Rabu, 16 September 2015

Bintang Episode 3


Sang Manager

Si gadis duduk dengan tenang. Pandangan matanya menari-nari, melejit lincah, mengikuti gerak lincah Si cowok. Ia tak pernah bosan melihat permainan basket. Terlebih lagi melihat permainan Si cowok. Sesekali ia teriak memberikan semangat pada Si cowok. Di sampingnya ada dua buah kantung plastik penuh berisi minuman. Ia mengeluarkan buku diarinya dan mulai menulis sesuatu di halaman kosong dari bukunya.
"Fuh...." kak Roi menghempaskan tubuhnya di samping Si gadis. Nafasnya ngos-ngosan. Peluh menetes. Si gadis menoleh dan tersenyum padanya. Ia telah menutup buku diarinya.
Kak Roi memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain basket. Si cowok baru saja memasukkan bola ke keranjang. Kulitnya terlihat mengkilap karena keringat.
"Hah, selalu saja dia yang mencetak poin!" desah kak Roi. Ia mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah kena keringat.
Si gadis hanya tersenyum menanggapi. Ia tak melihat perubahan kak Roi yang kesal. Ia malah asyik memperhatikan Si cowok. Kak Roi terus ngeracau kesal karena merasa kalah dengan Si cowok. Si gadis tak menghiraukannya.
Kak Roi menoleh ke arah Si gadis. Wajahnya menatap lurus ke depan. Lesung pipinya terlihat jelas. Bibirnya terus menyulam senyum. Kak Roi kecewa, ternyata apa yang ia katakan tak ada satu pun yang didengarkan oleh Si gadis.
"Hah... Kau tak bosan apa, melihatnya terus?" kata kak Roi terdengar kesal.
Si gadis terkejut. Ia menunduk malu mendengar perkataan kak Roi.
"Kak Roi, apa-an sih?" kata Si gadis tetap menunduk.
Ia meraih kantung plastik di sampingnya setelah meletakkan buku diarinya di bangku tempatnya duduk.
"Mau tidak? Kalau tidak, akan aku bawa pergi!" Si gadis bangun sambil membawa kantung plastiknya.
"Hey, kau tak mau berbagi denganku?" kak Roi kesal.
"Habisnya, kak Roi, sih. Ambil sendiri!" Si gadis menyodorkan kantong plastiknya.
"Dua, ya?"
"Enak, aja! Ngrampok, apa minta sih?" Si gadis menarik kantungnya.
"Iya-iya. Gitu aja!" cengengesan. Gingsulnya terlihat. Ia mengambil sebotol.
Si gadis masih agak kesal karenanya. Ia meninggalkan kak Roi sendirian di bangku pemain. Ia menuju ke arah Si cowok dan pemain lain yang tengah beristirahat di tengah lapangan. Ada yang duduk diam, ada yang mengibas-ngibaskan pakaiannya, dan ada pula yang tiduran telentang. Mereka sudah lelah berlatih. Si gadis dengan langkah ringan menghampiri mereka.
"Ini minumannya! Kalian pasti lelah!" kata Si gadis sambil memberikan minuman pada semuanya. Semua menyambutnya dengan gembira.
"Wah... enak nih! Ada yang nyiapin minuman. Kalau begini terus, aku jadi betah berlama-lama latihan!" cerocos Melky, lalu tersenyum. Pandangan matanya mengarah ke tempat Si gadis dan Si cowok gantian.
"Hemm... kenapa tak jadi manajer kita aja? Kan seru tuh!" sahut Joe sebelum menengguk minumnya.
Si gadis tak menghiraukannya. Hingga sampailah ia pada Si cowok dan memberikan minuman padanya. Si gadis memberikannya sambil menyungging senyum dibibirnya. Si cowok tak mengatakan apa-apa pada Si gadis. Ia langsung menengguk minumnya. Sedang Si gadis, kembali duduk di bangku pemain. Kak Roi masih di situ.
"Bagaimana menurutmu, Biyan?" kata Joe.
"Iya, Biyan. Jadikan saja dia manajer kita, yang nyiapin semua keperluan kita! Lagipula kan, kita akan jauh lebih sibuk dari biasanya karena turnamen nanti!" tambah Melky.
"Ah, jangan! Nanti ngerepotin dia, lagi. Kasihan, dia!" sahut Soni. Lalu menengguk habis minumnya.
"Tapi, manajer itu penting! Kenapa tak coba kau pikirkan dulu, Biyan? Kau tak akan susah karena akan ada yang membantumu!" kata Joe menyakinkan.
Si cowok berdiri dan membawa botol minumannya yang sudah tak ada isinya lagi. Ia meninggalkan teman-temannya yag masih istirahat.
