Rabu, 16 September 2015

Bintang Prolog



PROLOG

"Apa ini?" menunjukkan selembar kertas pada Si gadis. Matanya lurus bertatapan dengan Si gadis. Serasa ada yang menghujamkan panah membara dihatinya.
Si gadis terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Si cowok. Ia tak tahu apa yang di maksudnya. Ia melangkah mendekatinya dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Si cowok. Ia kesulitan untuk menjawab. Bibirnya terasa kaku.
"I... itu... bukan apa-apa!" kata Si gadis menyembunyikan kepanikannya.
Si cowok menatapnya tajam. Ia tenggelam dalam pandangan Si cowok. Setiap gerak-geriknya terlihat dengan jelas. Ia jadi salah tingkah.
“Itu salah. Jangan khawatir, aku baik-baik saja!” Si gadis mencoba menghibur dengan tetap menunjukkan senyumnya, yang terasa pahit. Kata-kata bergerumul di bibirnya hingga tak tertuliskan. Lidahnya tak bisa menangkapnya dan mengungkapkannya. Sehingga hanya kepanikan yang tercipta. Tapi matanya tak bisa berbohong. Matanya berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Si cowok lebih lama lagi. Ia mencoba mengalihkan pandangan matanya dari Si cowok. Ia bingung harus mengatakan apa.
Si gadis tahu kalau kata-kata takkan cukup untuk menenangkan Si cowok. Ia bingung harus berkata apa biar Si cowok percaya dan tak mengkhawatirkannya. Tapi, bukti sudah ada ditangannya. Si gadis memutar otak untuk mencari alasan yang lain. Ia tak bisa untuk terus bertatapan mata dengan Si cowok. Tapi, pandangan Si cowok terus-terusan mengejarnya. Pandangannya tak tentu arah selagi ia berpikir. Namun Si cowok memegang kepala Si gadis agar berhenti dan mau menatapnya. Otaknya terasa beku karena tatapan teduh Si cowok. Ia menahan air matanya yang akan jatuh.
Tapi, tak disangka, tiba-tiba Si cowok merengkuh tubuh Si gadis dan memeluknya erat. Si gadis terkejut, hampir sesak nafas ia. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia ingin melepaskan diri dan memberanikan diri menatap Si cowok untuk menjelaskan semuanya. Tapi apa daya. Ia tak mampu untuk memandu tubuhny yang masih terasa lemas. Si gadis ingin menenangkan Si cowok. Tapi, otak terasa tumpul. Lidah terasa kelu. Rangkaian kata-katanya luruh. Ia tak tau apa yang tengah dirasakan Si cowok kini. Untuk mengetahui apa yang tengah dirasakannya saja ia tak tahu apa. Ia  tak bisa merasakan perasaannya sendiri.
"Jangan tinggalkan aku!" kata Si cowok lirih.
Serasa jantung berhenti berdetak. Ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa ia salah dengar? Ia tak yakin dengan pendengarannya. Kali pertama Si cowok mengungkap perasaannya. Si gadis terenyuh. Matanya berkaca-kaca. Air memenuhi pelupuk matanya. Ia rela terhenti selamanya jika itu memang benar. Tak percaya kini salju telah luruh. Si gadis membalas pelukan Si cowok. Ia memeluknya erat, membalas kasih Si cowok. Tak ingin rasanya berakhir sampai disini. Ia tak ingin berakhir sampai disini. Ia tak ingin semuanya selesai setelah pelukan ini dilepaskan. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tak ingin waktu seegera berlalu.
"Aku... takkan kemana-mana. Aku... takkan pergi. Aku... disini, bersama...mu, selamanya!" kata Si gadis menghibur. Suaranya terdengar bergetar. Ia tak yakin dengan kata-katanya. Ia tersenyum kecut. Air matanya menetes tatkala Si gadis memejamkan matanya.
Si cowok diam membisu. Tak ingin ia melepas Si gadis. Tak ingin ia mengakhiri pelukannya. Ia ingin terus merasakan detak jantung Si gadis. Ia ingin terus mendengar desah nafas Si gadis. Ia tak siap untuk kehilangan Si gadis, untuk selamanya. Takkan pernah siap!
+++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar