi
masih di situ.
"Bagaimana menurutmu, Biyan?" kata Joe.
"Iya, Biyan. Jadikan saja dia manajer kita, yang
nyiapin semua keperluan kita! Lagipula kan, kita akan jauh lebih sibuk dari
biasanya karena turnamen nanti!" tambah Melky.
"Ah, jangan! Nanti ngerepotin dia, lagi. Kasihan, dia!"
sahut Soni. Lalu menengguk habis minumnya.
"Tapi, manajer itu penting! Kenapa tak coba kau
pikirkan dulu, Biyan? Kau tak akan susah karena akan ada yang membantumu!"
kata Joe menyakinkan.
Si cowok berdiri dan membawa botol minumannya yang sudah tak
ada isinya lagi. Ia meninggalkan teman-temannya yag masih istirahat.
"Terserahlah!" kata Si cowok begitu agak jauh dari
mereka. Mereka bisa mendengarnya dengan jelas meski Si cowok berkata dengan
tidak jelas.
"Tanyakan padanya, mau apa tidak?" teriak Joe.
Si cowok tak menyahutnya. Ia meneruskan langkahnya. Di
hatinya bersemi perasaan bahagia. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Ia
tersenyum simpul seraya meletakkan tas di bahunya. Ia melangkah menuju ruang
ganti di ikuti oleh yang lainnya.
+++
Hari cukup cerah tuk di lewati meski berawan merah. Simpang
siur kendaraan lewat dijalan. Sementara itu, Si gadis dan Si cowok tengah
berjalan bersama menyusuri jalan di trotoar. Di trotoar, sesak dipadati
orang-orang yang baru pulang dari kerja sehingga Si gadis dan Si cowok harus
mencari celah untuk melanjutkan langkah. Walau deru mesin kendaraan cukup
mempekikkan telinga tetapi tak sedikit pun mengganggu kesibukan masing-masing
orang yang berlalu lalang. Suara jerit burung pun tak kalah juga ikut
menyumbang kebisingan kota. Sedangkan di langit, awan merah bergerombol
berarakan menuju ke sang surya berada, semakin tak kelihatan. Si gadis tetap
menyambut gelap dengan senyum manisnya.
Si cowok yang berjalan disampingnya diam membisu. Seolah
keramaian itu tak berarti apapun, tak sedikitpun merisaukannya. Ia memiliki
ketenangan tersendiri diantara keramaian kota. Ia teringat saran Joe untuk
menjadikan Si gadis manajer tim basketnya. Ia pikir, ada benarnya juga apa yang
dikatakan Joe. Dengan begitu akan ringan bebannya. Ditambah lagi, akan ada
alasan untuknya bersama Si gadis terus.
Si cowok bingung mau mulai mengatakannya dari mana. Ia
kesulitan untuk mengawali menyampaikan maksudnya pada Si gadis. Hingga sampai
di depan gerbang rumah Si gadis, Si cowok belum juga bisa mengatakannya. Mereka
menghentikan langkah tepat di depan gerbang rumahnya Si gadis.
Si gadis tersenyum pada Si cowok. Setelah itu ia membuka
gerbang dan mulai melangkah masuk. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara
Si cowok yang memintanya untuk menjadi manajer tim basket.
Si gadis agak terkejut. Ia berbalik dan menatap Si cowok.
Pandangan Si cowok tak tahu pergi kemana. Si gadis mendongkak untuk melihat
wajah Si cowok. Tapi, ia malah melihat ke arah lain.
"Kau... mau kan, menjadi... manajer tim...
basket?" ulang Si cowok tanpa melihat ke arah Si gadis.
Ia tak berani bertatapan mata dengan Si gadis. Lama ia tak
mendengar jawaban Si gadis. Ia menundukkan pandangannya dan seketika tatapan
matanya bertemu dengan mata Si gadis. Si gadis tersenyum. Binar matanya lebih
terang dari bintang di langit, meluruhkan hati. Ia tak mau mengulang
pertanyaannya lagi.
"Tentu saja aku mau! Jangan khawatir, aku pasti akan
bekerja dengan baik. Takkan mengecewakan, aku janji!" Si gadis berkata
dengan semangat. Senyumnya mengambang. Mata sipitnya semakin tak terlihat. Si
cowok senyum sekilas tanpa sepengetahuan Si gadis. Ia yakin, Si gadis tak
melihat senyumnya itu.
+++
Hari-hari menjadi manajer cukup menguras tenaga maupun waktu
Si gadis. Walau begitu, ia tetap semangat untuk melakukannya. Sejak awal ia
sudah tahu kalau pekerjaan ini akan begitu, jadi ia sudah siap dengan apa saja
yang harus ia lakukan.
Di sekolah, sekali dua kali sehari ia menemui Si cowok dan
tim-nya. Ia mencatat semua apa yang diperlukan tim dan menyiapkannya. Hari
menuju pertandingan sudah dekat. Si gadis tak pernah absen untuk hadir saat
latihan. Tak lupa, ia menyiapkan keperluan tim dan minumannya ketika latihan.
Si gadis tengah berbincang-bincang dengan semua tim basket.
Namun, yang banyak bicara bukan ketuanya, tapi malah teman-temannya itu.