"Terserahlah!" kata Si cowok begitu agak jauh dari mereka. Mereka bisa mendengarnya dengan jelas meski Si cowok berkata dengan tidak jelas.
"Tanyakan padanya, mau apa tidak?" teriak Joe.
Si cowok tak menyahutnya. Ia meneruskan langkahnya. Di hatinya bersemi perasaan bahagia. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Ia tersenyum simpul seraya meletakkan tas di bahunya. Ia melangkah menuju ruang ganti di ikuti oleh yang lainnya.
+++
Hari cukup cerah tuk di lewati meski berawan merah. Simpang siur kendaraan lewat dijalan. Sementara itu, Si gadis dan Si cowok tengah berjalan bersama menyusuri jalan di trotoar. Di trotoar, sesak dipadati orang-orang yang baru pulang dari kerja sehingga Si gadis dan Si cowok harus mencari celah untuk melanjutkan langkah. Walau deru mesin kendaraan cukup mempekikkan telinga tetapi tak sedikit pun mengganggu kesibukan masing-masing orang yang berlalu lalang. Suara jerit burung pun tak kalah juga ikut menyumbang kebisingan kota. Sedangkan di langit, awan merah bergerombol berarakan menuju ke sang surya berada, semakin tak kelihatan. Si gadis tetap menyambut gelap dengan senyum manisnya.
Si cowok yang berjalan disampingnya diam membisu. Seolah keramaian itu tak berarti apapun, tak sedikitpun merisaukannya. Ia memiliki ketenangan tersendiri diantara keramaian kota. Ia teringat saran Joe untuk menjadikan Si gadis manajer tim basketnya. Ia pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan Joe. Dengan begitu akan ringan bebannya. Ditambah lagi, akan ada alasan untuknya bersama Si gadis terus.
Si cowok bingung mau mulai mengatakannya dari mana. Ia kesulitan untuk mengawali menyampaikan maksudnya pada Si gadis. Hingga sampai di depan gerbang rumah Si gadis, Si cowok belum juga bisa mengatakannya. Mereka menghentikan langkah tepat di depan gerbang rumahnya Si gadis.
Si gadis tersenyum pada Si cowok. Setelah itu ia membuka gerbang dan mulai melangkah masuk. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Si cowok yang memintanya untuk menjadi manajer tim basket.
Si gadis agak terkejut. Ia berbalik dan menatap Si cowok. Pandangan Si cowok tak tahu pergi kemana. Si gadis mendongkak untuk melihat wajah Si cowok. Tapi, ia malah melihat ke arah lain.
"Kau... mau kan, menjadi... manajer tim... basket?" ulang Si cowok tanpa melihat ke arah Si gadis.
Ia tak berani bertatapan mata dengan Si gadis. Lama ia tak mendengar jawaban Si gadis. Ia menundukkan pandangannya dan seketika tatapan matanya bertemu dengan mata Si gadis. Si gadis tersenyum. Binar matanya lebih terang dari bintang di langit, meluruhkan hati. Ia tak mau mengulang pertanyaannya lagi.
"Tentu saja aku mau! Jangan khawatir, aku pasti akan bekerja dengan baik. Takkan mengecewakan, aku janji!" Si gadis berkata dengan semangat. Senyumnya mengambang. Mata sipitnya semakin tak terlihat. Si cowok senyum sekilas tanpa sepengetahuan Si gadis. Ia yakin, Si gadis tak melihat senyumnya itu.
+++
Hari-hari menjadi manajer cukup menguras tenaga maupun waktu Si gadis. Walau begitu, ia tetap semangat untuk melakukannya. Sejak awal ia sudah tahu kalau pekerjaan ini akan begitu, jadi ia sudah siap dengan apa saja yang harus ia lakukan.
Di sekolah, sekali dua kali sehari ia menemui Si cowok dan tim-nya. Ia mencatat semua apa yang diperlukan tim dan menyiapkannya. Hari menuju pertandingan sudah dekat. Si gadis tak pernah absen untuk hadir saat latihan. Tak lupa, ia menyiapkan keperluan tim dan minumannya ketika latihan.
Si gadis tengah berbincang-bincang dengan semua tim basket. Namun, yang banyak bicara bukan ketuanya, tapi malah teman-temannya itu.
"Tak terasa kurang dua hari lagi kita akan bertanding. Siap nggak, ya?" kata Melky. Wajahnya terlihat tegang.
"Alah... gitu aja! Masak kau mau menyerah sebelum bertanding?" komen Soni sambil mengusap wajah Melky.
"Hey... kau ini!" sahut Melky kesal sambil menepis tangan Soni.
