Novel Bintang Episode 2
Kemenangan
Hati
"Kenapa kau berkata begitu kepadanya?" kata Si
dokter lirih, seperti menggumam, sambil menutup pintu kamar Si gadis. Ia
melihat sekilas pada Si cowok lalu duduk di sampingnya. Pandangannya melihat ke
luar.
Si cowok tak mengatakan apapun untuk menanggapi pertanyaan
Si dokter. Si dokter menengok ke arah Si cowok sekilas. Tatapannya terlihat
kosong. Tak sedikit pun ia menunjukkan rasa hormatnya pada orang yang
mengajaknya bicara. Apa ia tak menyadari adanya kehadiran orang lain? pikir Si
dokter.
"Kenapa tak menuruti keinginannya? Barangkali saat ini
adalah kesempatan....." kata Si dokter tertahan. Pandangannya tertuju pada
segerombol awan berarak dilangit biru yang dipermainkan oleh angin. Sesekali
terdengar suara riuh burung diatas pohon.
"Itulah.... yang..ku... takutkan!" kata Si cowok
hampir tak kedengaran. Ia berkata tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Si dokter agak tersentak mendengar perkataan Si cowok. Ia
memalingkan mukanya ke Si cowok. Beberapa waktu lamanya ia memperhatikan air muka
Si cowok yang dilihatnya dari samping. Ia bisa mengerti kalau Si cowok tengah
mengkhawatirkan Si gadis. Ia tersenyum tak tahu apa maksudnya seraya
memalingkan pandangannya ke luar cendela. Terlihat dua ekor burung pipit yang
datang dan hinggap di dahan pohon mangga.
"Aku jadi mengerti!" kata Si dokter kemudian. Si
cowok tak mengerti ucapan Si dokter. Ia tak mau ambil pusing dengannya. Lalu,
Si dokter melanjutkan. "Ternyata... apa yang dikatakannya memang terbukti
benar. Setelah.... aku bertemu denganmu!" kata Si dokter tanpa melihat Si
cowok. "Kau istimewa!" katanya datar. Pandangannya tak lepas dari dua
ekor burung pipit yang tengah kejar-kejaran di dahan pohon.
Dua burung pipit itu terbang ke langit. Si cowok tersenyum
kecut. Pandangan matanya menatap lurus ke depan, pada tempat burung pipit itu
menghilang. Angannya terbawa burung yang terbang ke langit itu.
"Kau salah!" kata Si cowok. Terdengar beku
ditelinga. "Tak sedikitpun aku..." katanya terhenti. Seketika
pandangannya kosong. Ia teringat kembali saat dulu. Hatinya terasa tergores.
Perih. Menyadari diri tak pernah memberi apa-apa pada Si gadis. Hanya
keheningan dan sikap dingin yang ia berikan padanya. Si dokter terkejut
mendengar pengakuan Si cowok.
"Aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai
kata-kata menjadi karangan bunga, yang akan membuat wanita merasa tersanjung
karenanya. Atau, pria yang suka ngobral kata cinta atau sayang.
Romantis..." Si cowok menggumam. Terlihat oleh matanya bayangan Si gadis
tersenyum manis padanya. Tapi terasa pahit karena hanya bayangan masa lalu
saja.
Si dokter tersenyum simpul karenanya. Ia tak menyangka Si
cowok akan langsung berterus terang padanya. Lalu ia asyik menyaksikan dua ekor
burung merpati yang baru datang, yang melompat ke dahan-dahan dengan lincah.
"Dan aku, bukanlah pria yang baik seperti yang ia kira.
Ia salah menilaiku!" Si cowok menambah. Tatapannya masih lurus ke depan
tak jelas apa yang dilihat oleh matanya.
"Benarkah?" Si dokter menyanggah. "Bukanya
kau adalah seorang pria sempurna? Pria yang menjadi dambaan setiap wanita?
Banyak wanita yang mengelilingimu." Argumen Si dokter.
Ia berkata demikian karena apa yang telah dikatakan oleh Si
gadis padanya. Tapi, setelah bertemu dengannya langsung, ia jadi tahu sendiri
kalau apa yang dikatakan oleh Si gadis itu benar adanya. Sudah pasti kalau ia
banyak disukai gadis-gadis karena ia nampak populer. Tapi, sepertinya ia memang
tak pandai berkata-kata, nilainya. Lalu, apa yang di sukai Si gadis darinya?
tanyanya.
"Aku tak percaya mendengarnya. Tapi, kau memiliki
seseorang yang amat mencintaimu. Bagaimana bisa kau mendapatkan wanita seperti
itu? Andai ada seseorang yang mencintaiku seperti itu, pasti hidupku akan
terasa lebih berarti. Pasti menyenangkan ada seseorang yang membutuhkan!"
ungkap Si dokter. Ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai. Ia belum
pernah mengalami hal seperti itu. Kisah cintanya dulu kandas sebelum berlayar.
Ia lebih memilih untuk fokus pada belajarnya dan mengabaikan cinta tulus
seorang wanita padanya. Akhirnya, tanpa ia sadari, ia telah melukainya dan juga
melukai dirinya sendiri. Hanya kesepian yang ia dapatkan. Kini penyesalan yang
ia terima, karena wanita itu kini sudah pergi jauh darinya.
"Kenapa tak kau saja yang melakukannya?" kata Si
cowok datar. Si dokter tak langsung menjawabnya. Si cowok menyesal telah
mengatakan itu. Bagaimana kalau...
"Andai aku bisa!" Si dokter menyandarkan
punggungnya ke kursi.
Si cowok menoleh sekilas ke arah Si dokter. Ia bisa melihat
perubahan air muka Si dokter. Si dokter mendesah. Si cowok merasa tenang
karenanya.
"Kau... diam-diam menyukainya! Kenapa kau tak mengambil
kesempatan?" pancing Si cowok.
"Andai aku yang ada dihatinya, pasti sudah sejak dulu
aku sudah melakukannya. Sayang sekali, hatinya telah tertutup!" akhiri Si
dokter.
Entah mengapa Si cowok merasa lega setelah mendengar
pengakuan Si dokter. Meski bukan langsung dari Si gadis, ia merasa bahagia.
Ingin rasanya waktu kan terulang lagi, untuk memperbaiki apa yang telah
terjadi. Tapi, keinginan itu kini tinggal harapan yang entah akan kesampaian
atau tidak. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu sang waktu datang
menghampiri. Tapi, harus sesuai dengan apa yang diinginkannya, harapnya.
+++
Tidak ada komentar:
Posting Komentar