"Tak terasa kurang dua hari lagi kita akan bertanding.
Siap nggak, ya?" kata Melky. Wajahnya terlihat tegang.
"Alah... gitu aja! Masak kau mau menyerah sebelum
bertanding?" komen Soni sambil mengusap wajah Melky.
"Hey... kau ini!" sahut Melky kesal sambil menepis
tangan Soni.
"Hey!" Joe melerai Melky dan Soni yang saling
balas pukul.
"Besok adalah akhir dari latihan kita. Setelah itu kita
akan memulai pertarungan perdana kita, jadi kita harus melakukan yang terbaik
dan sekuat tenaga kita!" kata Joe sambil berdiri dan mengangkat kedua
tangannya seperti sedang menyampaikan pidatonya.
Si gadis hanya tersenyum menyaksikan tingkah mereka. Sedang,
Si cowok malah asyik memperhatikan awan yang bergerak pelan mengikuti angin
yang membawanya. Keramaian teman-temannya seolah tak pernah ada, tak
mengganggunya. Sementara itu terdengar suara pelajar-pelajar lain yang
teriak-teriak memesan sesuatu pada pelayan kantin yang serabutan melayani
pesanan.
Seseorang yang dipojok sedari tadi memperhatikan Si cowok
dari tempatnya. Dimana pun berada ia selalu mengikuti Si cowok tanpa
sepengetahuannya. Ia mencoba mendekat Si cowok, tapi selalu kedahuluan Si
gadis. Selain itu, tak pernah sedetik pun Si cowok memperhatikannya. Mungkin ia
tak melihatnya, katanya menenangkan diri sendiri.
"Biyaann..." teriak kak Roi dan Joe bebarengan
sambil menyenggol Si cowok.
Si cowok agak terkejut dibuatnya. Ia langsung menoleh dan
melihat ke teman-temannya bergantian. Matanya terhenti ketika melihat Si gadis.
Lesung pipinya terlihat sebagian. Sedang yang sebagian lagi di tutupi oleh
rambutnya yang sebagian di gerai. Mata sipitnya tetap terlihat berbinar selagi
ia minum.
"Eh, lo malah nglamun!" kata Joe sambil menepuk
bahunya. Sontak ia beralih pandang pada Joe.
Wajah Si cowok berubah, agak kesal ia. Mengganggu saja,
katanya dalam hati. Ia mengambil gelas minumnya dan langsung meminumnya tanpa
mengatakan apapun.
"Tapi, ada yang lebih penting nih!" kata Melky
mulai serius. Semua jadi serius menanggapinya. Semua terdiam menunggu Melky
melanjutkan perkataannya.
"Kita harus berterima kasih sebanyak-banyaknya pada
manajer kita yang selalu setia merawat kita!" kata Melky keras seraya
mendekap kedua tangannya di dada.
"Emang dia emak, lu!" sahut Soni. Ia refleks
melempar pilus yang ada ditangannya. Melky cengengesan. Si gadis tersenyum
menanggapi.
"Benar juga itu! Emang, Bintang berjasa banget di
latihan!" sahut kak Roi sambil meletakkan lengannya dileher Si cowok,
"benarkan, Biyan?" lanjut kak Roi tanpa memedulikan Si cowok yang hampir
tersedak.
"Tidak, kok! Biasa saja!" sahut Si gadis agak
malu. Ia merasa tersanjung dan malu. "Justru kalian yang lebih, dari pada
aku! Tetap semangat, ya!" lanjut Si gadis.
"Kita semua dech! Kita semua yang terbaik. Dari pada di
ributin!" kata Joe mencoba berlaku adil. Lalu meneguk habis minumnya. Yang
lain tertawa dan menyetujuinya. Si cowok melepas tangan kak Roi dan berdiri.
Semua terkejut dan menanyai Si cowok mau pergi kemana. Si gadis menggigit
sedotannya.
"Nggak tahu!" sahut Si cowok singkat.
Semua kesal pada Si cowok. Hanya itu saja, pikir mereka.
Diam sih diam, tapi itu keterlaluan, nggak jelas gitu, kata Joe kesal pada diri
sendiri. Si gadis memperhatikan Si cowok yang hanya terlihat punggungnya.
Pandangannya beralih pada gelas yang ada di depannya begitu tak terlihat lagi.
Ia melepas gigitannya lalu tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu,
ya!" kata Si gadis lalu berdiri.
Bumi bergetar. Tubuhnya seolah mau roboh. Segera ia mencari
pegangan yang terjangkau oleh tangannya. Semua terkejut melihat Si gadis. Kaget
dan panik. Si gadis jadi merasa tidak enak karena telah membuat khawatir.
"Nggak apa-apa. Aku hanya pusing sebentar!" kata
Si gadis diiringi dengan senyum.
Semua nampak lega mendengarnya. Si gadis segera melangkahkan
kakinya begitu kakinya telah berpijak dengan kuat.
Seseorang di pojok itu mengikuti langkah Si gadis dengan
pandangannya, hingga tubuh Si gadis tak terlihat lagi. Ia kesal pada Si gadis
yang bisa bersama mereka.
+++
Tidak ada komentar:
Posting Komentar