"Hey!" Joe melerai Melky dan Soni yang saling balas pukul.
"Besok adalah akhir dari latihan kita. Setelah itu kita akan memulai pertarungan perdana kita, jadi kita harus melakukan yang terbaik dan sekuat tenaga kita!" kata Joe sambil berdiri dan mengangkat kedua tangannya seperti sedang menyampaikan pidatonya.
Si gadis hanya tersenyum menyaksikan tingkah mereka. Sedang, Si cowok malah asyik memperhatikan awan yang bergerak pelan mengikuti angin yang membawanya. Keramaian teman-temannya seolah tak pernah ada, tak mengganggunya. Sementara itu terdengar suara pelajar-pelajar lain yang teriak-teriak memesan sesuatu pada pelayan kantin yang serabutan melayani pesanan.
Seseorang yang dipojok sedari tadi memperhatikan Si cowok dari tempatnya. Dimana pun berada ia selalu mengikuti Si cowok tanpa sepengetahuannya. Ia mencoba mendekat Si cowok, tapi selalu kedahuluan Si gadis. Selain itu, tak pernah sedetik pun Si cowok memperhatikannya. Mungkin ia tak melihatnya, katanya menenangkan diri sendiri.
"Biyaann..." teriak kak Roi dan Joe bebarengan sambil menyenggol Si cowok.
Si cowok agak terkejut dibuatnya. Ia langsung menoleh dan melihat ke teman-temannya bergantian. Matanya terhenti ketika melihat Si gadis. Lesung pipinya terlihat sebagian. Sedang yang sebagian lagi di tutupi oleh rambutnya yang sebagian di gerai. Mata sipitnya tetap terlihat berbinar selagi ia minum.
"Eh, lo malah nglamun!" kata Joe sambil menepuk bahunya. Sontak ia beralih pandang pada Joe.
Wajah Si cowok berubah, agak kesal ia. Mengganggu saja, katanya dalam hati. Ia mengambil gelas minumnya dan langsung meminumnya tanpa mengatakan apapun.
"Tapi, ada yang lebih penting nih!" kata Melky mulai serius. Semua jadi serius menanggapinya. Semua terdiam menunggu Melky melanjutkan perkataannya.
"Kita harus berterima kasih sebanyak-banyaknya pada manajer kita yang selalu setia merawat kita!" kata Melky keras seraya mendekap kedua tangannya di dada.
"Emang dia emak, lu!" sahut Soni. Ia refleks melempar pilus yang ada ditangannya. Melky cengengesan. Si gadis tersenyum menanggapi.
"Benar juga itu! Emang, Bintang berjasa banget di latihan!" sahut kak Roi sambil meletakkan lengannya dileher Si cowok, "benarkan, Biyan?" lanjut kak Roi tanpa memedulikan Si cowok yang hampir tersedak.
"Tidak, kok! Biasa saja!" sahut Si gadis agak malu. Ia merasa tersanjung dan malu. "Justru kalian yang lebih, dari pada aku! Tetap semangat, ya!" lanjut Si gadis.
"Kita semua dech! Kita semua yang terbaik. Dari pada di ributin!" kata Joe mencoba berlaku adil. Lalu meneguk habis minumnya. Yang lain tertawa dan menyetujuinya. Si cowok melepas tangan kak Roi dan berdiri. Semua terkejut dan menanyai Si cowok mau pergi kemana. Si gadis menggigit sedotannya.
"Nggak tahu!" sahut Si cowok singkat.
Semua kesal pada Si cowok. Hanya itu saja, pikir mereka. Diam sih diam, tapi itu keterlaluan, nggak jelas gitu, kata Joe kesal pada diri sendiri. Si gadis memperhatikan Si cowok yang hanya terlihat punggungnya. Pandangannya beralih pada gelas yang ada di depannya begitu tak terlihat lagi. Ia melepas gigitannya lalu tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu, ya!" kata Si gadis lalu berdiri.
Bumi bergetar. Tubuhnya seolah mau roboh. Segera ia mencari pegangan yang terjangkau oleh tangannya. Semua terkejut melihat Si gadis. Kaget dan panik. Si gadis jadi merasa tidak enak karena telah membuat khawatir.
"Nggak apa-apa. Aku hanya pusing sebentar!" kata Si gadis diiringi dengan senyum.
Semua nampak lega mendengarnya. Si gadis segera melangkahkan kakinya begitu kakinya telah berpijak dengan kuat.
Seseorang di pojok itu mengikuti langkah Si gadis dengan pandangannya, hingga tubuh Si gadis tak terlihat lagi. Ia kesal pada Si gadis yang bisa bersama mereka.
+++
 Back

Tidak ada komentar:

Posting Komentar